Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH komite internasional yang terdiri dari ilmuwan telah mengusulkan cara baru untuk menentukan kelebihan lemak tubuh. Tidak hanya mengandalkan indeks massa tubuh (IMT).
Lebih dari 50 ahli di bidang seperti nutrisi, endokrinologi, dan kesehatan masyarakat mempublikasikan rekomendasi mereka dalam jurnal yang telah melalui proses review sejawat, The Lancet Diabetes & Endocrinology, Selasa (14/1).
Temuan dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa IMT tidak memberikan penilaian yang cukup mendalam mengenai kesehatan terkait berat badan.
Laporan The Lancet menyarankan metrik lain jauh lebih berguna dalam menentukan kesehatan keseluruhan seorang pasien: jumlah lemak perut yang dimiliki pasien tersebut.
Para penulis laporan mencatat informasi ini dapat diperoleh dengan berbagai cara, termasuk mengukur lingkar pinggang seseorang, rasio lingkar pinggang terhadap pinggul, atau rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan. Ada juga pemindaian yang dapat menentukan jumlah lemak perut berlebih pada seorang pasien.
Sementara itu, IMT dihitung hanya dengan dua data: tinggi badan dan berat badan pasien, menurut National Institutes of Health.
Namun, laporan baru ini mencatat IMT bisa menyebabkan pelaporan obesitas yang terlalu tinggi maupun rendah. Seorang atlet dengan sedikit lemak tubuh tetapi massa otot yang signifikan mungkin mendapat skor dalam rentang IMT "obesitas". Dan seseorang dengan IMT "sehat" bisa saja memiliki lemak berlebih di sekitar organ internal mereka.
Dalam wawancaranya dengan NPR, Dr. Robert Kushner, seorang endokrinolog di Northwestern University yang juga bagian dari komisi ini, mengungkapkan lemak perut khususnya berisiko menyebabkan berbagai masalah kesehatan.
"Lemak di perut menyebabkan peradangan sistemik, yang kemudian menyebabkan masalah metabolik lainnya seperti kadar gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, dan peningkatan lemak dalam darah," katanya kepada outlet tersebut. "Ini bisa memicu penyakit metabolik termasuk diabetes serta penyakit jantung."
Kushner juga mengatakan komisi ini tidak menyarankan untuk sepenuhnya menghapus IMT, namun menekankan pentingnya menggunakan metrik penting lainnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang kesehatan pasien.
Dalam pernyataan kepada PBS News, Dr. David Cummings, ahli obesitas di University of Washington dan peneliti lainnya dalam komisi tersebut, mengatakan tujuan laporan baru ini adalah "untuk mendapatkan definisi yang lebih tepat [tentang obesitas] sehingga kita dapat menargetkan orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan tersebut."
Laporan ini juga merekomendasikan agar tenaga medis mulai menggunakan dua kategori diagnostik yang berbeda ketika berhubungan dengan obesitas: obesitas klinis dan obesitas pre-klinis.
Pasien yang didefinisikan sebagai obesitas klinis adalah mereka yang menunjukkan kelebihan lemak tubuh sambil juga menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan terkait berat badan seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan nyeri sendi kronis. Sementara itu, orang dengan obesitas pre-klinis adalah mereka yang membawa kelebihan berat badan tetapi belum menunjukkan kondisi kesehatan kronis yang biasanya terkait dengannya. (People/Z-3)
Orang yang berolahraga lebih banyak membakar kalori ekstra, tetapi mereka tidak kehilangan berat badan sebanyak yang diharapkan berdasarkan jumlah kalori yang terbakar.
Diet karnivora tidak direkomendasikan karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang dan tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum.
Setiap orang memiliki respons metabolisme yang berbeda yang dapat dipengaruhi oleh hormon, kebiasaan makan, hingga kondisi kesehatan.
Diet OMAD sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan, khususnya oleh individu yang baru mencoba pola puasa. Sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, apalagi bagi pemula.
Peneliti Karolinska Institutet mengungkap kaitan genetik antara kadar kafein dalam darah dengan risiko diabetes tipe 2 dan penurunan lemak tubuh.
Seorang pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved