Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Kota Semarang akan perjuangkan pasar rakyat Dugderan ini menjadi warisan budaya Indonesia, selain sudah berlangsung berabad-abad lahany kegiatan Pi asar rakyat jelang Ramadan menjadi daya tarik luar biasa juga membangkitkan perekonomian.
Pemantauan Media Indonesia Senin (9/2) suasana sepanjang Jalan Ki Nartosabdo hingga Jalan KH Agus Salim dan seputar Alun-alun Kota Semarang sudah cukup sibuk sejak pagi, ratusan pedagang menempati tenda-tenda dipasang srpanjangbjalan itu sudah mulai kembali menata dagangannya yang semalam cukup berantakan karena banyaknya pembeli.
Meskipun belum terlalu ramai pengunjung Pasar Rakyat Dugderan yang diselenggarakan khusus sejak sepekan jelang Ramadan, menjadi saya tarik bagi warga untuk berkunjung, bahkan setiap siang hingga tengah malam masih ramai pengunjung yang datang. "Setiap hari ratusan ribu orang datang ke pasar Dugderan ini," ujar Widodo, salah seorang pedagang.
Hal serupa juga diungkapkan Musrikah, pedagang gerabah tepat di samping Hotel Metro Senarang mengaku sengaja datang dari Welahan, Demak untuk berdagang mainan anak-anak dari tanah liat ini, karena kegiatan ini merupakan kesempatan untuk mencari uang sebanyak mungkin sebelum puasa Ramadan.
"Kami bersama suami dan anak berbagi pasar, suami saya di kegiatan Dandangan di Kudus dan anak di pasar rakyat Kaliwungu, pada Dugderan dan Dandangan tahun lalu, dari hasil satu pekan jualan gerabah ini kami dapat keuntungan lumayan senilai sepeda motor," ujarnya.
Pedagang lainnya Etik, warga Semarang mengaku sudah menjadi kegiatan rutin sepekan jelang Ramadan membuka usaha di Pasar Dugderan ini, namun untuk dagangan berganti-ganti mengikuti kondisi pasar, seperti tahun lalu berdagang pakaian, tetapi tahun ini membuka kuliner. "Kalau modal usaha saya pinjam ke bank, nanti selesai kegiatan dikembalikan," Imbuhnya.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti secara terpisah mengatakan Dugderan menjadi daya tarik luar biasa bagi pengunjung, umumnya selain menjadi sarana hiburan rakyat, pada umur warga yang datang dari berbagai daerah sekitar ingin berbelanja kebutuhan Ramadan dan lebaran.
Menurut Agustina Wilujeng Pramestuti para pedagang baik itu warga maupun UMKM juga berkesempatan untuk mengais rezeki sebelum Ramadan, sehingga antusias masyarakat cukup luar biasa pada kegiatan Dugderan ini, karena tidak hanya kegiatan perdagangan tetapi juga banyak hiburan yang ditampilkan dari mulai permainan anak-anak hingga karnaval.
"Pemerintah Kota Semarang kini tengah memperjuangkan Festival Dugderan agar mendapatkan pengakuan yang lebih kuat sebagai Warisan Budaya Indonesia," ungkap Agustina Wilujeng Pramestuti.
Alun-alun Kita Semarang ini, demikian Agustina Wilujeng Pramestuti, dapat dipergunakansecara maksimal untuk ruang publik termasuk kegiatan Dugderan, sehingga menjadi panggung rakyat yang tidak hanya untuk menumpahkan eksptesi tetapi juga membangkitkan ekonomi rakyat, apalagi posisi bersebelahan dengan Pasar Johar (cagar budaya) dan Pasar Kanjengan .
Prosesi Dugderan ini juga menjadi daya tarik tersendiri, lanjut Agustina Wilujeng Pramestuti, selain pasar rakyat selama sepekan sebelum Ramadan, juga secara rutin sebagai tradisi adanya arak-arakan Dugderan dilakukan sehari sebelum pelaksanaan puasa Ramadan dimana kepala daerah sejak berabad-abad lalu berlangsung akan mengumumkan kepada rakyat waktu puasa.
Tradisi kegiatan Dugderan merupajan tradisi khas Semarang sudah cukup lama berlangsung, yakni sejak tahun 1881 yang diprakarsai oleh Bupati RMTA Purboningrat untuk menandai awal bulan Ramadan saat itu, karena disamping keterbatasan alat komunikasi saat itu biasanya hanya diumumkan di masjid-masjid dan untuk pemerintah kota/kabupaten di Masjid Agung.
Tujuan pelaksanaan Dugderan hingga menjadi keramaian pasar rakyat sepekan sebelum Ramadan ini, pada saat itu pemerintah (Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Aryo Purboningrat) agar warga diberikan kesempatan mengais rejeki jelang Ramadan, sehingga pada saat pelaksanaan 1 bulan puasa mereka dapat tenang karena sudah mempunyai bekal cukup
Pada saat itu, pasar Dugderan digelar di Alun-alun Kota Semarang yang berada di depan kantor dan rumah dinas Bupati Semarang (Kanjengan) serta Masjid Agung Semarang serta sebelah barat Pasar Johar Semarang, pada umumnya menjual berbagai barang kebutuhan rumsh tangga terbuat dari gerabah dan mainan anak-anak tradisional hingga Warak Ngendok.
Warak Ngendok menjadi ikon khas Kota Semarang merupakan mainan anak-anak merupakan mainan terbuat dari kayu gabus berbentuk makhluk mitos gabungan naga (Tionghoa), kambing/kuda (Jawa), dan unta (Arab) yang melambangkan keharmonisan etnis di daerah ini menjadi daya tarik luar biasa..
Dugderan berasal dari kata Dug (suara bedug masjid) dan Der (suara letusan ietasan) yang dibunyikan sebagai penanda dimulainya puasa Ramadan untuk menyampaikan penentuan awal puasa yang dalam pakaiannya diumumkan di Masjid Agung Semarang.
Dugderan sendiri berfungsi sebagai pengikat sosial dan penggerak ekonomi lokal kini tetap dilestarikan sebagai warisan budaya (intangible heritage) Kota Semarang yang mempertemukan nuansa tradisi, sejarahdan kegembiraan warga menyambut bulan suci Ramadan. (H-2)
Besarnya putaran ekonomi yang pada tradisi Dandangan karena banyaknya pengunjung yang datang ke acara yang berlangsung setahun sekali ini.
Khusus menyambut Dugderan ini, banyak pesanan Warak Ngendog merupakan binatang mitologi dengan bentuk khas perpaduan budaya Tiongkok, Arab dan Jawa.
Ketua Badan POM Taruna Ikrar mengatakan, jamu tidak pernah sekadar soal nostalgia. Ia memandang jamu sebagai warisan pengetahuan, kekayaan biodiversitas, sekaligus potensi ekonomi kreatif.
PAMERAN imersif Skullpanda: Cage-uncage siap menyapa para penggemar di National Museum of Singapore mulai 12 Desember 2025 hingga 22 Februari 2026.
Banyak permainan tradisional kini mulai langka akibat digitalisasi dan perubahan gaya hidup anak-anak yang kian jauh dari ruang bermain fisik.
JENAMA lokal Biasa menghadirkan koleksi busana bertajuk Believe. Koleksi yang telah ditampilan di Jakarta Fashion Week (JFW) 2026 ini terdiri dari 70 rancangan busana.
Pelestarian cagar budaya di Kota Pematangsiantar diharapkan nantinya bisa menjadi motor penggerak ekonomi serta mendongkrak perekonomian masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved