Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM beberapa waktu terakhir, vitamin D3 sering dikaitkan dengan penurunan berat badan. Namun, apakah klaim ini benar?
Melansir dari The Sun, Berikut adalah tujuh fakta ilmiah yang bisa membantu memahami hubungan antara vitamin D3 dan berat badan.
Vitamin D3, atau kolekalsiferol, adalah salah satu bentuk vitamin D yang berperan penting dalam tubuh.
Vitamin ini membantu penyerapan kalsium dan fosfor, menjaga kesehatan tulang, serta mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dengan obesitas cenderung memiliki kadar vitamin D yang lebih rendah dalam tubuhnya.
Hal ini dikaitkan dengan penyimpanan vitamin D dalam jaringan lemak, yang dapat mengurangi ketersediaannya dalam aliran darah.
Vitamin D3 berperan dalam mengatur hormon leptin, yang berfungsi mengontrol rasa lapar dan kenyang.
Kekurangan vitamin D bisa menyebabkan gangguan sinyal leptin, yang berpotensi meningkatkan nafsu makan dan mendorong seseorang untuk makan lebih banyak.
Jika seseorang mengalami defisiensi vitamin D, suplementasi dapat membantu meningkatkan metabolisme dan menurunkan berat badan.
Namun, jika kadar vitamin D dalam tubuh sudah normal, konsumsi tambahan tidak akan memberikan efek signifikan pada berat badan.
Selain membantu dalam regulasi berat badan, vitamin D3 memiliki berbagai manfaat lainnya, seperti:
Meningkatkan kepadatan tulang dengan membantu penyerapan kalsium.
Memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Mengurangi risiko peradangan kronis yang dapat memicu penyakit metabolik.
Mendukung kesehatan jantung dan metabolisme lemak.
Mengonsumsi vitamin D3 secara berlebihan dapat menyebabkan hiperkalsemia, yaitu kondisi di mana kadar kalsium dalam darah menjadi terlalu tinggi. Efek sampingnya meliputi:
Mual dan muntah.
Kehilangan nafsu makan.
Gangguan fungsi ginjal.
Risiko masalah jantung yang serius.
Meskipun vitamin D3 memiliki manfaat kesehatan, tidak ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa konsumsi vitamin D3 secara langsung dapat menurunkan berat badan. Cara terbaik untuk menurunkan berat badan tetap melalui kombinasi:
Pola makan sehat dan seimbang.
Aktivitas fisik secara rutin.
Tidur yang cukup.
Manajemen stres yang baik.
Vitamin D3 memang memiliki hubungan dengan berat badan, terutama dalam hal regulasi hormon dan metabolisme.
Namun, suplementasi vitamin D3 hanya akan membantu penurunan berat badan jika seseorang mengalami defisiensi.
Oleh karena itu, penting untuk mengonsumsinya sesuai kebutuhan dan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen. (The Sun/Z-10)
Penelitian terbaru menemukan suplementasi vitamin D3 yang dipersonalisasi dapat menurunkan risiko serangan jantung berulang hingga lebih dari setengahnya.
Konsumsi vitamin D dalam jangka waktu lama dengan dosis tinggi dapat menimbulkan hiperkalsemia dan hiperkalsiuria yang dapat mengganggu fungsi ginjal.
Vitamin D3 hanya salah satu dari banyak faktor yang dapat memengaruhi proses penuaan.
Kalsium dan fosfor dalam Vitamin D3 dibutuhkan sebagai nutrisi untuk menguatkan tulang. Vitamin D3 berperan untuk kesehatan tulang dan otot.
Terdapat pula bukti bahwa vitamin D dapat membantu Anda menurunkan berat badan.
TANTANGAN dalam upaya menurunkan berat badan menjadi ideal saat ini disebut semakin kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai faktor di lingkungan.
Berat badan tak kunjung turun meski rutin olahraga? Terlalu banyak kardio, kurang istirahat, hingga pola makan bisa jadi penyebabnya. Simak penjelasannya.
Orang yang berolahraga lebih banyak membakar kalori ekstra, tetapi mereka tidak kehilangan berat badan sebanyak yang diharapkan berdasarkan jumlah kalori yang terbakar.
Diet karnivora tidak direkomendasikan karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang dan tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum.
MENINGKATNYA prevalensi obesitas di Indonesia mendorong perlunya pendekatan pengendalian yang semakin adaptif terhadap perilaku dan preferensi masyarakat.
Setiap orang memiliki respons metabolisme yang berbeda yang dapat dipengaruhi oleh hormon, kebiasaan makan, hingga kondisi kesehatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved