Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kerusakan dan Penanganan Bencana Siklon Senyar: Indonesia vs Malaysia vs Thailand

Media Indonesia
16/12/2025 20:10
Kerusakan dan Penanganan Bencana Siklon Senyar: Indonesia vs Malaysia vs Thailand
Warga melintasi jalan akses antardesa pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (7/12/2025).(Antara/ Erlangga Bregas)

Siklon Tropis Senyar November 2025 memicu bencana masif di Asia Tenggara, mencatatkan korban jiwa tertinggi di Indonesia (mencapai 1.053 jiwa per 16 Desember) akibat kombinasi hujan ekstrem dan kerusakan lingkungan. Sementara, korban jiwa akibat Siklon Senyar di Malaysia dan Thailand relatif rendah (<30 jiwa).

 

Skala kerusakan dari banjir Sumatra diperparah kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang. Sejumlah desa di Aceh yang kini menjadi lautan kayu gelondongan adalah Tanjung Karang, Lintang Bawah, dan Sukajadi di Aceh Tamiang, dan Gampong Gedumbak di Aceh Utara. Sementara, di Sumatra Utara (Sumut) terjangan kayu gelondongan terjadi di Desa Angoli dan Aek Garoga di Batangtoru.

 

                                 Bencana Siklon Senyar di Indonesia vs Malaysia vs Thailand

Indikator

Indonesia (Sumatera)

Malaysia (Kelantan, Pahang)

Thailand (Songkhla, Narathiwat)

Peringatan Dini (BMKG/Met Dept.)

Awal (H-3): Peringatan dini sudah dikeluarkan 3 hari sebelum landfall (curah hujan ekstrem).

Awal (H-3): Peringatan dini curah hujan lebat diumumkan secara luas.

Awal (H-3): Peringatan banjir dan evakuasi diumumkan dini oleh Disaster Prevention Dept.

Wilayah Terdampak

3 Provinsi (Aceh, Sumut, Sumbar) dengan ratusan desa.

7 Negara Bagian (Terutama Kelantan, Terengganu, Pahang, Perak).

n/a

Fokus Isolasi

Wilayah pegunungan di hulu yang terpotong oleh longsor dan banjir bandang.

Wilayah pedesaan di dataran rendah yang terendam air sungai.

n/a

Korban Jiwa (Total/Estimasi)

Tertinggi (1.053 jiwa, 400+ hilang)

Terendah (<10 jiwa)

Rendah (<20 jiwa)

Jumlah Pengungsi (Puncak)

Tertinggi (606.040 mengungsi)

Rendah (>34.000 jiwa mengungsi)

Rendah (<50.000 jiwa mengungsi)

Kecepatan Evakuasi

Lambat/Mandiri: Evakuasi sering terlambat dan terhambat oleh kerusakan lingkungan yang memicu banjir bandang yang cepat.

Cepat/Terpusat: Evakuasi yang terorganisir, menggunakan Civil Defence Force untuk memindahkan puluhan ribu orang ke pusat-pusat bantuan.

Sistematis: Cepat melakukan evakuasi berbasis sistem peringatan dini di wilayah rawan banjir langganan.

Respons Logistik (H+7)

Terganggu: Distribusi logistik terhambat parah karena akses darat putus (jembatan/longsor) di ratusan titik, membutuhkan banyak helikopter.

Efisien: Logistik disalurkan dengan relatif cepat oleh Angkatan Bersenjata ke pusat-pusat penampungan (sekolah/masjid).

Fokus Pesisir: Respons logistik cepat ke wilayah pesisir. Akses tidak terputus separah Indonesia.

Pembersihan Jalan Utama

Jaringan jalan nasional (Lintas Sumatera) lumpuh parah, perbaikan lebih dari 14 hari di banyak segmen.

Jalan utama nasional/tol relatif cepat dibuka kembali dalam 7-10 hari karena kerusakan tidak seluas Indonesia.

Akses jalan dapat dibuka, kurang dari 10 hari pascabencana.

 

 

Disparitas kerentanan bencana di Asia Tenggara:

  • Indonesia (Faktor Ekologis): Angka korban jiwa yang ekstrem di Indonesia adalah cerminan dari kegagalan tata kelola lahan. Banjir tidak hanya membawa air, tetapi juga kayu gelondongan masif (yang terkonfirmasi sebagai salah satu penyebab utama kehancuran rumah dan kematian seketika), menunjukkan adanya praktik illegal logging dan deforestasi yang membuat hulu sungai rentan terhadap bencana.

 

  • Malaysia dan Thailand (Faktor Kesiapan): Kedua negara ini, meskipun dihantam curah hujan ekstrem, berhasil menekan angka kematian berkat sistem peringatan dini yang efektif dan kecepatan evakuasi terpusat ke tempat penampungan resmi, membuktikan efisiensi penanganan bencana hidrometeorologi.

 

Indonesia kini menghadapi tantangan ganda: pemulihan infrastruktur yang hancur, sekaligus perbaikan krisis ekologis struktural yang menjadi biang keladi di balik tingginya korban jiwa. Pemerintah dituntut untuk tidak hanya membangun kembali, tetapi juga merevitalisasi DAS kritis secara fundamental.

 

Desakan Status Bencana Nasional dan Akses Bantuan Internasional di Indonesia:

  • Arie Afriansyah (Pakar Hukum Internasional UI): "Penetapan status nasional bukan hanya soal meminta bantuan luar negeri, tetapi soal akuntabilitas dan percepatan mobilisasi sumber daya pusat. Dengan status ini, prosedur birokrasi dan anggaran darurat menjadi lebih lentur dan fokus pada kebutuhan spesifik wilayah yang terisolir."

 

  • Pakar UGM (Dwi Noverini Djenar, Bidang Geologi Bencana): "Skala kerusakan Banjir 2025, yang didominasi oleh banjir bandang kayu gelondongan, menunjukkan masalah struktural illegal logging dan kerusakan DAS yang melampaui yurisdiksi provinsi. Status nasional akan memudahkan audit tata kelola lingkungan dan mobilisasi pendanaan rekonstruksi berskala besar."

 

  • Dewan Profesor Universitas Syiah Kuala: Membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Prabowo. Dewan Profesor USK membuat 11 usulan rekomendasi, antara lain adalah percepatan pembukaan jalur akses transportasi utama untuk masuknya bantuan kemanusiaan internasional dan penetapan status darurat bencana yang komprehensif. “Pemintaan bantuan internasional yang telah diajukan Pemerintah Aceh kepada lembaga PBB, seperti UNDP dan UNICEF, sebagai respons terhadap kebutuhan yang semakin kompleks di lapangan.” (berita dibuat dengan bantuan AI/M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya