Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
KESEHATAN gigi sering kali dianggap terpisah dari kesehatan umum. Padahal keduanya saling berhubungan erat.
Penelitian terbaru menunjukkan kesehatan gigi yang buruk berdampak negatif pada kesejahteraan mental. Sementara masalah kesehatan mental pun dapat memengaruhi perilaku perawatan gigi.
Dilansir dari The American Institute of Stress, stres dapat membuat seseorang kurang memerhatikan kebersihan gigi dan mulut, seperti menyikat gigi, flossing, atau berkumur. Jika kebiasaan ini terus terabaikan, risiko kerusakan pada gigi dan gusi pun akan semakin meningkat.
Stres atau kecemasan juga dapat terlihat melalui kebiasaan pada gigi dan mulut. Lalu, apa kebiasaan tersebut?
Stres dan kecemasan merupakan salah satu pemicu utama kebiasaan bruxism. Di tengah tekanan hidup sehari-hari, tubuh kadang tidak sadar mengekspresikan ketegangan melalui kebiasaan menggertakkan gigi. Kebiasaan ini biasanya sering terjadi saat tidur.
Menggertakkan gigi, mungkin tampak seperti kebiasaan yang tidak berbahaya atau hal yang sepele. Namun kebiasaan ini memiliki dampak jangka panjang yang dapat merusak kesehatan mulut.
Trauma gigi umumnya terjadi akibat kebiasaan menggertakkan gigi saat stres. Kondisi ini dapat menyebabkan retakan atau patahan pada gigi. Untuk mencegahnya, penggunaan pelindung gigi sangat disarankan. Pelindung gigi dapat mengurangi gesekan yang terjadi saat menggertakkan gigi, sehingga melindungi lapisan enamel gigi.
Kebiasaan menggertakkan gigi akibat stres dapat mengikis lapisan enamel pelindung gigi. Ketika enamel ini rusak, gigi menjadi lebih sensitif, menyebabkan ketidaknyamanan saat mengonsumsi makanan atau minuman panas, dingin, manis, atau asam.
Meskipun hubungan antara stres dan sariawan belum sepenuhnya dipahami, beberapa penelitian menunjukkan stres dapat meningkatkan risiko sariawan berulang. Hindari makanan asam dan pedas, serta gunakan obat salep untuk mempercepat penyembuhan.
Stres dapat memengaruhi hormon dalam tubuh yang berfungsi merangsang produksi air liur. Gangguan produksi saliva ini dapat menyebabkan mulut kering (xerostomia). Ini menjadi tempat ideal bagi bakteri mulut berkembang biak. Bakteri tersebut dapat merusak gigi dan gusi jika dibiarkan.
Mulut kering yang disebabkan stres meningkatkan risiko penyakit gusi. Ditambah dengan kebiasaan hidup tidak sehat, seperti konsumsi junk food atau merokok.
Stres dapat meningkatkan risiko gigi berlubang, terutama jika kebersihan mulut tidak terjaga dengan baik. Sisa makanan yang menempel pada gigi, menjadi tempat berkembangnya bakteri yang menghasilkan asam, penyebab utama gigi berlubang.
Kesehatan gigi dan kesehatan mental adalah dua hal yang berkaitan. Dalam upaya menjaga kesehatan secara keseluruhan, kita perlu menjaga keduanya dengan baik. (kemkes/fkg.ugm/hellosehat/Z-3)
Pelajari ciri-ciri stres fisik, psikologis, dan perilaku serta cara efektif menanggulanginya melalui koping proaktif, mindfulness, olahraga, dan intervensi sosial.
Stres menjadi WNI adalah fenomena yang dapat dialami oleh seseorang karena berbagai faktor, tidak semua orang juga mengalaminya.
Cara seseorang merespons tekanan mental sangat menentukan apakah mereka akan terjatuh ke dalam jerat kecanduan atau tidak.
MASALAH finansial yang memicu stres ternyata dapat merusak kesehatan jantung. Hal itu diungkapkan dalam studi yang dirilis oleh Mayo Clinic Proceedings.
Stres sebenarnya tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam kadar tertentu, stres justru diperlukan untuk menjaga performa kerja agar tetap optimal.
Banyak pekerja tetap memaksakan diri menjalani aktivitas normal meski kondisi tubuh dan pikiran mereka sebenarnya sudah berada di bawah tekanan hebat.
Kolin merupakan nutrisi esensial yang berperan langsung dalam pengaturan suasana hati, daya pikir, dan emosi.
Kafein dalam dosis tinggi dapat merangsang sistem saraf simpatis, yang berdampak pada meningkatnya detak jantung serta munculnya rasa gelisah
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di jagat maya menjadi pemicu utama kecemasan masyarakat saat ini.
Psikolog klinis Phoebe Ramadina membagikan langkah-langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang yang mengalami stres akibat bencana.
Fenomena “kupu-kupu” di perut saat gugup ternyata berkaitan erat dengan sumbu otak-usus. Begini penjelasan ilmiah para ahli.
Anxiety disorder adalah salah satu kondisi terkait kesehatan mental yang paling sering terjadi. Kecemasan yang dirasakan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved