Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
Kepala Posko Wilayah (Kaposwil) Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA, memimpin Rapat Konsolidasi Perdana pascaterbitnya Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 300.2.8-24A Tahun 2026 tentang Sekretariat Tim Pelaksana Satgas PRR Pascabencana Alam di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Rapat yang digelar di kompleks Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Aceh tersebut secara khusus membahas klaster infrastruktur, mencakup jalan, jembatan permanen, jembatan bailey, serta infrastruktur sungai seperti irigasi, daerah aliran sungai (DAS), pengaman sungai, pengaman pantai, hingga sumur bor. Forum ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum, jajaran kementerian terkait, perwakilan Pemerintah Aceh, DPRA, Korsahli Pangdam Iskandar Muda, serta kepala Bappeda dan dinas teknis dari 18 kabupaten/kota terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh.
"Validasi dan integrasi data menjadi kunci percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Harus ada keselarasan antara data Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna), Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P), hingga rencana aksi," ujar Safrizal.
Menurutnya, pembagian kewenangan antara pemerintah kabupaten/kota, provinsi, dan pusat harus jelas agar pelaksanaan dapat dipercepat secara efektif.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian PU, Wida Nurfaida, memaparkan bahwa kementeriannya telah memobilisasi 1.377 personel, mengerahkan 44.954 tenaga kerja—di mana lebih dari 30 ribu merupakan tenaga lokal melalui skema padat karya—serta menurunkan 1.937 alat berat untuk pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera.
"Rencana Induk dan Rencana Aksi Kementerian PU telah rampung, dengan usulan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pada Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp39,49 triliun, sejalan dengan arahan Build Back Better," tutur Nurfaida.
Berdasarkan rekapitulasi data Posko Satgas Wilayah Aceh dari Jitupasna, klaster infrastruktur mencakup 2.303 ruas jalan, yang terdiri atas 67 titik jalan nasional, 87 titik jalan provinsi, dan 2.149 titik jalan kabupaten/kota. Untuk jembatan permanen, tercatat 1.091 unit dengan rincian 34 unit nasional, 98 unit provinsi, dan 959 unit kabupaten/kota. Selain itu, terdapat 59 unit jembatan bailey, dengan 18 unit telah selesai dibangun, enam unit dalam proses pembangunan, dan 35 unit masih dalam tahap perencanaan.
Di sektor infrastruktur sungai, rehabilitasi dan rekonstruksi meliputi 892 unit irigasi, 68 kegiatan normalisasi DAS, 612 pengaman sungai, 31 pengaman pantai, serta 44 unit sumur bor. Safrizal kembali menekankan pentingnya integrasi rapat lintas sektor dan satu data untuk mencegah tumpang tindih pekerjaan di lapangan. Menurutnya, overlay data baik long list maupun short list menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan.
Mengacu pada direktif Presiden dan Kasatgas Nasional PRR, dana perimbangan telah dikembalikan ke daerah, sehingga dukungan pembiayaan tersedia di tiap level pemerintahan. Safrizal menjelaskan bahwa meskipun status tanggap darurat hanya berlaku di beberapa kabupaten, penetapan masa tanggap darurat di tingkat provinsi memungkinkan mekanisme pengadaan dan pelaksanaan anggaran menggunakan skema kedaruratan. (E-3)
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan bencana Aceh melalui pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak.
Pemerintah pusat harus segera menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) tentang diskresi hukum guna mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI memberikan layanan dukungan psikososial bagi para siswa penyintas banjir bandang dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Mendagri Tito Karnavian meminta praja IPDN menerapkan ilmu pemerintahan untuk membantu pemulihan Aceh Tamiang pascabencana.
Mendagri Tito Karnavian mengirim 1.132 praja IPDN untuk mempercepat pemulihan pemerintahan dan layanan publik pascabencana di Aceh Tamiang.
NASIB korban banjir di Provinsi Aceh hingga Rabu (28/1) belum ada perubahan berarti. Sudah 63 hari para penyintas bencana dahsyat itu masih dipenuhi lumpur dalam rumah.
MINGGU (25/1), menjelang siang itu jarum jam menunjukkan sekitar pukul 11.50 WIB. Suasana ramah dan bersahabat sangat terasa oleh hembusan angin sawah sepoi-sepoi.
KOLABORASI lintas BUMN dan pemangku kepentingan menjadi kunci dalam mempercepat pemulihan masyarakat pascabencana banjir yang melanda Aceh.
Pencabutan izin 28 perusahaan oleh pemerintah tidak berhenti pada sanksi administratif.
Fokus pembersihan oleh aktivis 98 di Aceh Utara menyasar pada pekarangan Masjid Assa'adah, Meunasah (balai desa), serta akses lorong desa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved