Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
PRODI Manajemen Bencana Universitas Budi Luhur ( UBL) menggelar acara talkshow bertema “Ancaman Megathrust, Peristiwa Rinjani hingga tragedi Ponpes Sidoarjo, ".Hal ini menyadarkan kita sekaligus menjadi refleksi, siapkah kita menghadapi bahaya dan bencana?.
Acara ini digelar di Theater UBL Jakarta pekan lalu,diikuti secara daring melalui Zoom (Hybrid) serta disiarkan melalui YouTube.
Acara Talks Show ini dimoderatori Prof. Ir. Arief Wibowo, M.Kom., selaku Guru Besar Sistem Cerdas Untuk Krisis dan Bencana U BL yang juga Deputi Deputi Rektor Bidang Kemahasiswaan Kerjasama & Promosi. Sementara narasumber dihadiri Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si selaku Kepala Penanggulangan Bencana (BNPB) RI Pertama, Indra Gunawan S.Si, M.Phil selaku PMG Madya Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Abdul Haris Achadi, S.H., DESS selaku Sekretaris Utama Basarnas & Dosen Program Studi Manajemen Bencana UBL dan Dr. Muhammad Hidayat, M.I.Kom., selaku Kepala Pusat Studi Kebencanaan dan Resiliensi LSPR Institute of Communication & Business.
Prodi Manajemen Bencana UBL memiliki kepedulian untuk kebencanaan di tanah air ini menghadirkan talkshow untuk mengedukasi ke masyarakat tentang pentingnya mitigasi kebencanaan yang menimbulkan potensi ancaman gempa megathrust, aktivitas vulkanik Rinjani, serta fenomena bencana lumpur Sidoarjo.
Indra Gunawan S.Si, M.Phil selaku PMG Madya Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG mengutarakan persoalan bencana harus melibatkan semua pihak termasuk akademisi dan mahasiswa. Ia menegaskan pemerintah sangat terbuka dalam memberikan informasi kepada publik khususnya potensi bencana.
“Saya sangat senang bisa bertemu teman-teman mahasiswa di Universitas Budiluhur. Kegiatan ini sangat bermanfaat, karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh peran aktif mahasiswa sebagai agen perubahan dalam kebencanaan," kata Indra Gunawan.
Dia mengingatkan Informasi yang disampaikan sifatnya ilmiah, dan perlu diterjemahkan ke bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat.
"Di sinilah pentingnya kolaborasi dengan akademisi, agar narasi yang muncul bisa menenangkan, bukan menimbulkan kepanikan. Harapan saya, program seperti ini tidak hanya ada di Budi Luhur, juga bisa berkembang di kampus lain. Pemerintah siap berkolaborasi, karena pelayanan kepada masyarakat harus dilakukan dengan cara yang interaktif dan melibatkan banyak pihak,” ujar Indra Gunawan.
Dr. Abdul Haris Achadi, S.H., DESS selaku Sekretaris Utama Basarnas mengatakan, mitigasi dan penanganan kebencanaan harus melibatkan pihak swasta terutama dari segi anggaran.
“Mengingat seringnya terjadi kecelakaan transportasi, bencana, dan ancaman megathrust, diperlukan kebijakan penanggulangan bencana yang holistik sejak pra, tanggap, hingga pascabencana. Saat ini, kapasitas SDM dan peralatan masih belum merata serta belum memenuhi standar internasional. Karena itu, perlu kebijakan nasional terpadu untuk mengatasi fragmentasi anggaran, melibatkan sektor swasta, dan memastikan seluruh upaya penanganan bencana, termasuk oleh Basarnas, sesuai standar internasional,” ujar Dr. Abdul Haris Achadi,
Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si selaku Kepala Penanggulangan Bencana (BNPB) RI Pertama, mengapresiasi Universitas Budi Luhur yang menghadirkan program studi S1 Manajemen Bencana. Menurutnya, penanganan kebencanaan SDM yang dibutuhkan yakni lulusan sarjana untuk level profesional hingga manajer.
“Prodi manajemen bencana S1 UBL sangat dibutuhkan di kancah nasional bahkan internasional karena SDM profesional kebencanaan di jenjang sarjana memang dibutuhkan. selama ini yang tersedia banyak adalah level operator pada bidang kebencanaan, kita butuh level koordinator dan manajer yang ahli dan profesional. Di kebutuhan ini UBL berperan menyediakan SDM terampil bidang kebencanaan,” ujar Prof. Dr. Syamsul Maarif.
Sementara, Dr. Muhammad Hidayat, M.Ikom selaku Kepala pusat Studi Krisis dan Resiliensi LSPR Institute mengatakan, ada tiga fase dalam penanganan kebencaana yaitu komunikasi, kolaborasi dan koordinasi.
“Komunikasi bukan cuma soal ngomong, tapi soal koordinasi dan informasi. Tanpa itu semua nya bisa jadi lebih buruk. Harus ada kolaborasi semua stakholder mulai dari pemerintah hingga ke masyarakat saling membantu,” terangnya.
Melalui kegiatan ini, para peserta baik dari kalangan akademisi, praktisi kebencanaan, maupun masyarakat umum diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai potensi bahaya bencana di Indonesia. Selain itu, diskusi ini juga menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun sistem mitigasi bencana yang tangguh. (H-2)
Pemprov DKI mitigasi risiko di TPST Bantargebang pascalongsor dan salurkan santunan BPJS Ketenagakerjaan ratusan juta bagi ahli waris serta beasiswa anak korban.
Pelayanan yang diberikan harus sesuai dengan harapan publik.
BADAN Penanggulangan bencana daerah (BPBD) Jawa Timur melakukan i pengecekan kondisi peralatan Early Warning System (EWS) yang tersebar di berbagai daerah di Jatim
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
DPR minta pemerintah prioritaskan pencegahan dan mitigasi bencana untuk kurangi kerugian ekonomi yang terus berulang di Indonesia.
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti masih minimnya anggaran mitigasi bencana di Indonesia, di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kerentanan wilayah.
Universitas Budi Luhur (UBL) terus mempertegas komitmennya dalam mendukung kemajuan olahraga nasional sekaligus membawa pendidikan tinggi Indonesia ke panggung dunia.
Universitas Budi Luhur melalui Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif mengukuhkan dua guru besar bidang ilmu komunikasi di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
BLU digunakan sebagai label internasional dalam berbagai aktivitas dan kerja sama dengan mitra luar negeri.
Tim PKM memberikan sosialisasi dan pelatihan pengolahan limbah cangkang kerang hijau menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Pelatihan ini melibatkan lebih dari 20 anggota Karang Taruna dari total sekitar 80 anggota yang tersebar di RW 004 Ulujami.
Acara ini merupakan bagian rangkaian Dies Natalis ke-27 HIMAHI dan akan berlanjut hingga puncaknya pada 17 Desember 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved