Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
ANAK usia sekolah dasar yang tidur kurang dari durasi yang direkomendasi tiap malamnya menunjukkan perbedaan pada bagian otak yang berhubungan dengan ingatan, kecerdasan, dan kesehatan. Hal itu terungkap dalam sebuah penelitian yang dilansir baru-baru ini.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Lancet Child & Adolescent Health itu, para ilmuwan dari Universitas Maryland memeriksa hasil MRI dan rekam medis milik lebih dari 8.300 anak berumur 9-10 tahun, juga survei yang diisi oleh partisipan bersama orangtua mereka.
Tim mendapati korelasi antara kurang tidur dan isu kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan ingatan, termasuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Baca juga: Jam Masuk Sekolah Dinilai terlalu Pagi Buat Siswa
Peneliti memperhitungkan status sosial ekonomi, jenis kelamin, status pubertas, dan faktor lain yang dapat memengaruhi kebiasaan tidur dan fungsi otak anak.
Evaluasi lanjutan menunjukkan bahwa kebiasaan tidur kelompok yang tidak memenuhi rekomendasi 9 sampai 12 jam per malam tidak berubah secara signifikan selama dua tahun.
“Kami menemukan anak-anak yang kurang tidur, kurang dari sembilan jam per malam, pada awal penelitian memiliki materi abu-abu yang lebih sedikit atau volume yang lebih kecil di area otak tertentu yang berperan untuk perhatian, memori, dan kontrol penghambatan, dibandingkan dengan mereka yang memiliki kebiasaan tidur yang sehat,” kata penulis studi Ze Wang.
"Perbedaan ini bertahan setelah dua tahun, sebuah temuan mengkhawatirkan yang menunjukkan bahaya jangka panjang bagi mereka yang tidak cukup tidur," lanjutnya.
The American Academy of Sleep Medicine merekomendasikan antara 9 dan 12 jam tidur setiap malam untuk anak-anak usia 6 hingga 12 tahun.
Orangtua dapat membantu anak-anak mereka mencapai tujuan tidur ini dengan membatasi penggunaan gawai saat waktu tidur mendekat dan menetapkan jadwal tidur yang konsisten.
“Ini adalah temuan studi penting yang menunjukkan seberap penting melakukan studi jangka panjang pada otak anak yang sedang berkembang,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Maryland E Albert Reece.
“Tidur sering diabaikan selama masa kanak-kanak yang sibuk dengan pekerjaan rumah dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekarang kita melihat betapa merugikannya hal itu bagi perkembangan anak,” lanjutnya. (OL-1)
Durasi batuk merupakan indikator paling krusial dalam mendeteksi TB, terutama pada orang dewasa.
TB pada anak bukan sekadar batuk biasa, melainkan ancaman terhadap masa depan mereka.
Edukasi seksual ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Gangguan hormon yang tidak ditangani sejak dini dapat menghambat perkembangan organ reproduksi secara optimal.
Proses grooming biasanya dimulai dengan upaya halus untuk menumbuhkan rasa percaya.
Child grooming adalah proses manipulatif ketika pelaku, biasanya orang dewasa, membangun hubungan emosional dengan seorang anak.
Kepemilikan ponsel pintar pada remaja awal dikaitkan dengan faktor risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
Waktu tidur yang cukup membantu menyiapkan tubuh anak di tengah cuaca yang tidak menentu.
Penderita sakit pinggang direkomendasikan tidurnya dengan posisi telentang kasurnya jenis medium sampai medium firm, jangan terlalu keras.
Tidur bukan hanya istirahat. Studi baru ungkap peran hormon pertumbuhan yang bangun otot, tulang, metabolisme, hingga kejernihan otak esok hari.
Tidur bukan sekadar istirahat, melainkan proses biologis penting yang dikendalikan oleh otak dan hormon, seperti melatonin.
Riset terbaru University of Michigan menemukan neuron di hipotalamus berperan menjaga kadar gula darah, terutama pada empat jam pertama tidur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved