Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Hari ini Selasa, (18/4) di media sosial banyak muncul informasi tentang bayi kembar lima berusia 11 hari yang membutuhkan donor asi. Diketahui ibu lima bayi yang berasal dari kawasan Jakarta Timur (Jaktim) tersebut meninggal dunia tak lama setelah melahirkan mereka. Tak diinformasikan penyebab detail meninggalnya sang ibu, tetapi kasus kematian saat atau pascamelahirkan pada ibu yang mengalami kehamilan kembar memang banyak terjadi.
Kehamilan kembar memang kerap menjadi berita membahagiakan bagi sebuah keluarga. Khususnya mereka yang sudah lama menantikan buah hati. Namun, meski membahagiakan kehamilan kembar sebenarnya memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan tunggal, baik bagi bayi maupun ibu.
Ibu dengan kehamilan kembar umumnya membutuhkan pengawasan, pemeriksaan, dan penanganan lebih intensif. Itu karena beberapa komplikasi kehamilan lebih berisiko terjadi pada ibu yang hamil anak kembar, terutama jika kembar lebih dari dua seperti yang dialami mediang ibu bayi kembar lima asal Jakarta Utara.
Baca juga: Melahirkan Normal Ternyata Masih Mungkin Meski Pernah Operasi Caesar
Disebut lebih berisiko, sebenarnya apa saja risiko yang berpotensi tinggi terjadi pada kehamilan kembar? Berikut ini penjelasannya berdasarkan publikasi dari Universitas Johns Hopkins Medicine, AS.
1. Kelahiran Prematur
Lebih dari 60% kehamilan kembar mengalami kelahiran prematur. Bayi prematur adalah yang lahir pada kehamilan kurang dari 37 minggu. Pada kasus prematur yang parah, bayi lahir pada kehamilan kurang dari 28 minggu.
Bayi yang lahir prematur memilki kondisi tubuh dan organ-organ yang belum matang sehingga membutuhkan penanganan khusus. Pada bayi yang lahir kurang dari 28 minggu kehamilan angka bertahan hidup menjadi rendah karena organ-organnya yang sangat rentan. Bayi prematur membutuhkan penanganan intensif di neonatal intensive care unit (NICU) ketika baru dilahirkan.
2. Hipertensi kehamilan
Hipertensi saat hamil disebut juga dengan eklamsia dan pre-eklamsia. Ini adalah kondisi yang bisa membahayakan pada ibu dan bayi. Pada kehamilan kembar risikonya ternyata berkali-kali lipat terjadi dibandingkan kehamilan tunggal. Pre-eklamsia yang sudah berkembang menjadi eklamsia dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius pada ibu seperti kerusakan ginjal, kerusakan hati, hingga pendarahan otak.
Ketika hipertensi pada ibu hamil tak terkendali, bayi harus dilahirkan saat itu juga untuk menyelamatkan nyawa keduanya, terutama nyawa ibu. Eklamsia adalah salah satu penyumbang terbesar angka kematian pada ibu dan bayi.
Baca juga: Jangan Keliru! Ini Fakta-fakta Terkait Endometriosis yang Perlu Diketahui Wanita
3. Anemia
Anemia berisiko dua kali lebih besar terjadi pada ibu yang hamil kembar dibandingkan tunggal. Karena itu ibu hamil kembar membutuhkan nutrisi dan asupan yang lebih tinggi dibandingkan ibu yang hamil hanya satu bayi.
4. Cacat Lahir
Kehamilan kembar ternyata juga meningkatkan risiko kelahiran bayi dalam kondisi tidak maksimal atau cacat lahir pada tubuh dan organnya. Diantaranya pada pertumbuhan bentuk tubuh, sistem syaraf otak, hingga kesehatan jantung bayi.
5. Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS)
Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS) adalah komplikasi yang hanya bisa terjadi pada kehamilan kembar identik yang berbagi plasenta. Sindrom ini terjadi ketika ada ketidakseimbangan aliran darah pada janin kembar.
Hal ini membuat suplai nutrisi dan oksigen yang kedua janin butuhkan terganggu. Akibatnya, salah satu janin mendapatkan pasokan darah yang melimpah, sedangkan janin lainnya mengalami kekurangan pasokan darah. Pada banyak kasus TTTS salah satu bayi akhirnya tidak bisa bertahan.
Baca juga: BUMIL Merapat! Ini Risiko Obesitas dan Cara Aman Menurunkan Berat Badan Saat Hamil
6. Keguguran
Risiko keguguran pada kehamilan kembar, terutama yang berjumlah lebih dari dua tergolong tinggi. Itu karena berbagai masalah kehamilan sangat mungkin muncul ketika mereka tengah berkembang dalam rahim sang ibu. Karena itu ibu yang hamil kembar harus diawasi dan secara rutin menjalani pemeriksaan oleg dokter.
7. Pendarahan pascamelahirkan
Pada setiap proses melahirkan memang berisiko untuk terjadi pendarahan. Namun, pada kehamilan kembar risikonya menjadi jauh lebih besar. Itu karena pada kehamilan kembar ukuran dan jumlah plasenta bayi jadi lebih besar dan banyak. Itu membuat risiko pendarahan ketika proses pelepasan plasenta jadi lebih besar terjadi.
Seperti diketahui plasenta menempel pada dinding rahim dan pada kondisi normal akan secara otomatis terlepas beberapa menit setelah bayi lahir. Namun, di kasus tertentu plasenta sulit terlepas dan menyebabkan pendarahan hebat pada ibu.
Jadi, itulah beberapa hal yang berisko terjadi pada kehamilan kembar. Kalau Anda sedang atau berencana hamil kembar jangan lupa untuk menyiapkan diri dan melakukan pemeriksaan intensif untuk mencegah terjadinya komplikasi, ya!
(Z-9)
Peneliti ciptakan replika lapisan rahim untuk pelajari proses implantasi embrio. Terobosan ini diharapkan mampu menekan angka keguguran dan meningkatkan sukses IVF.
Studi terbaru HUJI mengungkap embrio dan rahim melakukan dialog molekuler intens melalui vesikel ekstraseluler hanya dalam satu jam setelah pertemuan.
Data Sensus Penduduk 2020 mencatat angka kematian ibu mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup, sementara kematian bayi berada di angka 17 per 1.000 kelahiran hidup.
Studi menemukan ketidakseimbangan hormon tiroid yang berlangsung selama beberapa trimester kehamilan dapat meningkatkan risiko autisme pada anak.
Ibu hamil sebaiknya menghindari makanan yang kurang matang hingga minuman dengan kandungan kafein.
Jo Bo Ah resmi mengumumkan bahwa ia tengah mengandung anak pertamanya.
Direktur Jenderal Kesehatan Layanan Primer dan Komunitas Kemenkes, Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa Jawa Barat menjadi provinsi dengan angka kematian ibu dan bayi tinggi.
Pemkot Bengkulu mencatat angka kematian inu meningkat menjadi empat kasus dan angka kematian bayi naik signifikan dari 65 kasus menjadi 82 kasus pada 2024.
Target 2024 adalah 60 kasus per tahun dan pada 2029 turun menjadi 48 kasus per tahun.
Kemen PPPA mendorong penguatan untuk Pokja PUG (Pengarusutamaan Gender) di Kabupaten Garut.
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia on track mencapai target RPJMN 2024 yaitu 183 per 100.000 kelahiran hidup (KH) dan 16 per 1000 KH.
Berdasarkan data Kemenkes, kematian bayi paling tinggi diakibatkan karena bayi mengalami kelahiran secara prematur sebelum pekan ke-37 kehamilan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved