Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGURUS Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) menyebut menu dalam program Makan Bergizi Gratis, yang diinisiasi pemerintah dapat menggunakan panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan untuk menentukan lauk pauk dan porsi yang tepat bagi anak-anak.
"Jadi kita berharap juga Makan Bergizi Gratis tidak meng-endorse justru menu gorengan ya. Begitu pula dengan daging yang diproses, diawetkan ya," kata pemengaruh kesehatan dari PB-IDI Tan Shot Yen dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu (8/1).
Tan mengatakan, dalam menjalankan program Makanan Bergizi Gratis pada anak-anak, pemerintah perlu memahami konsep dari makanan sehat itu sendiri. Makanan yang sehat artinya memiliki bentuk dan cita rasa yang semakin dekat dengan bentuk asli di alam.
Adapun arti dari makanan seimbang yakni kebutuhan makronutrien anak dapat terpenuhi. Contohnya karbohidrat, protein dan lemak.
Tan mencontohkan pada saat sarapan, pemerintah dapat memberikan menu berisi pisang, pecel, lontong atau tempe bacem. Menunya terlihat sederhana, namun lekat dengan budaya yang ada dan menggunakan bahan pangan lokal.
Sedangkan untuk makan siang, contoh menu yang diberikan adalah jeruk keprok, sup kacang merah, ubi atau singkong, dan telur balado.
Lebih lanjut Tan menyarankan agar pemerintah mewaspadai pilihan menu yang melibatkan delapan jenis makanan dan dapat merugikan kekebalan tubuh anak.
Pertama yakni gula imbuhan yang biasa ada dalam kemasan seperti jus atau camilan. Gula dan pemanis itu menurunkan fungsi imunitas.
Gula darah yang tinggi merusak keseimbangan bakteri usus yang mengubah respons imun, sehingga mudah terpapar infeksi.
Kedua yakni produk tinggi garam karena dapat menghambat fungsi normal imunitas dan memperburuk kondisi penyakit autoimun.
Tan melanjutkan pangan tinggi Omega-6 dapat berisiko mengganggu keseimbangan Omega-3. Terlalu banyak produk nabati dan penggunaan minyak goreng menyebabkan berlebihnya Omega-6.
"Lalu gorengan, saat karbohidrat digoreng terjadi reaksi kimia antara senyawa gula dengan protein dan minyak di saat menggoreng. Advanced
Glycation Endproducts (AGEs) dan Advanced Lipid Oxidation Endproducts (ALEs) selain memperburuk sindroma metabolik, juga menyebabkan peradangan," kata Tan.
Lauk lainnya yang patut diwaspadai adalah daging prosesan dan diawetkan. Lemak jenuh yang tinggi dan rendahnya lemak tak jenuh dinilai Tan semakin mengacaukan sistem kekebalan tubuh.
Panganan cepat saji juga, katanya, diam-diam mengandung phthalates yang berasal dari kemasan plastik yang rembes ke makanan, dan menyebabkan gangguan imunitas hingga menekan keragaman bakteri usus yang akhirnya mengganggu imunitas lagi.
Menurut Tan, produk ultra-proses dengan berbagai imbuhan seperti Carbonmethylcellulose (CMC), Polysorbate 80 (P80) yang digunakan sebagai penstabil nabati berhubungan dengan gangguan kekebalan pada studi hewan percobaan.
"Carrageenan, sirup jagung dan pemanis buatan juga mengganggu sistem imunitas," ucapnya.
Jenis lauk terakhir yang ia sebutkan adalah karbohidrat rafinasi yang merupakan produk tepung dan gula yang telah melalui proses industri.
Tergolong sebagai pangan dengan indeks glikemik tinggi yang meningkatkan gula darah, serta insulin, radikal bebas dan protein peradangan CRP. Karbohidrat rafinasi mengubah bakteri usus dan berimbas pada gangguan daya tahan tubuh. (Ant/Z-1)
Gizi seimbang adalah kombinasi menu makanan sehari-hari yang mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Melalui ompreng (food tray) MBG, para siswa menerima sajian lengkap berupa nasi, sayur, telur atau daging, buah, hingga susu.
Agar tak bingung, soal jenis, kuantitas, dan kualitas yang nutrisi sesuai dengan karakter tubuh kita, kamu bisa manfaatkan fitur Met-U lewat aplikasi U by Prodia.
Dokter spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia, Angela Dalimarta, menyatakan bahwa nutrisi yang tepat merupakan fondasi utama dalam membangun daya tahan tubuh.
Cara penyimpanan makan juga memiliki potensi untuk merusak kandungan nutrisi atau gizi yang terdapat dalam makanan yang nantinya hendak dikonsumsi.
Kandungan natrium (garam) dalam satu bungkus mi instan, khususnya varian kuah, sangatlah tinggi yakni mencapai lebih dari 1.000 miligram.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Pemeriksaan ini dilakukan karena ada laporan pada Sabtu (24/1) yang menduga makanan tersebut terbuat dari bahan Polyurethane Foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Makanan yang sejak awal sudah diolah dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, sangat rentan mengalami degradasi nutrisi jika kembali terkena panas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved