Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

BNPB Perkuat Mitigasi Terpadu Hadapi Cuaca Ekstrem di Indonesia

Ficky Ramadhan
10/11/2025 17:46
BNPB Perkuat Mitigasi Terpadu Hadapi Cuaca Ekstrem di Indonesia
Ilustrasi(MI/USMAN ISKANDAR)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah-langkah mitigasi terhadap potensi bencana akibat cuaca ekstrem yang saat ini tengah melanda Indonesia.

Kepala BNPB Letjen Suharyanto menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah mitigasi dan pencegahan bencana secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut mencakup operasi teknologi modifikasi cuaca, penguatan infrastruktur dan koordinasi daerah, hingga restorasi lingkungan jangka panjang.

"Kita tidak bisa menghindari hujan, tetapi kita bisa mengelola dampaknya. Karena itu BNPB bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terus memperkuat kesiapsiagaan, baik di tingkat pusat, daerah, maupun komunitas," kata Suharyanto saat dihubungi, Senin (10/11).

BNPB, kata Suharyanto, telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Tengah sejak 23 Oktober 2025. Operasi ini bertujuan mengurangi penumpukan awan-awan cumulonimbus yang dapat meningkatkan intensitas curah hujan di suatu kawasan.

"Upaya ini dilakukan agar curah hujan dapat terdistribrusi dengan lebih merata, sehingga tidak menumpuk di satu wilayah dan menimbulkan banjir," jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga telah memperkuat operasional pompa dan sistem drainase di wilayah-wilayah rawan banjir dengan membentuk satuan tugas (satgas) 24 jam. Tim ini bertugas memastikan pompa dapat beroperasi penuh sepanjang waktu, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan genangan air.

"Begitu ada genangan, pompa harus segera berfungsi untuk mengalirkan air ke laut. Kecepatan respons menjadi kunci," tambahnya.

Selain memperkuat infrastruktur, BNPB juga menggandeng jaringan relawan dan komunitas lokal di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), khususnya di Jawa Barat, untuk memperkuat sistem komunikasi peringatan dini. Dengan sistem ini, masyarakat dapat segera melakukan langkah evakuasi atau pengamanan saat debit air meningkat.

"Mitigasi yang efektif harus melibatkan masyarakat sebagai aktor utama di lapangan," tegasnya.

Lebih lanjut, untuk mencegah bencana hidrometeorologi di masa depan, BNPB bersama kementerian/lembaga terkait juga akan melakukan penanaman vegetasi dan restorasi ekosistem di daerah aliran sungai (DAS) kritis di empat provinsi: Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, mulai minggu kedua November 2025.

Suharyanto menegaskan bahwa langkah ini bukan solusi instan, tetapi penting bagi keberlanjutan ekosistem.

"Ini bukan quick wins, tetapi langkah jangka panjang untuk memperbaiki tata air dan mengembalikan daya dukung alam kita. Dengan memperbaiki ekosistem, kita mengurangi risiko banjir dan longsor di masa mendatang," ucapnya.

BNPB juga mengimbau masyarakat di daerah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB, serta tidak panik namun tetap siap siaga.

"Kesiapsiagaan masyarakat adalah benteng pertama menghadapi bencana. Mari kita jaga lingkungan, waspada terhadap tanda-tanda alam, dan tanggap terhadap peringatan dini," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya