Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

MBG dan Konsep Isi Piringku Berbasis Pangan Lokal Jadi Modal Menuju Indonesia Emas

M Iqbal Al Machmudi
20/11/2025 21:30
MBG dan Konsep Isi Piringku Berbasis Pangan Lokal Jadi Modal Menuju Indonesia Emas
Ilustrasi(ANTARA/IRWANSYAH PUTRA)

GURU  Besar Pangan dan Gizi dari IPB University, Ali Khomsan mengatakan, salah satu program prioritas pemerintah yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), memberi ruang partisipasi luas bagi masyarakat sekitar dapur MBG.

Melalui program ini, warga dapat mengisi ompreng (food tray) dengan pangan lokal yang sesuai selera penerima manfaat, serta sesuai dengan konsep Isi Piringku.

"Tentu saja apa yang dilakukan MBG dengan menyediakan makanan yang beragam, yang tersaji di dalam ompreng, ada nasi, sayur, lauk dan buah, dan kadang-kadang susu juga muncul," kata Ali saat dihubungi, pada Kamis (20/11).

Selain itu, Ali menyebut MBG juga mampu menggerakkan ekonomi lokal. Ia menilai, program andalan Presiden Prabowo Subianto ini merupakan bukti kesungguhan pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi yang lebih baik bagi anak-anak demi mewujudkan Indonesia Emas 2045. 

"MBG sebenarnya sudah memberikan indikasi bahwa pemerintah berniat untuk memberikan konsumsi keberagaman makanan yang baik yang mungkin tidak diperoleh ketika anak-anak itu berada di rumahnya masing-masing," sambungnya.

Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (Karo Kummas BGN), Khairul Hidayati menyatakan dukungan penuh terhadap pemanfaatan menu lokal dalam penyajian MBG, karena ini bagian strategi agar tidak menyisakan sisa makanan (food waste).

"Memasukkan menu lokal tentunya terobosan yang baik. Menu lokal akan lebih mudah diterima oleh anak-anak karena sesuai dengan cita rasa lidahnya sehingga menekan sampah siswa MBG," kata Hida.

Di sisi lain, Hida berpendapat, jika menu lokal dipakai dalam penyajian MBG, potensi penyerapan bahan baku yang tersedia di daerah akan semakin tinggi. 

"Menu lokal biasanya mengutamakan penggunaan bahan baku dari daerah tersebut. Maka, ini juga bisa mendorong terserapnya produk dan sumber daya alam yang tersedia di masing-masing daerah," ucapnya.

SPPG di Banda Aceh Andalkan Menu Lokal dalam Program MBG

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lamlagang Banda Raya di Kota Banda Aceh contohnya, selalu menyajikan variasi menu lokal, seperti nasi goreng nektu dan telur darsun. 

Ahli Gizi SPPG Lamlagang Banda Raya, Achsanu Nadia mengatakan, penggunaan menu lokal dalam Program MBG merupakan cara meminimalisir sampah sisa makanan serta dapat membantu meningkatkan nafsu makan penerima manfaat.

"Sebab mayoritas anak sudah familiar dengan cita rasa khas daerah, sehingga tidak membutuhkan banyak penyesuaian dalam mengonsumsi menu yang disuguhkan," ujar Achsanu.

Penggunaan bahan khas Aceh turut memperkaya cita rasa nasi goreng nektu yang dibuat dengan beragam rempah, seperti bunga lawang, kapulaga, kayu manis serta bumbu lainnya.

Salah satu lauk pendamping yang turut disajikan adalah telur darsun atau dadar sunti. Olahan ini dibuat dari campuran telur, kelapa, dan sunti, rempah khas Aceh berupa belimbing wuluh yang dikeringkan. 

Dari menu ini menghasilkan nutrisi yang tinggi sehingga menghasilkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) sebesar 562,6 kkal energi, 19,4 gram protein, 21,4 gram lemak, dan 74,1 gram karbohidrat. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik