Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Indonesia Peringkat 2 Dunia Kasus Campak, IDAI Serukan Darurat Imunisasi

 Gana Buana
10/3/2026 21:33
Indonesia Peringkat 2 Dunia Kasus Campak, IDAI Serukan Darurat Imunisasi
Indonesia Peringkat 2 Dunia Kasus Campak.(Freepik)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) membunyikan alarm keras terkait lonjakan kasus campak yang kian mengkhawatirkan di awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru, Indonesia kini bertengger di peringkat kedua dunia dengan kasus campak tertinggi, sebuah realitas pahit yang memicu desakan aksi darurat dari berbagai pihak.

Hingga minggu ketujuh tahun 2026, tercatat sebanyak 8.224 kasus suspek campak di tanah air. Dari jumlah tersebut, 572 kasus telah terkonfirmasi melalui laboratorium dengan angka kematian mencapai 4 jiwa.

Kondisi ini merupakan kelanjutan dari krisis tahun 2025 yang mencatatkan 63.769 kasus suspek dan 69 kematian.

Indonesia di Bawah Bayang-Bayang Wabah Global

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa situasi ini memerlukan langkah luar biasa. Merujuk data WHO yang dirilis CDC per Februari 2026, Indonesia menempati urutan kedua dunia dengan 10.744 kasus, berada di bawah Yaman namun lebih tinggi dibandingkan India.

“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi. Kematian akibat campak adalah kematian yang seharusnya tidak terjadi,” tegas Piprim dilansir dari Antara, Selasa (10/3).

Celah Imunisasi dan Kegagalan Herd Immunity

Pemicu utama ledakan kasus ini adalah rendahnya cakupan imunisasi campak-rubela dosis kedua (MR2) yang baru menyentuh angka 82,3% pada 2024. Angka ini masih jauh dari target nasional sebesar 95% yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi, menjelaskan bahwa pandemi covid-19 telah menciptakan "kantong-kantong kerentanan" akibat disrupsi layanan imunisasi rutin.

Ia menekankan bahwa vaksin MR yang digunakan di Indonesia aman, efektif, dan telah melalui evaluasi ketat BPOM.

6 Langkah Strategis IDAI Hadapi KLB Campak

  1. Imunisasi Kejar: Menyasar anak usia 9 bulan hingga di bawah 15 tahun.
  2. Penguatan Surveilans: Deteksi dini dan pelaporan real-time kasus suspek.
  3. Kapasitas Laboratorium: Mempercepat diagnosis pasti campak dan rubela.
  4. Intervensi Vitamin A: Pemberian Vitamin A yang terbukti menurunkan risiko kematian hingga 50%.
  5. Isolasi Ketat: Pasien wajib isolasi 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul.
  6. Edukasi Masif: Melawan hoaks keamanan vaksin di masyarakat.

Risiko Komplikasi Mematikan

IDAI mengingatkan orang tua bahwa campak bukan sekadar ruam biasa. Tanpa penanganan tepat, virus ini dapat memicu komplikasi fatal seperti pneumonia (radang paru), ensefalitis (radang otak), hingga kematian.

Mengingat belum adanya antivirus spesifik, pencegahan melalui imunisasi menjadi satu-satunya tameng utama.

“Pemerintah telah menyediakan vaksin secara gratis, tenaga kesehatan siap melayani. Sekarang tinggal kesadaran kita sebagai bangsa. Jangan tunda imunisasi, jangan abaikan gejala,” pungkas Piprim. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya