Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Antisipasi Bencana

Despian Nurhidayat
10/2/2026 17:39
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Antisipasi Bencana
Diskusi ilmiah bertajuk Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global sebagai Pemicu Bencana di Sumatra.(USU)

Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra. Perubahan pola curah hujan, intensitas cuaca ekstrem, serta dinamika iklim regional menuntut pendekatan baru dalam mitigasi bencana, yakni melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Wakil Rektor III Universitas Sumatra Utara, Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, menegaskan bahwa penguatan ketahanan wilayah tidak bisa dilakukan secara sektoral. Sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi keharusan agar kebijakan yang dihasilkan bersifat komprehensif dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya pendekatan evidence-based policy, di mana rekomendasi kebijakan disusun berdasarkan riset ilmiah yang kuat, data empiris, serta analisis multidisipliner, bukan semata respons terhadap gejala yang tampak di permukaan.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka diskusi ilmiah bertajuk Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global sebagai Pemicu Bencana di Sumatra di Kampus USU, Selasa (10/2). Forum ini menghadirkan dua Guru Besar Fakultas Pertanian USU Abdul Rauf dan Diana Chalil, serta Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan.

Diskusi turut dihadiri perwakilan pemerintah, petani sawit, dan asosiasi industri, antara lain Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto dan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara, Timbas Prasad Ginting.

Menurut Poppy, topik yang dibahas memiliki dimensi strategis sekaligus sensitif, mengingat besarnya dampak sosial, ekonomi, dan ekologis dari bencana hidrometeorologi yang terjadi di Sumatra, khususnya pada akhir 2025. 

"Forum ilmiah ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga wadah refleksi bersama untuk mencari pemahaman yang lebih utuh atas persoalan yang dihadapi masyarakat," tutur Poppy.

Dalam diskursus publik, sektor perkebunan kelapa sawit kerap menjadi sasaran tudingan sebagai penyebab ketidakseimbangan ekosistem yang memicu banjir. Namun, di sisi lain, industri sawit juga memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional serta kesejahteraan jutaan petani dan pekerja.

Karena itu, dunia akademik memandang dialektika antara perubahan iklim, bencana alam, dan perkebunan sawit harus ditempatkan dalam kerangka ilmiah yang objektif dan berbasis data. 

"Tujuannya bukan untuk mencari pihak yang disalahkan, melainkan membangun pemahaman komprehensif guna merumuskan solusi yang konstruktif," terangnya.

Ia berharap diskusi ilmiah ini dapat menjadi pijakan untuk mengkaji secara mendalam keterkaitan perubahan iklim global, tata guna lahan, dan kejadian bencana di Sumatra. Selain itu, forum ini diharapkan mampu mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang masih dapat dimitigasi melalui kebijakan, inovasi teknologi, serta praktik pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, kebijakan yang dihasilkan tidak hanya responsif terhadap tekanan opini publik, tetapi juga efektif dalam melindungi masyarakat dan lingkungan. Dalam konteks ini, universitas dipandang memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar kritis, produsen pengetahuan, sekaligus jembatan dialog antar pemangku kepentingan. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya