Minggu 10 Oktober 2021, 15:03 WIB

Pemasungan Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia Makin Meningkat

Widjajadi | Humaniora
Pemasungan Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia Makin Meningkat

MI/Widjajadi
Plt Dirjen P2MK Maxin Rain saat perayaan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2021 di RSJ Solo, Minggu (10/10/2021).

 

KASUS pemasungan terhadap warga penderita gangguan jiwa di Indonesia makin meningkat, seiring masih adanya sikap keluarga dan masyarakat yang masih menganggap aib, ketika anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa, termasuk skizofrenia.

Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Kemenkes, dr Maxin Rain Rondonuwu ketika berbicara kepada wartawan dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Solo tidak menyebutkan secara angka, terkait peningkatan kasus pemasungan terhadap warga yang terkena gangguan jiwa.

Menurut Maxin, peningkatan angka pemasungan terjadi, karena masih melekatnya stigma pada sebagian masyarakat, bahwa anggota keluarga menderita gangguan jiwa adalah aib, sehingga harus dikucilkan, dengan cara dipasung.

Baca juga: Anggota DPR: Siapkan Teknis Pembukaan Kembali Ibadah Umrah

Dia menegaskan, pandemi covid-19 yang hampir berjalan dua tahun ini, memberikan dampak tekanan mental luar biasa bagi masyarakat di Indonesia.

Bahkan Maxin menegaskan, sekitar 20 persen penduduk Indonesia memiliki potensi masalah gangguan jiwa. Ini artinya 1 di antara 5 penduduk berisiko mengalaminya, terutama pada masa pandemi covid-19 yang memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental warga.

Wakil Walikota Solo  Teguh Prakosa mengatakan, pada masa pandemi covid-19 ini, tekanan mental memang memang menghinggapi warga secara luar biasa, dan ada yang berujung dengan kematian.

"Pada masa pandemi ini, warga isoman di Kota Solo yang meninggal lebih banyak dari pada meninggal karena perawatan. Ini semua karena mereka terkena tekanan mental," katanya ketika menghadiri peringatan Hari Kesehatan Mental se-Dunia di RSJ Surakarta.

Maxin pada bagian lain mengtatakan, masalah lain yang dihadapi untuk perawatan bagi warga yang mengalami gangguan jiwa adalah terbatasnya sarana pelayanan, termasuk RS Jiwa.

Baca juga: Peningkatan Akurasi Data Dibutuhkan untuk Tingkatkan Program Vaksinasi

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam pidato secara virtual pada peringatan Hari Kesehatan Mental mengatakan, belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa. Saat ini baru ada 34 RSJ di Indonesia milik pemerintah dan swastas.

"Sehingga tidak semua orang dengan gangguan jiwa bisa mendapat pengobatan yang semestinya," kata Budi Gunadi.

Sejauh ini, tegas Budi, pemerintah terus memiliki komitmen untuk meningkatkab layanan perawatan, meski masalah sumber daya manusia profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sangat kurang.

Dari data yang diperoleh Media Indonesia, hingga hari ini jumlah psikiater sebagai tenaga profesional untuk pelayanan kesehatan jiwa baru ada 1.053 orang. Satu tenaga psikiater di Indonesia sedikitnya harus menangani 250 warga. (H-3)

Baca Juga

dok.Ant

Pasien Covid-19 di RSDC Wisma Atlet Kemayoran Tinggal 137 Orang

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Jumat 03 Desember 2021, 10:40 WIB
SEMPAT melonjak naik, jumlah pasien di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran terus...
ANTARA

Antisipasi Omicron, Luhut: Seluruh Pejabat Dilarang ke Luar Negeri

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 03 Desember 2021, 10:07 WIB
pejabat di republik ini tidak diperkenankan berpelesiran ke negara...
dok.mi

Kominfo: Konten Pornografi, Perjudian dan Penipuan Dominasi Ruang Digital Indonesia

👤Faustinus Nua 🕔Jumat 03 Desember 2021, 09:15 WIB
KEMENTERIAN Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melaporkan konten pornografi mendominasi ruang digital...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya