Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
GUBERNUR Kalimantan Barat Sutarmidji meminta agar pemerintah pusat mengevaluasi upaya restorasi gambut yang kini tengah berjalan. Dia menilai, ada beberapa upaya yang justru tidak efektif.
Salah satu yang dikritisinya ialah pembuatan sumur bor. Sutarmidji menyebut kadangkala sumur bor yang dipasang di area lahan gambut justru tidak berfungsi. Pasalnya, sumur bor dipasang terlalu jauh dari area gambut.
"Jadi saat terjadi kebakaran di gambut, itu perlu air yang banyak. Dan karena sumber air dari gambut itu jauh, akhirnya harus diapasang sumur bor. Tapi sumurnya kadang dipasang asal saja, jauh dari gambut," kata Sutarmidji dalam Forum Merdeka Barat 9, Senin (19/6).
Baca juga : Lahan Gambut di Kalsel Terus Terbakar
Selain itu pembangunan sekat kanal juga dinilainya sering dilakukan secara asal, yakni hanya dibangun tidak sesuai dengan ketinggian gambut.
"Lahan gambut kan ada yang tebalnya 13 sampai 14 meter. Kalau sekat kanalnya hanya dibangun 2 meter sampai 3 meter, ya gak ada manfaatnya. Air kan menyerap ke gambut yang lebih bawah," ucap dia.
Baca juga : Banyak Gagal, Proyek BRGM sejak 2017 Perlu Dievaluasi
Dia menilai, semestinya upaya restorasi gambut dilakukan dengan melakukan solusi jangka panjang. Misalnya menanam tanaman di area gambut dengan melibatkan masyarakat sekitar. Hal itu sudah dilakukan di Singkawang dan terbukti membuahkan hasil.
"Di Singkawang itu ada tanaman talas yang beratnya sampai 7 kilogram. Itu ditanam di lahan gambut yang usianya 7 sampai 8 bulan. Pasti lahan itu mereka jaga, kan," tegas dia.
Selain itu, di Pontianak juga ada yang dinamakan Terminal Agribisnis, yakni tanaman pangan yang ditanam di atas lahan gambut seluas 800 hektare. Setiap hektarenya, bisa menghasilkan sebanyak 18 ton sayur.
"Tapi jelas, pascapanennya harus dipikirkan juga. Bagaimana membuat pabrik tepung talas lalu bagaimana pasarnya, itu harus terencana," ucap dia.
"Jika lahan gambut dikelola dengan terencana seperti ini, ancaman El Nino bisa kita cegah. Dan tentunya dibarengi dengan penegakan hukum yang kuat," pugkas dia. (Z-4)
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Awal 2026 yang seharusnya berada dalam periode musim hujan justru ditandai dengan lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di ekosistem gambut.
Manggala Agni Daops Sumatera V/Dumai bersama TNI, Polisi, BPBD Kota Dumai, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga saat ini masih berupaya keras memadamkan karhutla seluas 2 hektare di Riau.
karhutla di Kabupaten Kotim menghanguskan lahan seluas kurang lebih 8 hektare di Jalan Sawit Raya tepatnya di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, Kalimantan Tengah Kalteng
Terdapat tantangan penyelarasan norma pada regulasi-regulasi yang mengatur tentang Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).
Lokasi rawan kebakaran gambut sebenarnya bisa diidentifikasi lebih awal. Tapi dana daerah baru bisa digunakan setelah bencana terjadi, bukan untuk antisipasi. Itu problem utamanya.
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Keberhasilan Indonesia mencapai target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 sangat bergantung pada percepatan restorasi gambut.
Kemudian, memastikan masyarakat lokal, yang paling tahu tentang gambut, mendapatkan pelatihan dan dukungan
Data historis menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca (GRK) dari lahan gambut serta kebakaran hutan masih menjadi kontributor utama peningkatan emisi nasional.
Kolaborasi antara IPB University dengan Kyoto University bertujuan meningkatkan peran masyarakat sebagai ujung tombak dalam penuntasan masalah gambut yang masih berkelindan di tanah air,
Kubah gambut merupakan sumber air yang sangat penting bagi kesehatan tanah di sekitarnya, terutama saat musim kemarau.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved