Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Mengenal Skizofrenia, Gangguan Jiwa yang Dapat Dipulihkan

Atalya Puspa    
11/11/2025 11:30
Mengenal Skizofrenia, Gangguan Jiwa yang Dapat Dipulihkan
Ilustrasi(Freepik)

SKIZOFRENIA merupakan salah satu gangguan jiwa berat yang masih menjadi tantangan bagi para profesional kesehatan jiwa untuk dipulihkan. 

Meski demikian, dengan penanganan yang tepat dan dukungan terapi yang menyeluruh, penyandang skizofrenia tetap memiliki peluang untuk pulih, berfungsi kembali, serta hidup secara produktif dan mandiri.

Dilansir dari laman resmi Kemenkes, skizofrenia merupakan gangguan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan zat biokimia atau neurotransmiter di dalam otak. 

Ketidakseimbangan tersebut dapat muncul akibat berbagai faktor, antara lain faktor genetik, riwayat penyakit berat seperti kejang atau gangguan tiroid, trauma kepala, penggunaan narkoba, maupun tekanan psikologis seperti kehilangan, kekecewaan, dan stres berat dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan sikap, perilaku, dan pola pikir menjadi tanda yang paling mudah dikenali dari skizofrenia. 

Penderita biasanya mengalami halusinasi, misalnya mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya, melihat bayangan, atau mencium bau yang sesungguhnya tidak ada. 

Gejala lainnya berupa delusi atau keyakinan yang keliru, seperti merasa diikuti, diawasi, atau memiliki kekuatan luar biasa. Pasien juga sering berbicara tidak nyambung, sulit memahami percakapan, serta memperlihatkan emosi yang tidak stabil. 

Dalam beberapa kasus, mereka dapat menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan fokus, daya ingat, dan kemampuan berpikir logis. Semua gejala tersebut merupakan akibat dari gangguan kimiawi yang terjadi di dalam saraf otak.

Masih banyak mitos yang berkembang di masyarakat mengenai skizofrenia, seperti anggapan bahwa penyakit ini merupakan kutukan, akibat santet, atau tanda kurangnya keimanan. 

Padahal, berdasarkan penelitian medis, skizofrenia merupakan gangguan medis yang dapat diobati. Dengan diagnosis dan terapi yang cepat serta tepat, penderita memiliki peluang besar untuk sembuh. 

Hidup berdampingan dengan orang yang mengalami skizofrenia bukanlah hal yang mustahil selama pasien menjalani pengobatan dan terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Penanganan skizofrenia dilakukan secara terpadu melalui tiga pilar utama, yaitu pengobatan, psikoterapi, dan rehabilitasi psikososial. Pengobatan dilakukan dengan menggunakan obat antipsikotik yang berfungsi menstabilkan kembali zat kimia di otak. 

Obat tersebut dapat diberikan dalam bentuk tablet, sirup, maupun suntikan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, tergantung kebutuhan pasien. 

Sementara itu, psikoterapi membantu pasien melalui percakapan yang produktif dan konstruktif agar dapat membentuk cara berpikir baru dan lebih positif terhadap kehidupan.

Rehabilitasi psikososial menjadi tahap penting dalam proses pemulihan karena pasien biasanya mengalami berbagai disabilitas yang menghambat kemampuan mereka untuk mengurus diri, berkomunikasi, serta merencanakan kehidupan. 

Program rehabilitasi meliputi pelatihan keterampilan sosial, latihan okupasi dan vokasional, psikoedukasi, remediasi kognitif, hingga dukungan pekerjaan. 

Melalui tahapan ini, pasien dibekali kemampuan untuk kembali berfungsi di masyarakat dan menjalani kehidupan yang produktif.

Dengan dukungan keluarga, masyarakat, dan tenaga medis, orang dengan skizofrenia dapat kembali menatap masa depan dengan optimisme. Skizofrenia bukan akhir dari segalanya, melainkan kondisi yang bisa dipulihkan melalui pengobatan dan pendampingan yang berkelanjutan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya