Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSIM libur sekolah hampir tiba. Tentu banyak orangtua yang saat ini sudah merencanakan liburan bersama keluarga dengan mengunjungi berbagai destinasi wisata.
Sebagai ibu dua anak yang juga sedang merencanakan liburan, psikolog Alsi Mega Marsha Tengker alias Caca Tengker membagikan tips liburan menyenangkan dan aman bersama anak.
Menurut adik dari artis Nagita Slavina itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mendiskusikan tujuan liburan bersama-sama
dengan melibatkan anak.
Baca juga: Isi Liburan Sekolah dengan Ajak Anak Bermain Sambil Belajar
"Karena, pelajarannya dari liburan sebelumnya, kita kan bawa mereka ke mall to mall lalu melihat barang jadi konsumtif banget. Karena Ansara juga sudah sangat tertarik banget melihat barang ini-itu, dan aku lupa mengomunikasikan tujuan liburan kita, jadinya dia banyak keinginan yang tidak terpenuhi lalu kesel," ujar Caca saat virtual media gathering, dikutip Kamis (16/6).
Caca mengatakan, ketika sudah punya satu tujuan bersama, dia dan sang suami biasanya jadi lebih mudah untuk saling mengingatkan.
"Karena kalau kita tujuannya masih masing-masing, aku pengin belanja ini, suamiku pengin eksplor itu, itu bikin kita gampang terdistraksi saat melihat sesuatu. Sedangkan kalau tujuannya sama, misalnya untuk bonding sama anak, kita pasti akan mengedepankan kebutuhan itu," imbuhnya.
Caca mengatakan liburan dapat menjadi momen untuk meningkatkan bonding bersama anak. Untuk itu, orangtua perlu mengosongkan waktu dari hal-hal lain sehingga bisa fokus menemani anak.
"Kosongkan waktu bener-bener untuk anak. Jadi bukan sambil mikirin belanjaan kita sendiri, atau bahkan mikirin kerjaan," kata Caca.
"Jadi di waktu liburan sekolah anak nanti, aku juga berencana untuk benar-benar off dari kerjaan. Benar-benar untuk bonding sama anak dan meningkatkan secure attachment sama anak. Jadi benar-hadir enggak cuma secara fisik aja, tapi mentally juga," lanjut dia.
Hal yang tidak kalah penting menurut Caca saat membawa anak liburan adalah memilih destinasi wisata yang ramah anak. Pastikan juga untuk melihat perkembangan kasus covid-19 di kota tujuan agar liburan tetap aman.
"Gimana sih di sana peraturannya tentang covid-19, misalnya. Terus gimana kebersihannya, budayanya aman enggak untuk anak, lalu tempat yang mau kita kunjungi aman enggak untuk anak," tutur Caca.
Terakhir, Caca mengingatkan pentingnya menyiapkan waktu untuk beristirahat. Pasalnya, menurut dia, orangtua kadang lupa bahwa anak membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak.
"Kalau sudah kelelahan, anak lelah, relakan kegiatannya untuk istirahat. Ingat juga jam makan kita, jam makan anak, sebisa mungkin teratur dan bergizi," ujar Caca.
Selain itu, menurut Caca, anak juga butuh waktu untuk adaptasi dan merasa nyaman dengan tempat baru.
"Kadang-kadang, kita terlalu ambisius. Mau pergi ke satu tempat, lalu biar murah nginep di hotel cuma tiga hari. Tapi jarak perginya dua hari. Kalau orang dewasa mungkin udah biasa. Tapi kan anak butuh waktu untuk adaptasi, untuk merasa nyaman," pungkasnya. (Ant/OL-1)
Awas, saat liburan ternyata ada peningkatan kasus gangguan kardiovaskular. Simak gejalanya berikut.
Pemilihan destinasi yang tepat diharapkan dapat memberikan pengalaman liburan yang lebih personal dan bermakna.
Musim sakura selalu menjadi salah satu periode perjalanan yang paling ditunggu wisatawan asal Indonesia.
Liburan 2026 tanpa bikin tabungan jebol? Simak tips perencanaan finansial ala HSBC agar traveling tetap nyaman tanpa mengganggu stabilitas keuangan
MENINGKATNYA mobilitas masyarakat, baik untuk keperluan bisnis maupun liburan, mendorong perubahan pola kebutuhan perlindungan perjalanan.
Nicole Kidman merayakan status barunya dengan petualangan ke Antartika bersama anak-anaknya.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved