Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

BRIN Perkuat Perlindungan Anak dan Gizi Balita Pascabanjir Aceh

Atalya Puspa    
17/12/2025 10:34
BRIN Perkuat Perlindungan Anak dan Gizi Balita Pascabanjir Aceh
Ilustrasi(Antara)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Task Force Supporting Penanggulangan Bencana bidang kesehatan memperkuat upaya perlindungan anak dan pemenuhan gizi balita pascabanjir bandang di Kabupaten Bireuen, Aceh. Pendampingan dilakukan langsung di sejumlah posko pengungsian dengan fokus pada kesehatan jiwa anak, perlindungan kelompok rentan, serta pemenuhan gizi bayi dan balita.

Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, Feni Betriana, mengungkapkan kondisi anak-anak pengungsi masih memprihatinkan. Sejak banjir bandang melanda, banyak anak usia sekolah terpaksa berhenti belajar karena perlengkapan sekolah mereka hanyut atau rusak terendam banjir.

“Di beberapa posko, anak-anak belum mendapatkan terapi psikososial maupun alat tulis untuk melanjutkan proses belajar. Bantuan yang datang sejauh ini masih didominasi bahan pangan pokok dan obat-obatan,” ujar Feni.

Ia menilai, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental dan perkembangan anak. Karena itu, tim kesehatan BRIN mendorong pendekatan alternatif berupa terapi bermain dan dukungan psikologis bagi anak-anak di posko pengungsian.

“Anak-anak perlu diajak bermain bersama, belajar dan mewarnai, mendengarkan dongeng, serta bernyanyi agar trauma pascabencana dapat berkurang,” jelasnya.

Selain aspek kesehatan jiwa, Task Force BRIN juga memberikan perhatian serius pada pemenuhan gizi bayi dan balita. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menginisiasi Dapur PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak) berbasis masyarakat di posko pengungsian Gampong Blang Panjoeng, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, pada Minggu (14/12/2025).

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Slamet Riyanto atau Anto, menjelaskan bahwa asesmen cepat di lapangan menemukan bayi usia 6–23 bulan di beberapa posko mengonsumsi makanan orang dewasa. Hal ini terjadi karena keterbatasan bahan pangan, air bersih, dan peralatan memasak akibat banjir.

“Padahal, balita membutuhkan makanan pendamping ASI dengan tekstur dan komposisi khusus agar kebutuhan gizinya terpenuhi,” kata Anto.

Dapur PMBA diinisiasi sebagai solusi gotong royong di pengungsian agar balita usia 6–23 bulan tetap memperoleh asupan gizi yang sesuai. Posko Gampong Blang Panjoeng dipilih karena aksesnya relatif mudah, memiliki sekitar 30 balita sebagai sasaran, serta didukung dapur umum Kementerian Sosial yang memudahkan ketersediaan bahan pangan.

Pelaksanaan dapur PMBA dilakukan melalui koordinasi dengan keuchik, bidan desa, koordinator dapur, dan kader kesehatan setempat. Tim BRIN juga menyiapkan peralatan pengolahan MP-ASI melalui skema donasi serta menyusun pedoman singkat MP-ASI dalam kondisi bencana.

“Kami memfasilitasi diskusi dengan kader pelaksana tanpa paksaan. Skenario pelaksanaan sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat,” ujar Anto.

Uji coba penyiapan, pemorsian, pengemasan, hingga distribusi MP-ASI telah dilakukan. Dapur PMBA direncanakan mulai beroperasi pada 15 Desember 2025 dengan dua kali waktu makan per hari. Ke depan, pelaksanaannya akan didampingi Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) setempat dan dimonitor oleh Dinas Kesehatan.

Selain intervensi gizi, Task Force BRIN juga melakukan edukasi pemberian makan bayi dan anak, praktik pembuatan makanan balita di posko pengungsian, serta pelayanan kesehatan dasar di Kecamatan Peusangan.

“Kami berharap intervensi ini tidak hanya menjawab kebutuhan darurat, tetapi juga menjadi model penanganan kesehatan pascabencana yang berkelanjutan dan berbasis komunitas,” pungkas Anto. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya