Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

32 Tewas Akibat Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Brasil

Thalatie K Yani
26/2/2026 04:28
32 Tewas Akibat Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Brasil
Bencana hidrometeorologi melanda negara bagian Minas Gerais, Brasil. Sedikitnya 32 orang tewas dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal akibat curah hujan ekstrem.(EPA)

SEDIKITNYA 32 orang dilaporkan tewas setelah hujan lebat memicu banjir bandang dan tanah longsor mematikan di negara bagian Minas Gerais, Brasil. Dua wilayah yang terdampak paling parah adalah Kota Juiz de Fora, di mana 12 rumah tersapu longsor, dan Kota Ubá, di mana sungai setempat meluap hebat.

Hingga saat ini, petugas penyelamat masih terus melakukan pencarian terhadap sedikitnya 38 orang yang dinyatakan hilang. Sementara itu, ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal kini mulai dievakuasi ke posko-posko pengungsian yang telah disiapkan pemerintah setempat.

Curah Hujan Dua Kali Lipat dari Rata-rata

Ahli meteorologi menyatakan curah hujan yang turun di wilayah tersebut sepanjang bulan ini telah mencapai dua kali lipat dari rata-rata yang diperkirakan untuk bulan Februari. Situasi diperkirakan masih akan mengkhawatirkan mengingat hujan deras diprediksi tetap turun dalam beberapa hari ke depan.

Seorang warga Ubá, Lucas Gandra, menceritakan detik-detik mencekam saat air mulai merendam permukimannya pada Selasa dini hari waktu setempat.

"Pukul 00:07 air meluap dan pada pukul 00:20 air sudah menyebabkan kerusakan yang sangat besar. Air naik dengan sangat cepat," ungkap Gandra kepada BBC Brasil.

Meskipun kota yang terletak 300 km di utara Rio de Janeiro ini pernah mengalami banjir pada tahun 2019 dan 2020, Gandra menyebut bencana kali ini adalah yang paling menghancurkan.

"Saya melihat orang-orang yang terjebak di rumah mereka berteriak minta tolong dan tidak ada yang bisa kami lakukan. Ada satu rumah secara khusus, di mana sejujurnya saya pikir kami harus menyaksikan orang-orang di dalamnya tenggelam," tambahnya.

Solidaritas di Tengah Puing Kehancuran

Data dari petugas pemadam kebakaran mencatat lebih dari 200 orang berhasil diselamatkan. Namun, maut tetap menjemput sejumlah warga, termasuk mereka yang justru kehilangan nyawa saat mencoba menolong orang lain.

Carolina Magalhães, seorang dokter gigi yang tinggal di Ubá, menggambarkan situasi kota sebagai pemandangan yang "mengerikan". Ia sempat merekam bagaimana derasnya arus menyapu benda-benda besar di jalanan.

"Awalnya sampah, lalu lemari es, kursi, sepeda motor, banyak tabung gas, hingga sebuah mobil van dan truk ikut hanyut lewat," kenang Carolina.

Saat air mulai surut, warga kembali ke rumah masing-masing hanya untuk menemukan pemandangan yang luluh lantak. Marcela Barbosa, seorang dokter setempat, menyebut kotanya kini sudah tidak bisa dikenali lagi karena tertutup lumpur dan puing-puing.

"Semuanya penuh lumpur, kehancuran total. Yang Anda lihat di jalanan hanyalah orang-orang dengan pakaian berlumpur, keluar untuk membersihkan dan saling membantu," ujar Marcela. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya