Senin 02 Agustus 2021, 21:00 WIB

KLHK: Pembangunan Taman Nasional Komodo Tidak Ganggu Ekosistem

Atalya Puspa | Humaniora
KLHK: Pembangunan Taman Nasional Komodo Tidak Ganggu Ekosistem

ANTARA /KORNELIS KAH
Petugas bermasker berjaga di pintu masuk kawasan wisata Pulau Kelor di Taman Nasional (TN) Komodo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (18/7/2020).

 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan bahwa pembangunan destinasi wisata di Taman Nasional Komodo tidak akan berdampak pada ekosistem serta keberlangsungan hidup komodo yang ada di sana. Ungkapan tersebut merupakan tanggapan KLHK atas permintaan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) kepada Indonesia untuk menghentikan sementara proyek pembangunan destinasi wisata di Taman Nasional Komodo.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) KLHK Wiratno mengungkapkan, bahkan pembangunan destinasi wisata di wilayah tersebut hanya 1% dari total wilayah yang ada.

"Pembangunan untuk sarana dan prasarana di sana luasnya gak ada 1 hektare dari Taman Nasional Komodo yang luasnya mencapai 173.300 hektare. Hanya 1% dan itu yang banyak orang tidak tahu," kata Wiratno kepada Media Indonesia, Senin (2/8).

Baca juga: Modus Pemotongan Bansos Oleh Pejabat Desa

Terkait dengan sorotan UNESCO mengenai kekhawatiran akan mengganggu ekosistem Taman Nasional Komodo yang menjadi salah satu World Heritage, Wiratno memastikan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan kondisi dan dampak lingkungan dari pembangunan yang dilaksanakan.

Misalnya saja, ia menyebut bahwa sebanyak 3.022 komodo yang hidup di Taman Nasional Komodo tidak merasakan dampak apapun dari adanya pembangunan tersebut. Adapun, secara spesifik ia menyebut terdapat 1.320 ekor komodo yang hidup di sekitar Pulau Rinca yang kini tengah dibangun. Semua komodo tersebut terus dipantau dan dipastikan dalam keadaan aman.

"Ada 8 ekor komodo yang paling sering aktif di sekitar pembangunan. Kita sudah memantau dampak kegiatan aktivitas manusia dan tidak terbukti ada komodo yang terbunuh atau meninggal," ungkap Wiratno.

"Selain itu, isu pengusiran masyarakat juga tidak ada. Malah mayarakat di sana kita bangunkan pagar, karena di sana ada anak kecil yang digigit komodo. Tidak ada isu pemindahan penduduk segala macam," tegas dia.

Ia menyatakan, Indonesia juga telah mengirimkan revisi dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dari pembangunan di Taman Nasional Komodo kepada duta besar Indonesia di Paris pada Juli 2021 ini.

Wiratno melanjutkan, pihaknya menghargai usulan UNESCO untuk Taman Nasional Komodo. Namun, ia kembali menegaskan bahwa pembangunan yang dilakukan di sana bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kunjungan agar mencapai skala internasional.

"Pembangunan ini sudah mau selesai akhir Agustus atau awal September. Nanti kita buat manajemen pengunjung di sana. Gak ada masalah, semua gak ada masalah," tutup dia. (H-3)

Baca Juga

metro tv

Doa Angelus, Doa Malaikat Tuhan yang Dibaca 3 Kali Sehari

👤Joan Imanuella Hanna Pangemanan 🕔Selasa 04 Oktober 2022, 10:08 WIB
Doa Angelus atau Doa Malaikat Tuhan atau AngelusDomini merupakan sebuah devosi untuk menghormati penjelmaan Tuhan yang telah menjadi...
dok.ant

PPKM Level 1 se Indonesia Diperpanjang hingga 7 November 2022

👤Indriyani Astuti 🕔Selasa 04 Oktober 2022, 08:22 WIB
PEMERINTAH kembali memperpanjang Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah Jawa-Bali dan Luar Jawa-Bali hingga 7 November, karena...
Ist/DPR

DPR Mendorong Sertifikasi Bidan dan Perawat Standar Internasional

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 04 Oktober 2022, 08:18 WIB
Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Firman Soebagyo mendorong pemerintah untuk melakukan sertifikasi internasional untuk bidan dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya