Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Permainan Tradisional Anak Dihidupkan Kembali Sebagai Warisan Budaya Bangsa

Basuki Eka Purnama
16/11/2025 20:37
Permainan Tradisional Anak Dihidupkan Kembali Sebagai Warisan Budaya Bangsa
Ilustrasi(MI/HO)

DI tengah derasnya arus digital dan perubahan pola bermain anak-anak Indonesia, Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (Kpoti) menghadirkan Teras Main Indonesia, festival permainan rakyat dan olahraga tradisional yang digelar di Selasar Gedung Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah. 

Acara ini menjadi ruang perjumpaan penting untuk menengok kembali warisan permainan tradisional yang kian jarang terlihat, namun menyimpan jejak panjang dalam pembentukan karakter anak bangsa.

Ketua Dewan Pengarah Kpoti Rima Agristina, dalam sambutannya, menekankan bahwa Indonesia dikaruniai kekayaan budaya yang luar biasa, termasuk dalam tradisi bermain. 

“Bukan saja keberagaman suku bangsa, tetapi juga kita diwariskan permainan dan olahraga tradisional, yang berdasarkan penelitian Kpoti, ada  dari 2.600 permainan dan olahraga tradisional di Indonesia, terbanyak di dunia,” ujarnya.

Rima menambahkan bahwa banyaknya permainan dan olahraga tradisional tersebut merupakan potensi besar untuk menyampaikan nilai-nilai Pancasila ke tingkat nasional maupun internasional. 

“Di dalam setiap permainan dan olahragat tradisional tersebut ada nilai-nilai Pancasila. Karena itu, perlu kita lestarikan, perlu kita hidupkan kembali agar anak-anak kita, pewaris bangsa dan calon pemimpin masa depan, tumbuh dengan karakter Indonesia yang sesungguhnya, karakter Pancasila,” tegasnya.

Ketua Pelaksana Teras Main Indonesia, M. Zaini Alif, menjelaskan bahwa banyak permainan tradisional kini mulai langka akibat digitalisasi dan perubahan gaya hidup anak-anak yang kian jauh dari ruang bermain fisik. 

“Anak-anak masa kini lebih akrab dengan gim digital daripada permainan seperti bentengan, kelereng, gobak sodor, atau congklak. Hilangnya tradisi bermain ini tidak hanya mengancam keberlanjutan budaya, tetapi juga mengikis nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi jati diri bangsa,” ungkapnya.

Sebagai organisasi yang berfokus pada pelestarian dan pengembangan permainan rakyat, Kpoti memandang fenomena ini sebagai alarm yang perlu ditangani dengan serius. Zaini menegaskan bahwa pembangunan bangsa berakar pada karakter manusia, dan karakter itu tumbuh sejak masa kanak-kanak. 

“Cara kita bermain, berinteraksi, dan mewariskan nilai menjadi fondasi penting bagi masa depan Indonesia,” kata Zaini. “Permainan tradisional merupakan kekayaan budaya yang membentuk rasa kebersamaan sejak dini. Nilai seperti gotong royong, sportivitas, kebhinekaan, kreativitas, hingga rasa memiliki sebagai satu bangsa tumbuh dari kebiasaan bermain yang diwariskan turun-temurun.”

Festival Teras Main Indonesia menghadirkan ragam permainan dari 33 provinsi, mulai dari Bodu Bue Duk Doeng dari Aceh, Pacu Upiah dari Sumatera Barat, Balogo dari Kalimantan Selatan, hingga Panahan khas Merauke dari Papua Selatan. 

Anak-anak dan keluarga yang hadir diajak mencoba langsung beragam permainan tersebut, merasakan kembali ritme interaksi yang lahir dari kerja sama, ketangkasan, dan tantangan fisik sederhana. 

Selain arena permainan, festival ini juga menyuguhkan workshop mewarnai layang-layang dan membuat janur sebagai sarana menumbuhkan kreativitas dan ketekunan.

Di balik gelaran ini, Kpoti mendorong agar permainan tradisional kembali masuk ke ruang-ruang pendidikan. 

Melalui penyusunan modul pembelajaran, pelatihan fasilitator, dan sertifikasi pelatih daerah, KPOTI berharap permainan rakyat dapat menjadi bagian dari penguatan karakter di sekolah dan keluarga. 

Upaya ini selaras dengan agenda nasional untuk menumbuhkan generasi yang berjiwa Pancasila, berkarakter kuat, dan mencintai budaya bangsanya. 

Teras Main Indonesia 2025 diharapkan menjadi momentum kebangkitan permainan rakyat sebagai sarana pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan zaman. 

Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, Kpoti menargetkan permainan tradisional dapat diadopsi secara berkelanjutan oleh sekolah, komunitas, dan keluarga sebagai bagian dari pelestarian budaya dan pembentukan karakter generasi muda Indonesia. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya