Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
DUGAAN praktik bullying yang marak terjadi di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Indonesia disebabkan karena adanya pembiaran. Hal itu diungkapkan oleh psikolog Seto Mulyadi. Dalam banyak kasus bullying yang terjadi di lingkungan pendidikan, seperti SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, Seto melihat bahwa hal itu disebabkan karena tidak adanya upaya dari pihak-pihak terkait untuk melakukan pencegahan.
“Jadi tidak adanya pencegahan, tidak ada kampanye untuk tidak melakukan tindak kekerasan antarsiswa dan antara senior dan junior dan sebagainya. Misalnya, dikampanyekan sekolah ini ramah anak, bebas dari kekerasan, lalu kita juga tahu bahwa apa yang diajarkan dalam karakter profil pelajar salah satunya ialah akhlak mulia, gotong-royong, bekerja sama dan sebagainya. Ini kurang ditekankan pada itu,” kata Seto saat dihubungi, Kamis (22/8).
Beberapa faktor yang disebutkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengenai tekanan terhadap mahasiswa PPDS, seperti tidak adanya gaji, jam kerja yang padat dan tingginya persaingan, dikatakan Seto sangat masuk akal menjadi pemicu adanya bullying. “Orang sehebat apapun juga, kalau berada dalam lingkungan yang tidak kondusif, penuh tekanan, bagaimana juga, stres dan tidak ada upaya menjaga kesehatan mentalnya, salah satunya akhurnya mencoba menyingkirkan diri karena tidak kuat. Salah satunya menyingkirkan diri ke alam baka,” imbuh Seto.
Baca juga : Ini yang Perlu Dilakukan untuk Cegah Perundungan di Sekolah
Ia menekankan bahwa tindak kekerasan bukan hanya terjadi karena niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Untuk itulah, semua pihak harus bersama-sama mencegah bullying yang timbul di lingkungan pendidikan di Indonesia.
“Kalau seperti yang dilakukan pada anak-anak, dengan tegas stop bullying, stop kekerasan, sekarang juga dan untuk selamanya. Jadi budaya kekerasan harus diganti dengan budaya persahabatan, saling menolong dan akhlak mulia. Bicara mengenai mental sehat, Pancasila, dan itu harus dilakukan dalam praktik sehari-hari dalam kehidupan, termasuk kehidupan pendidikan dokter spesialis tadi,” pungkas Seto.
Dihubungi terpisah, Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji mengungkapkan, melihat banyaknya dugaan kasus bullying di kalangan mahasiswa PPDS, pemerintah tidak boleh diam berpangku tangan. Pasalnya, pendidikan dokter spesialis menjadi krusial di Indonesia yang saat ini masih membutuhkan banyak tenaga dokter spesialis.
“Sudah jadi dokter biayanya mahal, praktik jadi spesialis nggak ada income, gak heran biaya kesehatan jadi mahal sekali di republik ini. Pasti harus dibenahi. Karena ini sangat penting, menyangkut urusan kesehatan masyarakat,” tegas Indra. (H-2)
ChatGPT bukan pengganti terapis. Simak 4 alasan mengapa AI berisiko jika dijadikan tempat curhat masalah kesehatan mental.
Psikolog menilai jika anda menangis tiada henti dan terus menyalahkan diri atas kematian pasangan maka perlu mencari bantuan profesional.
Pendekatan sekolah terhadap siswa pada hari pertama bisa menjadi penentu bagaimana anak akan menjalani proses pendidikan selanjutnya.
"Kalau sudah di atas 7 tahun itu sebenarnya sudah tidak boleh (saat mandi) ditengok-tengok lagi, apalagi sama orangtua yang beda gender, karena menghormati anak juga,"
Perilaku menyimpang tidak semata-mata merupakan bentuk kenakalan, melainkan "sinyal" dari ketidakseimbangan dalam ekosistem kehidupan anak.
Meskipun pertanyaan soal kapan hamil terlihat sederhana, tetapi tidak bisa dipungkiri ada beberapa perempuan yang tersinggung. Ini cara menanggapinya menurut psikolog.
Investigasi kematian siswi SMKA Tun Datu Mustapha, Zara Qairina Mahathir, kini mengarah pada dugaan unsur kriminal dan perundungan.
Berdasarkan catatan SIMKAH Kemenag jumlah pasangan di bawah usia 19 tahun yang menikah menurun signifikan dalam tiga tahun terakhir:
Komisi Amal Inggris menyatakan Pangeran Harry tidak terbukti melakukan perundungan dalam konflik internal organisasi amal Sentebale
JCI Jakarta berkolaborasi dengan HIPMI BPP Banom Womenpreneur untuk mendukung misi penting Kids Biennale Indonesia: memerangi bullying dan kekerasan seksual terhadap anak-anak.
TANGGAL 23 Juli bertepatan dengan Hari Anak Nasional (HAN). Penulis melihat bahwa HAN seharusnya menjadi momentum reflektif, bukan hanya perayaan semata.
Menurutnya, peran sekolah sangat penting bagi tumbuh kembang anak dalam proses pembelajaran.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved