Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
TRANSFORMASI Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menjadi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memberikan mandat baru kepada BPDP dalam mengelola tiga komoditas strategis yaitu kelapa sawit, kakao, dan kelapa.
"BPDP kini memiliki tanggung jawab mengkoordinasi pengembangan dari hulu hingga hilir untuk ketiga komoditas tersebut, dengan visi menjadi badan pengelolaan dana yang terpercaya dalam pengembangan perkebunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat," ujar Direktur Penyaluran Dana Sektor Hulu BPDP Normansyah Syahruddin, dalam keterangannya, Jumat (13/2/2026).
Ia memaparkan BPDP juga memiliki sejumlah program strategis antara lain mengoptimalkan dana perkebunan guna mendorong hilirisasi, meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat, dan memperkuat ekonomi kabupaten penghasil komoditas perkebunan.
BPDP, lanjut dia, juga memiliki enam program utama yang dapat diakses oleh daerah-daerah penghasil komoditas perkebunan. Keenam program BPDP ini mencakup peremajaan perkebunan, sarana dan prasarana perkebunan, pengembangan SDM perkebunan, penelitian dan pengembangan, promosi perkebunan, serta pemenuhan kebutuhan pangan, hilirisasi dan penyediaan bahan bakar nabati.
Normansyah menegaskan BPDP berkomitmen berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kementerian terkait dalam mempercepat program-program perkebunan tersebut.
"Kami siap berkolaborasi dengan semua kabupaten sentra untuk mengakses program-program BPDP melalui dinas perkebunan masing-masing daerah," ucapnya.
Hal itu, terang Normansyah, pernah disampaikan dirinya saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVII Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Batam, baru-baru ini.
Normansyah menjelaskan untuk memudahkan akses dan transparansi dalam pengajuan proposal oleh kabupaten-kabupaten penghasil sawit, kakao, dan kelapa, pihaknya mengembangkan dua aplikasi digital.
Pertama, aplikasi PSR Online untuk proses pengajuan dan pendaftaran program peremajaan. Kedua, Smart PSR yang berfungsi sebagai platform monitoring penyaluran dana kepada petani secara real-time. "Dengan aplikasi ini, semua pihak dapat memantau progres penyaluran dan realisasi program di lapangan," katanya.
Dia mencontohkan untuk program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), BPDP mengalokasikan dana Rp60 juta per hektare untuk maksimal 4 hektare per petani.
Sejak digulirkan pada 2016 hingga 2025, program ini menyalurkan Rp12,9 triliun untuk sekitar 400 ribu petani di seluruh Indonesia. “Kami berharap peran pemerintah kabupaten terlibat untuk memperluas cakupan program PSR ini,” ujar Normansyah.
Ia juga berharap momentum Rakernas XVII Apkasi jadi tonggak sinergi antara pemerintah pusat melalui BPDP dan pemerintah kabupaten seluruh Indonesia.
"Dengan tiga komoditas strategis yang kini jadi fokus, BPDP memiliki tanggung jawab besar memastikan kesejahteraan petani dan keberlanjutan industri perkebunan Indonesia," pungkas Normansyah. (H-2)
Terbitnya Perpres No 132/2024 telah menimbulkan keresahan bagi petani sawit yang sedang mengajukan pendanaan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
BPDPKS dan SPKS mendorong perluasan pemasaran produk UMKM berbasis kelapa sawit termasuk di destinasi wisata seperti Labuan Bajo.
Banyaknya campur tangan dalam peremajaan sawit rakyat (PSR) menjadi sebab program itu berjalan lambat.
Pemerintah bakal memperluas peran BPDPKS. Ke depan, lembaga itu tidak hanya mengurusi dana sawit saja, tetapi juga produk perkebunan lain seperti kelapa, kakao, dan karet.
Dengan dibentuknya badan kakao dan kelapa yang dicangkokan ke BPDPKS, Syaiful menilai hal tersebut akan mengganggu program strategis nasional kelapa sawit ke depannya.
Di tengah harga energi global yang masih bergejolak dan tekanan impor bahan bakar minyak yang terus membayangi anggaran negara, kebijakan energi kini tak lagi sekadar urusan teknis.
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
BERBAGAI komentar negatif terus dinarasikan dalam beberapa bulan terakhir ini terkait dengan komoditas nonmigas andalan utama ekonomi nasional, yakni kelapa sawit.
Industri kelapa sawit terus dipandang sebagai salah satu sektor strategis perekonomian nasional,
Dengan mengurangi harga barang yang dilaporkan, maka bea masuk yang dibayarkan juga akan berkurang dan hal tersebut sangat merugikan ekonomi dari sisi pendapatan negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved