Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PROGRAMME for International Student Assessment (PISA) pada riset 2018 menempatkan siswa Indonesia pada peringkat 69 dari 77 negara partisipan dalam tingkat literasi pemahaman sains dan peringkat 71 dari 76 negara partisipan dalam tingkat literasi bacaan.
Peringkat yang rendah itu memaksa para stakeholder untuk terus berkolaborasi dan berinovasi untuk meningkatkan tingkat literasi sains yang rendah.
Sejalan dengan itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi Hilmar Farid mengungkapkan perubahan peringkat tersebut adalah sebuah tugas generasi. Oleh karena itu diperlukannya kerja sama yang besar.
Baca juga: Kemendikbud Ristek Pastikan Penggunaan Baju Adat Sebagai Seragam Sekolah bukan Paksaan
“Mengejar peringkat itu tidak bisa dalam semalam, ini adalah urusan generasi. Satu generasi ini yang sedini mungkin mengenal prinsip (sains). Maka, kita harapkan dia akan meneruskan. Jadi, perubahannya tidak akan datang dalam semalam, namun, langkah langkah seperti ini bisa membangun fondasi,” ujar Hilmar dalam Festival Film Sains, di Goethe Institut, Selasa (18/10).
Lebih lanjut, Hilmar juga menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan dan orangtua dalam memperkenalkan dunia sains yang lebih relevan terhadap anak didik.
“Ketika sains dianggap sebagai sesuatu yang abstrak dan jauh dari kehidupan sehari hari, daya tariknya akan berkurang, sementara tidak ada di dunia ini yang tidak berkaitan dengan sains. Karena terkadang yang diajarkan itu, jaraknya terlalu jauh jadi orangtua tidak bisa merasakan itu. Yang paling ideal itu, kalau orangtua bisa terlibat. Dan ini, tantangannya tidak kecil,” ungkap Hilmar.
Sebelumnya, dalam laporan Media Indonesia pada 25 Juli 2018 mengenai alasan skor PISA Indonesia yang rendah, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan (Puspendik) saat itu, Muhammad Abduh menjelaskan bahwa skor PISA Indonesia yang rendah disebabkan oleh tingkat High Order Thinking Skill (HOTS) para anak didik Indonesia tergolong rendah.
“Soal soal HOTS umumnya panjang. Tujuannya, untuk mengukur kemampuan literasi para murid. Berdasarkan penilaian PISA, literasi siswa Indonesia masih rendah. Literasi rendah karena siswa malas membaca soal panjang,” ujar Abduh. (OL-1)
Ilmuwan berhasil menyempurnakan metode penentuan usia permukaan Bulan dengan menggabungkan data sampel Chang’e-6.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Studi terbaru mengungkap makalah ilmiah karya perempuan membutuhkan waktu lebih lama untuk terbit dibanding laki-laki.
Para astronom menjelaskan bahwa gerhana Matahari bukanlah peristiwa acak, melainkan fenomena yang dapat diprediksi secara ilmiah melalui perhitungan orbit Bulan dan Bumi.
Panduan Aman Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
Para ahli astronomi mengingatkan masyarakat untuk tidak melihat gerhana secara langsung dengan mata telanjang, karena dapat membahayakan kesehatan mata
Meski potensi ekonomi digital besar, Indonesia masih menghadapi tantangan serius pada aspek literasi.
Menurut Eka Kurniawan, kunci utama untuk meningkatkan kemampuan menulis terletak pada kombinasi antara asupan literasi yang beragam dan latihan fisik yang konsisten.
Skor PISA 2022 menempatkan literasi membaca siswa Indonesia pada angka 359 poin, masih di bawah rata-rata internasional.
MEMPERINGATI Hari Pendidikan Internasional, The Sunan Hotel Solo sukses menggelar “Solo Book Party – Edisi Spesial 2 Tahun SBP” bersama Solo Book Party (SBP).
Di kota ini berdiri banyak sekali lembaga pendidikan tinggi, dan rata-rata terbaik se-Indonesia
Buku Tumpeng Indonesia: Dari Dapur Tradisional Menuju Meja Bangsa disusun untuk memberikan perspektif luas mengenai tumpeng sebagai bagian dari kebudayaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved