Headline
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti masih minimnya anggaran mitigasi bencana di Indonesia, di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kerentanan wilayah. Keterbatasan anggaran mitigasi bencana tersebut dinilai menjadi tantangan serius dalam upaya pencegahan sebelum bencana terjadi.
Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir alokasi anggaran mitigasi bencana yang dikelola BNPB relatif kecil.
“Kami laporkan setiap tahun untuk anggaran pencegahan atau mitigasi bencana itu berkisar antara 17 sampai 19 miliar rupiah per tahun. Tentu saja ini sangat kecil,” ujar Suharyanto dalam rapat dengan Komisi VIII DPR RI, Selasa (3/2).
Ia menjelaskan, anggaran mitigasi tersebut harus digunakan untuk menghadapi berbagai jenis dan klaster bencana yang terjadi di Indonesia. Padahal, secara geografis dan geologis, Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, mulai dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, hingga bencana hidrometeorologi.
Suharyanto mengatakan, keterbatasan anggaran membuat upaya pencegahan tidak bisa dilakukan secara maksimal di seluruh wilayah rawan bencana. Meski demikian, BNPB tetap berupaya meningkatkan kapasitas mitigasi melalui berbagai cara.
“Tentu saja kami tidak hanya bisa mengeluh kemudian tidak bekerja. Kami berupaya untuk tetap meningkatkan kemampuan penanggulangan bencana dalam aspek pencegahan atau mitigasi,” katanya.
BNPB juga memanfaatkan berbagai skema pendanaan lain untuk memperkuat mitigasi, termasuk melalui pinjaman luar negeri.
“Untuk 2026 kami laporkan bahwa kami juga baru disetujui oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk mendapat pinjaman dari pemerintah Spanyol, dengan titik beratnya untuk meningkatkan kesiapan mitigasi bencana BNPB menghadapi bencana hidrometeorologi basah, yaitu banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem," beber dia.
Selain itu, BNPB juga mengoptimalkan pemanfaatan dana siap pakai yang umumnya digunakan saat status siaga darurat dan tanggap darurat ditetapkan. Dana tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk penanganan pascabencana, tetapi juga untuk meningkatkan ketahanan daerah agar lebih siap menghadapi bencana serupa di masa mendatang.
Menurut Suharyanto, tantangan anggaran mitigasi bencana menjadi perhatian penting karena banyak bencana di Indonesia bersifat berulang di wilayah yang sama.
Dengan pencegahan yang lebih kuat, penanganan bencana tidak lagi hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pada upaya melindungi masyarakat sebelum bencana terjadi. (H-3)
Sejumlah lahan pertanian rusak di Pasie Laweh, Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Bencana hidrometeorologi melanda negara bagian Minas Gerais, Brasil. Sedikitnya 32 orang tewas dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat curah hujan ekstrem.
Bencana longsor dan banjir melanda Minas Gerais, Brasil. 30 orang tewas dan 39 lainnya masih hilang di bawah puing-puing bangunan.
Warga menyeberangi Sungai Jabak menggunakan gondola darurat menuju Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Pasca-kejadian, warga terpantau mulai bergotong royong membersihkan sisa-sisa reruntuhan dan memperbaiki atap rumah yang masih bisa diselamatkan secara swadaya.
Mendagri Tito Karnavian memaparkan skema bansos korban bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, termasuk bantuan Rp8 juta untuk rumah rusak berat serta Dana Tunggu Hunian Rp1,8 juta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved