Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG Klinis Anak dan Remaja lulusan Universitas Indonesia Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., Psikolog menekankan pentingnya mengajak anak yang ingin mengikuti aksi unjuk rasa berdiskusi dan memberikan fakta yang ada di lapangan.
"Kita perlu memberikan ruang untuk diskusi, termasuk tentang konteks demonstrasi, protes, peraturan terkait dengan protes atau demonstrasi," kata Gisella, dikutip Senin (8/9).
Anggota Ikatan Psikolog Klinis (IPK) itu menyatakan orangtua perlu memiliki informasi yang cukup dan memadai ketika ingin membagikan edukasi pada anak untuk menyikapi atau merespons kondisi-kondisi sosial politik yang sedang terjadi pada negara.
Sebelum memberikan pemahaman pada anak, orangtua disarankan untuk mencari informasi dari sumber-sumber terpercaya.
Orangtua juga disarankan untuk melihat sejauh mana isu itu dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari anak, misalnya dari sisi kebijakan pendidikan atau akses kesehatan.
Setelahnya, berikan anak sebuah ruang diskusi untuk mendengarkan sejauh mana ia sudah mengikuti perkembangan kondisi politik di masa kini. Tanyakan perasaannya setidaknya pada satu atau dua kasus yang cukup mencuat akhir-akhir ini.
Kemudian, orangtua dapat mengajak anak untuk mengulas beberapa fakta terkait dengan kasus yang sudah diikuti. Di sini, sangat penting untuk melihat reaksi emosional anak ketika menanggapi suatu masalah. Pastikan anak tetap merasa nyaman dan aman untuk bercerita.
Gisella menekankan penting untuk menggunakan bahasa yang sesuai dengan usia dan pemahaman anak, disertai dengan pendekatan yang tidak menghakimi atau menggurui.
Sampaikan informasi atau saran dalam diskusi secara terbuka, setara dan menunjukkan rasa ingin memahami perasaan agar anak bisa lebih bijak menyikapi isu.
"Kalau sudah memberikan fakta, kita boleh menyelipkan pendapat pribadi kita. Namun, pastikan itu terjelaskan, mana fakta, mana analisa atau pendapat pribadi orang tua, sehingga anak jelas seperti apa (situasinya)," ujar dia.
Pada anak yang sudah masuk dalam usia remaja, sertakan edukasi mengenai hukum yang berlaku dan sesuai dengan kondisi terkini.
Jika remaja mengaku masih ingin mengikuti aksi unjuk rasa, Gisella menilai orangtua harus memberikan informasi latar belakang mengenai aturan dalam demo, konsekuensi yang mungkin diterima hingga memberikan data konkret soal apa saja yang terjadi bila ikut menyampaikan aspirasi bersama dengan masyarakat lain yang hadir.
"(Informasi) itu perlu diberikan, ditaruh di atas meja bahwa ini lho, faktanya, pembelajaran dari kasus terdahulu yang mama atau papa baca,
jadi ketika membicarakan apa yang bisa dilakukan, pastikan anak paham juga konteks peraturan hukumnya," kata Gisella.
Menurutnya, remaja perlu diberikan pemahaman bahwa penyampaian aspirasi tidak melulu harus melalui demo. Melainkan bisa dalam bentuk seni, mengikuti forum diskusi bersama teman atau guru maupun aksi memperbanyak wawasan dengan membaca sejarah atau riset.
"Jika dia memang ada pendapat-pendapat atau ada hal-hal yang ingin dia lakukan, termasuk terlibat misalnya dalam aksi atau protes seperti ini, sehingga orangtua bisa membimbing, bisa juga memberikan rencana antisipasi atau rencana keselamatan jika diperlukan. Memang perlu dari berbagai macam perspektif untuk implementasi ke anak," tambahnya.
Sementara menanggapi aksi remaja yang turun mengikuti demo hingga membawa senjata tajam, Gisella menyayangkan hal tersebut terjadi dan mengatakan bahwa perilaku tersebut melanggar norma sosial yang berlaku.
Ia menyampaikan bahwa remaja cenderung memiliki sifat melawan dan tidak mengindahkan arahan yang diberikan oleh orang tua maupun orang yang derajatnya berada di atasnya. Sehingga lingkungan sangat berperan besar pada keputusan yang diambil oleh seorang anak.
"Kadang juga remaja karena faktor dia merasa perlu diterima oleh peer, oleh kelompok pertemanannya sehingga dia mudah gitu ya terseret, mudah melakukan," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved