Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS perundungan (bullying) pada anak sering kali memicu reaksi emosional yang hebat bagi orangtua. Namun, psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Saskia Rosita Indasari M.Psi., mengingatkan bahwa reaksi pertama orangtua saat mengetahui anak mereka dirundung akan sangat menentukan proses pemulihan mental sang anak.
Saskia menekankan pentingnya orangtua untuk menjaga ketenangan diri sebelum mencoba menolong anak. Menurutnya, anak cenderung menjadikan respons orangtua sebagai cermin atau contoh dalam menyikapi masalah tersebut.
"Orangtua perlu tetap tenang dan jangan terpancing emosinya, karena anak akan mencontoh respons orangtua menyikapi hal ini. Tenangkan diri dan berikan rasa aman pada anak, misalnya dengan memberi pelukan atau merangkulnya," ujar Saskia, dikutip Sabtu (24/1).
Selain memberikan pelukan, langkah konkret pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa kondisi fisik anak. Hal ini penting untuk mengidentifikasi apakah terdapat tanda-tanda kekerasan fisik yang memerlukan penanganan medis atau bukti tambahan.
Setelah rasa aman tercipta, orangtua disarankan untuk menjadi pendengar yang aktif. Biarkan anak menceritakan kronologi kejadian dan siapa saja pihak yang terlibat.
Penting juga untuk menanyakan apakah anak sudah sempat melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah atau orang dewasa di sekitarnya.
Satu poin krusial yang sering terlupakan adalah menanyakan keinginan anak. Saskia menyarankan orangtua untuk secara terbuka menanyakan apa yang mereka harapkan dari orangtua dalam situasi sulit tersebut.
"Jika anak butuh dukungan atau bantuan dari orangtua, orangtua dapat mendampingi anak menyelesaikan masalah tersebut tanpa orangtua berkelahi dengan sesama orangtua ataupun dengan murid," lanjutnya.
Bagi anak yang sudah memasuki usia sekolah atau remaja, pendekatan yang diambil harus lebih bersifat diskusi. Orangtua perlu mengajak mereka berpikir kritis untuk mencari solusi dan memberikan dukungan moral agar anak berani menuntaskan masalahnya sendiri dengan pendampingan.
Pendekatan berbeda perlu diterapkan jika korban masih berusia di bawah lima tahun atau baru masuk sekolah dasar. Karena keterbatasan kosakata emosi, orangtua bisa menggunakan media cerita atau buku tentang pertemanan dan cara mengelola emosi sebagai sarana edukasi.
Pada akhirnya, kunci utama pencegahan dan penanganan perundungan adalah komunikasi yang hangat dan konsisten. Saskia menyarankan orang tua untuk tidak hanya bertanya, tetapi juga berani membuka diri.
"Selain bertanya, orangtua bisa lebih dulu membuka percakapan dengan menceritakan pengalaman pribadinya saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan apa yang dilakukan saat itu sehingga dengan keterbukaan orang tua, biasanya anak akan ikut terbuka dan bercerita," pungkas Saskia. (Ant/Z-1)
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Mengingat usia buah hatinya yang masih sangat kecil, Nikita Willy lebih fokus pada pengenalan suasana dan nilai-nilai spiritual ketimbang praktik fisik berpuasa.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved