Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Yayasan Alazka Ambil Peran Strategis, Jadikan Sekolah Pusat Pembentukan Budaya Literasi

Syarief Oebaidillah
29/1/2026 18:09
Yayasan Alazka Ambil Peran Strategis, Jadikan Sekolah Pusat Pembentukan Budaya Literasi
Ilustrasi(Dok Istimewa)

DI tengah tantangan literasi nasional, upaya penguatan budaya membaca, menulis, dan riset harus terus digalakkan mulai dari lingkungan sekolah. Meskipun Indonesia telah mencatat tingkat melek huruf yang cukup tinggi mencapai kurang lebih 96,6 persen, kualitas literasi masih menjadi pekerjaan rumah besar. 

Hal ini terlihat dari skor PISA 2022 yang menempatkan literasi membaca siswa Indonesia pada angka 359 poin, masih di bawah rata-rata internasional. Kondisi ini menandakan bahwa persoalan literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca, melainkan mencakup kemampuan memahami, mengkritisi, dan memproduksi pengetahuan.

Merespons hal tersebut, Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading (Alazka) Jakarta menggelar "Alazka Bincang Literasi & Riset" di Studio 8 Avicenna Alazka. Acara ini menghadirkan Farrel Ahmad Wijaksana, cicit Buya Hamka sekaligus penulis buku HAMKA dan Westernisasi Indonesia. Kegiatan yang diikuti oleh siswa dan guru dari jenjang SD hingga SMA ini dipandu oleh Anisya Gustiani, guru SMP Alazka peraih Juara 2 Nasional LINKAR 2025. 

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading, Irsan Nurfaqih Sjamhudi, menegaskan bahwa sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, melainkan harus menjadi pusat pembentukan budaya literasi sebagai fondasi peradaban. Ia berharap ekosistem ini mampu mendorong siswa dan guru untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga menghasilkan karya buku dan riset yang berdampak nyata.

Pada sesi utama, Farrel Ahmad Wijaksana berbagi proses kreatifnya dalam menulis dan melakukan riset sejarah. Ia mendorong para siswa untuk berani menuangkan gagasan dan menekankan bahwa menulis adalah cara membangun peradaban kecil yang kelak bisa berdampak besar. Selain dialog interaktif, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi Alazka untuk memperkenalkan program pengembangan karya tulis sebagai bagian dari gerakan literasi produktif. 

Gerakan ini bertujuan agar literasi tidak berhenti pada konsumsi informasi, melainkan berujung pada penciptaan gagasan dan solusi. Sebagai komitmen jangka panjang, Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading menjadikan literasi sebagai fondasi utama pendidikan sejak usia dini, mulai dari jenjang TK hingga SMA. 

Program ini diwujudkan melalui pembangunan budaya riset sekolah, di mana guru berperan sebagai fasilitator yang melatih siswa mengamati masalah hingga mempresentasikan temuan. Dalam implementasinya, Sekolah Alazka mengintegrasikan tiga kurikulum, yaitu Kurikulum Nasional, Kurikulum Cambridge untuk kompetensi global, serta Kurikulum Khas Alazka yang menekankan karakter Islami dan riset terapan. Melalui sinergi ini, Alazka menargetkan lahirnya generasi pembelajar yang cerdas literasi, unggul secara akademik, dan siap berkontribusi bagi bangsa dan peradaban. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya