Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SATELIT baru milik Badan Antariksa Eropa (ESA), Sentinel-4, telah mengirimkan citra pertamanya yang memperlihatkan kondisi polusi udara di wilayah Eropa dan Afrika Utara. Meski belum sepenuhnya beroperasi, data awal yang dikirimkan sudah memberikan gambaran jelas mengenai udara yang dihirup jutaan orang setiap harinya.
Misi ini merupakan bagian dari upaya besar Eropa untuk memantau kualitas udara secara real-time, berbeda dari metode sebelumnya yang hanya dilakukan sekali sehari. Sentinel-4 dirancang untuk mengirimkan pembaruan setiap jam, sebuah lompatan besar dalam pemantauan atmosfer.
Berbeda dari satelit pada umumnya yang bergerak dari kutub ke kutub, Sentinel-4 berada di orbit geostasioner. Tepatnya sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan bumi, dan terus mengamati wilayah yang sama, Eropa dan Afrika Utara.
Dengan posisi tetap, satelit ini dapat memantau pergerakan polutan seperti nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan ozon secara berkelanjutan. Data dikumpulkan melalui pantulan cahaya matahari yang dianalisis untuk mendeteksi kandungan gas di atmosfer, termasuk yang tidak dapat dilihat atau tercium manusia.
Meski masih dalam tahap uji coba sejak diluncurkan pada Juli 2025, Sentinel-4 menunjukkan performa kuat. Satelit ini terpasang pada Meteosat Third Generation Sounder, sehingga meningkatkan efisiensi misi pemantauan cuaca dan udara secara bersamaan.
“Dengan menangkap perubahan cepat dalam polusi udara, Sentinel-4 menjadi terobosan penting untuk pemantauan dan peramalan kualitas udara di Eropa,” ujar Ben Veihelmann, ilmuwan ESA.
Manajer Proyek Sentinel-4, Didier Martin, menambahkan, “Kami sangat senang melihat hasil awal ini. Data menunjukkan sistem berfungsi dengan baik dan proses kalibrasi berjalan sesuai rencana.”
Citra pertama yang diambil pada 8 Oktober 2025 menampilkan konsentrasi nitrogen dioksida yang tinggi di kawasan Lembah Po, Italia Utara, dan sepanjang Mediterania. Gas ini umumnya dihasilkan kendaraan bermotor, pembangkit listrik, serta sistem pemanas berbahan bakar fosil.
Satelit juga menangkap plume sulfur dioksida yang berasal dari Gunung Etna di Sisilia. Meskipun letusan tergolong kecil, gas beracun tersebut terlihat menyebar ke arah tenggara melintasi laut.
Selain itu, Sentinel-4 merekam tingkat ozon di berbagai wilayah, dengan konsentrasi tinggi di Balkan dan Yunani, serta lebih rendah di kawasan Baltik. Data ini sesuai dengan hasil dari satelit lain yang memantau atmosfer pada hari yang sama.
Dalam waktu dekat, Sentinel-4 akan mulai mengirimkan data rutin setiap jam kepada Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS). CAMS ialah lembaga yang bertugas memantau dan memprediksi polusi udara di Eropa.
“Kami sangat bangga berkontribusi dalam misi penting ini bersama Komisi Eropa dan Eumetsat,” kata Simonetta Cheli, Direktur Program Pengamatan Bumi ESA. “Hasil awal yang kami terima sangat menjanjikan dan membuktikan bahwa semua sistem bekerja dengan baik.”
Dengan beroperasinya Sentinel-4, Eropa kini memiliki alat pemantau udara canggih yang diharapkan dapat meningkatkan akurasi peringatan polusi dan melindungi kesehatan masyarakat di seluruh benua. (Earth/Z-2)
Komet antarbintang 3I/ATLAS akan melintas paling dekat dengan Bumi pada 19 Desember. Meski aman, momen ini penting bagi ilmuwan untuk mempelajari materi pembentuk planet dari luar tata surya.
Teleskop James Webb menangkap detail menakjubkan tabrakan dua galaksi kerdil NGC 4490 dan NGC 4485, termasuk jembatan gas bercahaya.
Wahana antariksa ESA menangkap pola mirip barcode di lereng Mars. Penelitian baru menunjukkan fenomena ini bukan akibat tumbukan meteorit.
Wahana antariksa Solar Orbiter milik Badan Antariksa Eropa (ESA) berhasil menangkap citra pertama medan magnet di kutub selatan Matahari.
Profesor Harvard Avi Loeb memicu perdebatan setelah menyebut komet antarbintang 3I/ATLAS menunjukkan percepatan non-gravitasi misterius.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Polusi udara luar ruangan dapat meningkatkan risiko diabetes, bahkan pada tingkat polusi yang selama ini dianggap aman oleh EPA dan WHO.
Penelitian terbaru menemukan awan di Samudra Atlantik dan Pasifik kini makin redup akibat udara yang lebih bersih.
Polusi udara dan asap rokok merupakan dua faktor lingkungan yang kerap diabaikan, padahal keduanya memiliki dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved