Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SKIZOFRENIA merupakan salah satu gangguan jiwa berat yang masih menjadi tantangan bagi para profesional kesehatan jiwa untuk dipulihkan.
Meski demikian, dengan penanganan yang tepat dan dukungan terapi yang menyeluruh, penyandang skizofrenia tetap memiliki peluang untuk pulih, berfungsi kembali, serta hidup secara produktif dan mandiri.
Dilansir dari laman resmi Kemenkes, skizofrenia merupakan gangguan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan zat biokimia atau neurotransmiter di dalam otak.
Ketidakseimbangan tersebut dapat muncul akibat berbagai faktor, antara lain faktor genetik, riwayat penyakit berat seperti kejang atau gangguan tiroid, trauma kepala, penggunaan narkoba, maupun tekanan psikologis seperti kehilangan, kekecewaan, dan stres berat dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan sikap, perilaku, dan pola pikir menjadi tanda yang paling mudah dikenali dari skizofrenia.
Penderita biasanya mengalami halusinasi, misalnya mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya, melihat bayangan, atau mencium bau yang sesungguhnya tidak ada.
Gejala lainnya berupa delusi atau keyakinan yang keliru, seperti merasa diikuti, diawasi, atau memiliki kekuatan luar biasa. Pasien juga sering berbicara tidak nyambung, sulit memahami percakapan, serta memperlihatkan emosi yang tidak stabil.
Dalam beberapa kasus, mereka dapat menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan fokus, daya ingat, dan kemampuan berpikir logis. Semua gejala tersebut merupakan akibat dari gangguan kimiawi yang terjadi di dalam saraf otak.
Masih banyak mitos yang berkembang di masyarakat mengenai skizofrenia, seperti anggapan bahwa penyakit ini merupakan kutukan, akibat santet, atau tanda kurangnya keimanan.
Padahal, berdasarkan penelitian medis, skizofrenia merupakan gangguan medis yang dapat diobati. Dengan diagnosis dan terapi yang cepat serta tepat, penderita memiliki peluang besar untuk sembuh.
Hidup berdampingan dengan orang yang mengalami skizofrenia bukanlah hal yang mustahil selama pasien menjalani pengobatan dan terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Penanganan skizofrenia dilakukan secara terpadu melalui tiga pilar utama, yaitu pengobatan, psikoterapi, dan rehabilitasi psikososial. Pengobatan dilakukan dengan menggunakan obat antipsikotik yang berfungsi menstabilkan kembali zat kimia di otak.
Obat tersebut dapat diberikan dalam bentuk tablet, sirup, maupun suntikan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, tergantung kebutuhan pasien.
Sementara itu, psikoterapi membantu pasien melalui percakapan yang produktif dan konstruktif agar dapat membentuk cara berpikir baru dan lebih positif terhadap kehidupan.
Rehabilitasi psikososial menjadi tahap penting dalam proses pemulihan karena pasien biasanya mengalami berbagai disabilitas yang menghambat kemampuan mereka untuk mengurus diri, berkomunikasi, serta merencanakan kehidupan.
Program rehabilitasi meliputi pelatihan keterampilan sosial, latihan okupasi dan vokasional, psikoedukasi, remediasi kognitif, hingga dukungan pekerjaan.
Melalui tahapan ini, pasien dibekali kemampuan untuk kembali berfungsi di masyarakat dan menjalani kehidupan yang produktif.
Dengan dukungan keluarga, masyarakat, dan tenaga medis, orang dengan skizofrenia dapat kembali menatap masa depan dengan optimisme. Skizofrenia bukan akhir dari segalanya, melainkan kondisi yang bisa dipulihkan melalui pengobatan dan pendampingan yang berkelanjutan. (Z-1)
Sangat penting untuk seorang penderita Skizofrenia maupun GB bisa cepat terdiagnosis dan mendapatkan penanganan medis yang tepat oleh personel medis yang kompeten.
Seorang wanita berusia 23 tahun berinisial A nekat melompat dari lantai 19 Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Aksi itu ia lakukan lantara panik saat mengetahui ada ODGJ di unit kamarnya.
OCD dicirikan oleh dua elemen utama, yaitu obsesi dan kompulsi, yang terjadi berulang kali dan sulit untuk dikendalikan oleh penderitanya.
Dilansir dari berbagai sumber, penderita gangguan jiwa tertinggi di Indonesia terdapat di DKI Jakarta. Sebanyak 24,3% penderita gangguan jiwa di Jakarta.
Nurma mengatakan, tidak ada gelagat aneh yang diperlihatkan tersangka saat menjalani pemeriksaan. Saat ini kondisi tersangka sudah mulai stabil.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan capaian dan penghargaan inovasi daerah tidak boleh menjadi titik akhir dalam berinovasi.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Dengan teknologi bedah robotik, standar perawatan bedah tidak lagi dibatasi oleh jarak geografis, melainkan ditentukan oleh kualitas keahlian dan presisi teknologi.
Bupati Samosir Vandiko Gultom mengusulkan peningkatan daya dukung fasilitas kesehatan di Samosir agar sejalan dengan statusnya sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved