Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
PAGI hari nan sejuk itu jarum jam menunjukkan sekitar pukul 06.00 Wib, Sabtu (21/3). Suara takbiran di Masjid Jami'k Al-Mabrur, menggema mengalun merdu menembus penjuru perkampungan Cot Meurak Blang, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.
Seiring mentari pagi terbit menyinari bumi, tiga orang lelaki saling berganti mengumandangkan takbiran memecah sepi. Mereka adalah Teungku Muhammad Khalid, Teungku Rajuddin dan Teungku Husni Syamaun yang bertujuan untuk menyemarakkan pagi Hari Raya Idulfitri 1447 H (Lebaran 21 Maret 2026 M).
Satu persatu warga Desa Cot Meurak Blang keluar membedah lorong kecil dan menyusuri tepi sawah untuk meramaikan jemaah Salat Idulfitri di lokasi darurat bekas Masjid Jami'k Al-Mabrur.
Itu merupakan Salat Idulfitri pertama, setelah bangunan utama Masjid Al-Mabrur berkontruksi beton permanen itu hancur dan hanyut ditelan sungai ganas Krueng Batee Iliek saat dilanda banjir besar Sumatra 27 November 2025 lalu.
Ironisnya masjid utama berkontruksi beton kokoh yang sebelumnya seluas berkisar 20x30 meter, di lokasi itu kini dibangun kembali bentuk darurat berbahan kayu bekas dan atap seng hanya sekitar 5x7 meter. Itupun dibangun dalam sungai atau bantaran pantai dimana disampingnya air mengalir.
Kalau biasanya kita masuk masjid harus naik tangga, sedangkan masjid darurat ini harus turun ke bawah pantai sungai Krueng Batee Iliek. Itu karena lokasi lahan masjid yang sebelumnya luas berkisar 2 hektare, habis tergerus arus deras kala itu. Jarak lokasi masjid ini dengan Jalur Nasional Banda Aceh-Medan sekitar 1 km sebelah utara atau persisnya sebelah utara jembatan rangka baja Sungai Krueng Batee Iliek.
"Kini tersisa sekitar 5x7 meter, dari sisa lantai dua yang rubu ke bawah. Dari itu kami jadikan tempat salat berjemaah rawatib 5 waktu dengan membangun atap seng. Menjelang lebaran bergotong royong membuat pelataran belakang supaya lebih banyak muat jemaah Salat Idulfitri," Kata H Amiruddin Mahmud, Ketua BKM Masjid Al-Mabrur Cot Meurak Blang, kepada Media Indonesia, Kamis (26/3).
Dikatakan Amiruddin Mahmud, meskipun kondisi masjid sangat darurat dan bahkan kalau sempat air sungai meluap rawan terbawa arus, tapi antusias warga untuk menunaikan salat eid sangat tinggi. Ratusan jemaah peria serta kaum hawa rela berdiri serta duduk mendengar khutbah di pelataran terbuka tanpa dinding dan beratap langit.
Hanya khatib di mimbar khutbah dan sebagian kecil kaum lelaki berada di tempat beratap ukuran sekitar 5x7 meter. Selebihnya duduk dan sujud pada terpal dengan sajadah seadanya.
Bahkan bagian yang tidak beratap itu posisinya juga lebih rendah dan sudah menjadi pantai sungai. Sebagian jemaah eid itu membawa sajadah sediri dari rumah masing-masing.
"Sudah empat bulan banjir berlalu, tidak ada satu sepersen pun bantuan dari pemerintah. Demi terlaksana jemaah salat lima waktu dan Idulfitri, panitia hanya berharap sedekah patungan sesama dan uluran tangan donatur atau warga di perantauan" tutur Amiruddin Mahmud, menjelaskan.
Meskipun luput dari perhatian pemerintah, warga tidak tega tempat sujud kepada Sang Maha Pemurah itu terbiarkan begitu saja. Panitia sedang melakukan berbagai upaya tempat mulia yang disebut Rumah Allah tersebut segera dibangun kembali pada lokasi berbeda dan tidak lagi di lahan yang sudah menjadi pantai aliran sungai itu.
"Lokasinya sudah ada di kebun waqaf beberapa orang masyarakat. Dalam waktu dekan ini bergotong royong pembersihan. Untuk sumber dana pembangunan kami mohon uluran tangan donatur dari mana saja. Silahkan melakukan tranfer melalui Bank Aceh nomor rekening 102-02.40.005617-0 atas nama Panitia Pembangunanasjid Jami'k Al-Mabrur. Informasi lebih lanjut boleh kontak nomor telepon 0852 6041 6444 atau 0852 7737 8019," tutur Muriza, tokoh masyarakat Desa Cot Meurak Blang, Samalanga.
Farhan Hamid, tokoh masyarakat Aceh yang juga mantan anggota DPR RI, sebelumnya melalui Media Indonesia mengatakan, pemerintah pusat sudah terlanjur tidak menjadikan banjir Sumatra menjadi status bencana Nasional. Lebih lucu lagi mengaku siap dan memiliki kemampuan melakukan rehab rekon sendiri tanpa perlu mengharap bantuan negara lain.
"Ternyata sekarang apa yang dijanjikan itu sama sekali tidak terbukti. Recovery tampak terseok-seok sangat lamban. Sedangkan kondisi masyarakat korban sangat memperihatinkan. Selain tempat tinggalnya sangat tidak manusiawi, roda perekonomian lumpuh dan pendidikan sangat menyedihkan" tutur tokoh kelahiran Samalanga yang ikut terlibat pejabat sebagai BRR pasca tsunami Aceh dan mantan juru runding RI-GAM kala itu.
Sedangkan Budayawan dari Universitas Syiah Kuala, M Adli Abdullah menuturkan, penanganan paska banjir Sumatra masih sangat menyedihkan. Sudah empat bulan berlalu tidak terhitung penyintas harus menjalani ibadah puasa, tarawih dan sahur di bawah tenda pengungsian.
Lalu ingin beribadah lebih nyaman saat bulan Ramadan, ternyata masjid merekan harus di tempat darurat dalam sungai dekat air mengalir yang sangat rawan hanyut bila tiba-tiba air bah meluap. Mereka seperti pasrah tidak tahu harus mengadu kemana laksana terjepit dan terhimpit derita berkelanjutan.
"Sering pulang dan turun ke lapangan. Betapa lirih tatkala ibu ibu itu menatap hampa orang -orang dalam mobil yang melewati permukiman mereka yang terbalut lumpur derita. Mereka berharap ada secuil bantuan yang dibawa.
Alangkah sesak nafas kita saat memandang bocah-bocah yang dulunya cerdas, kini tidak lagi ceria. Entah karena menerawang masa depan mereka yang tiada harapan," tambah Adli Abdullah yang juga sejarawan itu. (H-2)
Sekretaris BNPP RI, Komjen Pol. Makhruzi Rahman melakukan peninjauan ke wilayah terdampak banjir bandang di Kampung Landuh, Kabupaten Aceh Tamiang
Puluhan mahasiswa dari Universitas Almuslim turun langsung membantu masyarakat memulihkan sektor pertanian pascabencana banjir Aceh
WARGA korban banjir di kawasan Provinsi Aceh hingga kini masih harus menjalani hari-hari yang berat.
Kegiatan sosial untuk membantu korban banjir di Aceh digelar dalam rangka mengisi bulan suci Ramadan.
JICT menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp300 juta untuk membantu penanganan bencana banjir bandang dan longsor di Aceh serta Sumatra Utara.
Paket bantuan natura berupa pengharum ruangan senilai Rp116.867.500 yang akan disalurkan di wilayah Jakarta sebanyak 100 masjid, dan Sumatra 50 masjid.
Anak-anak diajak menyelami nilai-nilai penting seperti sikap saling menolong, rasa syukur, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama manusia lewat dongeng.
Penguatan inisiatif publik dan rumah ibadah sangat krusial dalam mewujudkan kedaulatan energi bersih.
Menjelang Ramadan, kegiatan bersih-bersih masjid mulai marak dilakukan warga untuk menyiapkan tempat ibadah yang lebih higienis dan nyaman.
Baznas kembali meluncurkan program Masjid dan Musala Bersih, Segar, dan Rapi (Berseri) dalam rangka menyambut Ramadan 1447 H/2026 M.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved