Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA disebut memiliki lahan gambut terbesar ke-4 di dunia. Sementara untuk luasan gambut tropis, Indonesia menempati urutan pertama di dunia dengan 13,43 juta hektare. Namun organisasi non pemerintah Pantau Gambut mencatat, sebagai negara pemilik gambut tropis terluas di dunia, hanya 16% area gambut dengan kondisi baik.
Juru Kampanye Pantau Gambut Abil Salsabila memaparkan sejumlah temuan terkait kondisi gambut di Tanah Air. Pertama, sebanyak 95% dari 289 titik sampel gambut non-konsesi di area restorasi pemerintah yang pernah terbakar (burned area) dan kehilangan tutupan pohon (tree cover loss/TCL), telah berubah menjadi perkebunan jenis tanaman lahan kering dan semak belukar.
“Jadi terbengkalai, tidak dilakukan revegetasi, kemudian restorasi,” kata Abil dalam webinar betajuk Warisan Kekacauan Restorasi Gambut Era Jokowi, Rabu (30/10).
Sawit disebut menjadi komoditas paling dominan di area-area itu. Penutupan lahan menjadi hutan juga tidak mendapatkan perhatian karena hanya ditemukan pada 3% area sampel.
Sementara pada area konsesi perusahaan, hanya 1% dari 240 titik sampel area konsesi yang kembali menjadi hutan meski pernah terbakar dan mengalami kehilangan tutupan pohon.
Pantau Gambut menilai bahwa pemerintah harus melakukan langkah pencegahan sebagai upaya penegakan hukum. Langkah penegakan hukum harus menjadi prioritas utama tanpa perlu menunggu terjadinya karhutla terlebih dahulu.
Selain itu, korporasi harus bertanggung jawab mutlak pada area konsesinya. Korporasi juga harus membuktikan klaim keberlanjutan secara berkala dan transparan. Klaim harus diimbangi oleh uji lingkungan secara berkala dan transparan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Kelompok Kerja Teknik Restorasi Gambut Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Agus Yasin memaparkan data bahwa terjadi penurunan karhutla di lahan gambut, terutama di periode-periode dengan EL Nino yang kuat.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat pada 2015 terjadi di lahan seluas 891.275 hektare atau 34% dari total luas karhutla. Jumlah itu turun pada 2019 menjadi 483.111 hektare atau 30% dari total luas karhutla. Kemudian pada 2023 semakin turun menjadi 182.789 hektare atau 16,38% dari total luas karhutla.
“Perbandingan dua periode 2019 dan 2023 karena pada dua periode ini mengalami fenomena sama yakni El Nino yang cukup kuat,” kata Agus.
“Kam masih akui bahwa ini masih menjadi PR kami bahwa masih terjadi kebakaran pada ekosistem gambut kita. Tapi secara year to year kalau kita bandingkan dari 2015, 2019, dan 2023, trennya menurun kalau kita membandingkan pada tahun-tahun di mana terjadi El Nino yang moderat sampai kuat,” imbuhnya.
Ia menekankan bahwa restorasi ekosistem gambut bukan pekerjaan sekali jadi, namun memerlukan waktu dan konsistensi. “Serta karena ekosistem gambut ini mencakup wilayah yang cukup luas, jadi tidak hanya pekerjaan biofisik, namun juga mencakup kerja-kerja sosial dan ekonomi,” ujar Agus.
“Pendekatan kami memang mengedepankan partisipasi aktif masyarakat dan juga konsolidasi para pihak,” pungkasnya. (S-1)
Mulai dari daunnya sebagai atap, air nira bunga nipah dapat diolah menjadi gula, buah nipah yang masih muda dapat dijadikan makanan seperti kolang-kaling. Kemudian lidi dari daun bisa jadi sapu.
Kayu itu dikumpulkan untuk kemudian direbus. Sebanyak 10 kg kayu mangrove, direbus dengan 10 liter air untuk menghasilkan 7 liter cairan tinta.
Pengelolaan lahan gambut berkelanjutan memerlukan komitmen dan kerja sama antar pemangku kepentingan untuk melaksanakan rencana intervensi secara efektif,
(KLHK) tengah menyusun Peraturan Pemerintah (PP) mengenai sistem penyangga kehidupan.
BRGM menargetkan penerapan kurikulum pendidikan lingkungan tematik gambut dengan mengintegrasikan muatan lokal (mulok) di tujuh provinsi prioritas restorasi gambut di Indonesia.
Keberhasilan Indonesia mencapai target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 sangat bergantung pada percepatan restorasi gambut.
Kemudian, memastikan masyarakat lokal, yang paling tahu tentang gambut, mendapatkan pelatihan dan dukungan
Data historis menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca (GRK) dari lahan gambut serta kebakaran hutan masih menjadi kontributor utama peningkatan emisi nasional.
Kolaborasi antara IPB University dengan Kyoto University bertujuan meningkatkan peran masyarakat sebagai ujung tombak dalam penuntasan masalah gambut yang masih berkelindan di tanah air,
Kubah gambut merupakan sumber air yang sangat penting bagi kesehatan tanah di sekitarnya, terutama saat musim kemarau.
Buruknya perlakuan terhadap ekosistem gambut pun menyebabkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ikut meningkat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved