Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Platform Batin Bantu Ganggu Kesehatan Mental Anak Muda

Wisnu Arto Subari
17/12/2025 11:28
Platform Batin Bantu Ganggu Kesehatan Mental Anak Muda
(MI/HO)

SAAT sang istri mengalami baby blues pascamelahirkan, Muhammad Ikhtiary Gilang Gumelar tidak hanya melihat perjuangan istrinya, tetapi juga menyaksikan langsung betapa rumitnya mengakses layanan kesehatan mental di Indonesia. Ini menjadi titik awal perjalanan menciptakan solusi kesehatan mental bagi jutaan anak muda Indonesia. 

"Saya ingat betul bagaimana istri saya berjuang mencari bantuan. Antrean konseling yang panjang, biaya yang tidak sedikit, ditambah stigma sosial yang membuat dia semakin tertekan," kenang Gilang, pendiri dan CEO Batin yang berbasis di Yogyakarta, dalam keterangan resmi, Rabu (17/12). "Saat itu saya berpikir, kalau kami yang tinggal di kota besar saja kesulitan, bagaimana dengan jutaan orang lain di seluruh Indonesia yang bahkan tidak tahu harus mulai dari mana?" 

Gilang mulai meneliti lebih dalam tentang kondisi kesehatan mental di Indonesia. Fakta yang ia temukan mengejutkan yaitu ribuan orang muda, terutama gen Z dan milenial, mengalami kecemasan, depresi, dan berbagai masalah mental lain tetapi memilih diam karena takut dihakimi, tidak tahu cara mencari bantuan, atau terhalang oleh biaya yang mahal. 

Dari kegelisahan itulah lahir Batin sebagai platform kesehatan mental berbasis kecerdasan buatan yang kini menjadi teman curhat lebih dari 30 ribu generasi muda di hampir 38 provinsi Indonesia. Di tengah meningkatnya tekanan hidup yang dialami generasi muda Indonesia, pihaknya meluncurkan kampanye bertajuk Batin hadir sebagai ruang aman untuk bercerita. Ini menekankan pentingnya akses cepat, aman, dan personal terhadap layanan kesehatan mental melalui pemanfaatan teknologi AI. 

"Generasi muda hari ini menghadapi tantangan yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka menghadapi tekanan akademik yang tinggi, kompetisi kerja yang ketat, tekanan media sosial, dan ekspektasi sosial yang tidak realistis," jelas Gilang. "Mereka butuh tempat untuk bercerita tanpa takut, butuh respons yang cepat, dan butuh solusi yang tidak menguras kantong. Di sinilah teknologi AI bisa menjadi game changer."  (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik