Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
AHLI Gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Fitri Hudayani menyatakan masyarakat dapat mengatur asupan gizi seimbang saat bekerja atau beraktivitas di luar rumah dengan menghindari makanan yang dominan mengandung lemak.
"Jika sudah mengonsumsi makanan tradisional yang mengandung santan, makanan lain yang harus dipilih untuk kita konsumsi adalah makanan yang tidak digoreng atau juga bersantan," kata Fitri, dikutip Rabu (11/10).
Fitri menuturkan sering kali masyarakat yang tidak membawa bekal, membeli makanan yang tinggi lemak dan karbohidrat di sela waktu istirahat beraktivitas. Padahal, makanan tersebut mengandung minyak, santan, kelapa, tepung, atau umbi-umbian dalam bahan olahannya.
Baca juga: Masyarakat Dianjurkan Perbanyak Konsumsi Buah Saat Cuaca Panas
Salah satu jenis makanan yang mengandung banyak lemak adalah makanan tradisional berupa rendang dan sayur lodeh. Memakan hidangan itu dalam jumlah banyak dikhawatirkan dapat menyebabkan asupan energi dalam
tubuh menjadi berlebihan.
Maka dari itu, lanjut dia, konsumsi makanan yang berlemak sebaiknya tidak dilakukan dalam jumlah yang berlebihan atau secukupnya saja.
Kalaupun ingin memakan makanan berlemak, Fitri menyarankan masyarakat untuk menambah lauk lain yang mengandung serat dan rendah energi.
Baca juga: Anda Sedang Diet? Jangan Musuhi Karbohidrat
Ia juga mengingatkan jika asupan gizi seseorang berbeda-beda untuk tiap individu tergantung usia, jenis kelamin dan aktivitas fisik yang dijalani.
"Misalnya pada orang dewasa semakin bertambah usia, maka ada pengurangan kebutuhan energi. Hal ini disebabkan adanya proses perlambatan metabolisme, laki-laki dewasa membutuhkan energi yang lebih tinggi dibandingkan perempuan," ujarnya.
Hal lain yang harus diperhatikan yakni semakin aktif seseorang bergerak dalam kegiatan sehari-hari, maka tubuh akan membutuhkan energi lebih tinggi dibandingkan orang dewasa yang hanya duduk saat melakukan aktivitas pekerjaan.
Setelah memahami dampak dari membeli makanan yang tidak sehat, Fitri menjelaskan cara untuk mengetahui apakah makanan yang dikonsumsi sudah sesuai dengan kebutuhan yaitu dengan mengukur berat badan minimal tujuh hari sekali, guna memastikan berat badan tetap dalam batas normal.
"Kita upayakan indeks massa tubuh kita dalam nilai normal yaitu antara 18,5 hingga 23 kg/m2," ucapnya.
Sedangkan untuk menjaga berat badan tubuh tetap normal sembari berkegiatan, masyarakat dianjurkan menjaga asupan gizi seimbangnya sesuai dengan kebutuhan yang berasal dari karbohidrat.
Takarannya adalah kurang lebih 60% dari kebutuhan energi yang berasal dari makanan pokok, misalnya nasi atau kelompok penukarnya, sayur dan buah-buahan. Adapun 25% energi lainnya berasal dari lemak serta 15% dari sumber protein hewani seperti daging, ikan dan telur.
"Dianjurkan lemak bukan berasal dari sumber lemak jenuh. Misalnya jeroan, kulit, dan gorengan sebagai makanan selingan," ujarnya.
Fitri mengatakan protein hewani juga bisa pula diganti dengan kacang-kacangan yang telah diolah berupa tahu dan tempe yang dikonsumsi sebagai lauk pauk.
"Komposisi di atas dapat diterjemahkan ke dalam susunan makanan sehari-hari, baik yang dikonsumsi di rumah maupun yang disiapkan untuk bekal saat beraktivitas di luar rumah. Begitu juga dengan makanan yang kita beli di luar. Sebaiknya memilih makanan yang memang sehat dan tidak memberikan risiko kelebihan asupan," pungkas Fitri. (Ant/Z-1)
Kunci pembeda utama antara stunting dan stunted terletak pada penyebab dan asupan nutrisi sang anak.
Rasa lapar saat puasa berkaitan erat dengan komposisi menu sahur.
Pemenuhan gizi tidak bisa disamaratakan bagi setiap orang. Strategi nutrisi yang efektif harus menyesuaikan dengan profil fisik dan usia individu.
Kuncinya terletak pada penerapan kebiasaan yang tepat saat sahur, berbuka, hingga pengaturan waktu istirahat agar puasa tidak hanya bernilai ibadah.
PRESIDEN Prabowo Subianto menganugerahkan tanda kehormatan kepada 70 tokoh penggerak gizi dan ketahanan pangan nasional. Itu termasuk jajaran Polri serta tokoh masyarakat
Periode paling krusial bagi perkembangan manusia terjadi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Masyarakat cenderung merasa tidak enak hati jika makanan yang disajikan untuk tamu habis di tengah acara. Akibatnya, porsi makanan sengaja dilebihkan secara masif.
Makanan yang mudah dicerna tidak hanya bermanfaat saat sakit, tetapi juga dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan sehari-hari.
Pemilihan nutrisi yang memiliki efek antiinflamasi dan antioksidatif menjadi kunci utama dalam menjaga keremajaan tubuh.
Kondisi tubuh yang kuat sangat diperlukan agar anak mampu menghadapi berbagai efek samping akibat kemoterapi.
Istilah "makan terakhir" biasanya merujuk pada hidangan pamungkas yang diinginkan seseorang sebelum menutup usia.
Kunci utama pemenuhan serat terletak pada keberagaman jenis pangan yang dikonsumsi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved