Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Mengurangi Ketergantungan Impor, IPB University Hadirkan Inovasi Alsintan Pintar

Basuki Eka Purnama
01/2/2026 20:02
Mengurangi Ketergantungan Impor, IPB University Hadirkan Inovasi Alsintan Pintar
Fastrex, salah satu alsintan pintar buatan IPB University(MI/HO)

INOVATOR dari IPB University terus berupaya menjawab tantangan mekanisasi pertanian di Indonesia melalui pengembangan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) yang adaptif. Salah satunya adalah Prof. Desrial, Pakar Teknik Mesin Pertanian IPB University, yang berhasil menciptakan inovasi berbasis kebutuhan lokal guna meningkatkan produktivitas sektor perkebunan dan pangan.

Salah satu karya unggulannya adalah Fastrex, sebuah kendaraan transporter Tandan Buah Segar (TBS) yang dirancang khusus untuk menghadapi karakteristik lahan perkebunan sawit Indonesia yang beragam. 

Fastrex hadir sebagai solusi atas sulitnya mobilisasi hasil panen di medan yang sering kali memiliki kontur tanah tidak rata.

"Fastrex terbukti mampu meningkatkan efisiensi transportasi hasil panen, mengurangi beban kerja manual pekerja, serta meningkatkan produktivitas perkebunan, dengan kinerja 10-15 ton TBS per hari atau setara 5-7 orang dengan alat angkut angkong," ujar Prof. Desrial.

MI/HO--Pakar Teknik Mesin Pertanian IPB University Prof. Desrial

Inovasi ini tidak berhenti di tahap prototipe, melainkan telah berhasil dikomersialkan. Hal ini menjadi bukti nyata keberhasilan hilirisasi riset universitas menjadi produk industri mesin pertanian nasional yang kompetitif.

Selain Fastrex, Prof. Desrial juga mengembangkan traktor pintar berbasis teknologi otomasi pertanian presisi. 

Melalui sistem navigasi dan kendali otomatis, mesin ini mampu bekerja dengan lintasan yang lebih akurat dan efisien dalam penggunaan input produksi. 

Teknologi ini sekaligus menjadi jawaban atas semakin berkurangnya jumlah operator alat berat yang terampil di lapangan.

"Inovasi tersebut menjadi fondasi penting menuju penerapan pertanian digital dan pertanian cerdas di Indonesia," ucapnya.

Tantangan Industri Nasional

Meski potensi inovasi dalam negeri cukup besar, Prof. Desrial menyoroti posisi Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan negara lain. 

Dalam peta global, Tiongkok merupakan produsen alsintan terbesar, sementara Amerika Serikat (AS) memimpin dari sisi teknologi tinggi. Di Asia, India berhasil menyodok ke posisi ketiga dunia karena didorong oleh pasar domestik yang masif.

Indonesia sendiri, menurutnya, masih belum optimal dalam mengelola industri alsintan. Sebagian besar mesin pertanian di tanah air masih sangat bergantung pada komponen impor, terutama pada bagian mesin penggerak (engine).

Oleh karena itu, inovasi yang dikembangkan IPB University bertujuan untuk memperkuat kedaulatan industri nasional. Prof. Desrial menilai sumber daya manusia dan kemampuan rekayasa Indonesia sebenarnya sudah mumpuni, namun membutuhkan dukungan sistemik.

"Tantangan utama terletak pada penguatan ekosistem industri, keberpihakan kebijakan, serta peningkatan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah agar pabrikan lokal mesin pertanian mampu berkembang dan bersaing," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya