Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta Wahyu Kusuma Wardhani meminta orangtua menjadwal waktu makan anak untuk mengenalkan konsep rasa lapar dan kenyang sehingga dapat mencegah kasus obesitas.
"Untuk mencegah obesitas pada anak ada yang namanya feeding rules, nutrisi anak harus diatur. Anak-anak harus mendapatkan kebutuhan karbohidrat, lemak, dan protein yang cukup karena mereka masih memiliki proses perkembangan dan pertumbuhan yang penting di fase hidupnya dan itu semua butuh energi," kata dokter yang akrab disapa Dhani itu, dikutip Minggu (17/9).
Penjadwalan waktu makan yang dimaksud tidak hanya menjadwalkan waktu makan besar dan waktu kudapan tapi juga mengatur komposisi dari bahan-bahan makanan yang diberikan.
Baca juga: Jalan Kaki Paling Ideal untuk Turunkan Berat Badan Penderita Obesitas
Dengan penjadwalan yang tepat makan, rutinitas dan kebiasaan anak akan terbentuk sehingga anak mengenal dengan baik konsep rasa lapar dan rasa kenyang sehingga ia tidak akan makan berlebihan.
Dhani, lebih lanjut, menyarankan untuk pembagian waktu makan ada baiknya orangtua menyiapkan tiga kali waktu makan dalam satu hari dengan masing-masing sesi makan dibatasi maksimal 30 menit.
Sementara untuk waktu kudapan atau snack, bisa disiapkan sebanyak dua kali dalam satu hari dan disarankan kudapan yang diberikan berupa produk segar seperti buah-buahan dan bukannya produk kemasan.
Baca juga: Tata Laksana Anak Obesitas, Ganti Cemilannya
Dokter yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu menyebutkan untuk komposisi makanan yang baik bagi anak mencegah obesitas terdiri dari 50% karbohidrat, dengan komposisi lemak dan protein disesuaikan dengan usia anak.
Untuk lemak, bagi anak di bawah dua tahun dengan berat badan ideal, porsi lemak yang disajikan maksimal 50% dari total kalori harian untuk membantu penyerapan vitamin A,D,E, K.
Sementara, untuk anak di atas dua tahun, disarankan mendapatkan porsi lemak sebesar sepertiga atau 25%-35% dari total kalori harian dengan sumber lemak yang disarankan merupakan lemak nabati.
Untuk protein, berdasarkan angka kecukupan gizi dari Kemenkes, setiap harinya untuk anak berusia 0-6 bulan wajib mendapatkan protein sebesar 12 gram per hari, usia 7-11 bulan 18 gram per hari, usia 1-3 tahun 26 gram per hari, usia 4-6 tahun 35 gram per hari, dan usia 7-9 tahun 49 gram per hari.
Selama menerapkan penjadwalan waktu makan ini, orangtua juga ada baiknya menciptakan situasi makan yang menyenangkan dan tidak memaksa anak sehingga anak bisa makan dan menyerap gizi dengan optimal.
"Nah, orangtua juga perlu menemani anaknya, selain menemani makan agar lebih menyenangkan. Orangtua juga perlu menyiapkan aktivitas yang aktif seperti bermain dan mendampingi anak sehingga obesitas pada anak bisa dicegah," tutup Dhani. (Ant/Z-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Inisiatif ini mempertegas komitmen platform dalam melibatkan orangtua secara langsung untuk menyusun kebijakan dan pengembangan Roblox di masa depan.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved