Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Dulu Gendong, Sekarang Nongkrong: Wajah Baru Jamu di Indonesia

Rifaldi Putra Irianto
05/2/2026 12:30
Dulu Gendong, Sekarang Nongkrong: Wajah Baru Jamu di Indonesia
Kepala Badan POM Taruna Ikrar (ketiga dari kanan) dalam peresmian Cafe Jamu Indonesia acaraki di PIK 2.(Dok. Rifaldi Putra Irianto )

Dulu Gendong, Sekarang Nongkrong : Wajah Baru Jamu di Indonesia

DI sudut Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, kawasan yang lekat dengan denyut gaya hidup urban, jamu menemukan wajah barunya. Bukan lagi sekadar minuman tradisional yang diwariskan dari dapur ke dapur, tetapi pengalaman budaya yang dirayakan, dikurasi, dan dihadirkan dengan bahasa zaman.

Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), Taruna Ikrar, mengatakan semakin populernya jamu di berbagai kalangan, termasuk yang dihadirkan dalam wujud cafe, menjadi sebuah penanda bahwa jamu tengah melangkah ke babak baru sejarahnya. Bagi Taruna, jamu tidak pernah sekadar soal nostalgia. Ia memandang jamu sebagai warisan pengetahuan, kekayaan biodiversitas, sekaligus potensi ekonomi kreatif.

‎"Selama ini jamu itu terkesan pahit, tradisional, dan tidak punya penampakan kelihatannya kurang bersih. Tapi dengan hari ini di acaraki, kita buktikan bahwa kekayaan yang telah terdaftar di UNESCO yang memiliki nilai ekonomi yang sangat besar, ditambah dengan nilai budaya yang luar biasa," kata Taruna dalam peresmian Cafe Jamu Indonesia acaraki di PIK 2, Banten, Rabu (4/2).

‎Taruna Ikrar mengapresiasi langkah acaraki yang mengembangkan jamu secara bertanggung jawab dan patuh terhadap ketentuan. Bagi dia, inovasi berbasis bahan alam hanya akan bermakna jika tetap mengedepankan keamanan dan mutu. Kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia, kata Taruna, dibangun dari kepastian standar bukan semata klaim.

‎Secara personal, Taruna Ikrar memberi contoh yang sederhana namun bermakna. Setiap pagi, ia rutin mengkonsumsi jamu jahe. Sebuah kebiasaan yang mencerminkan keyakinannya bahwa budaya minum jamu adalah tradisi baik yang tidak boleh hilang. Ia harus diwariskan, dengan bahasa dan pendekatan yang relevan dengan zaman.

‎Sementara itu, Founder acaraki, Jony Yuwono, menyampaikan Cafe Jamu Indonesia yang dihadirkan acaraki mengusung konsep Jamu Experience Cafe. Pengunjung diajak memahami filosofi jamu, tentang jampi (doa), oesodo (kesehatan), dan pengetahuan lintas generasi sekaligus menikmati inovasi yang dikemas dengan selera masa kini.

‎"Kalau misalnya ditanya apakah Acarakki mencoba bersaing dengan jamu gendong? Enggak. Target kita adalah kita mau bersaing, supaya anak-anak muda kita janganlah nongkrong di kafe, nongkrongnya di kedai jamu. Suasananya udah cukup nyaman di sini," terang Jony.

‎Selain mengubah gaya hidup anak-anak muda menjadi lebih baik, Jony berharap kehadiran Cafe Jamu ini juga bisa jadi upaya dalam memanfaatkan kekayaan alam serta melestarikan budaya yang dimiliki Indonesia. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik