Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Festival Dolanan Anak Tradisional Kudus, Menghidupkan Kembali Permainan Jadul di Tengah Era Digital

Akhmad Safuan
23/11/2025 22:32
Festival Dolanan Anak Tradisional Kudus, Menghidupkan Kembali Permainan Jadul di Tengah Era Digital
Anak-anak terlihat bergembira dikenalkan dan ikut bermain permainan tradisional.(MI/Akhmad Safuan)

 

HALAMAN Museum Situs Purbakala Patiayam Kudus terletak di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah tidak seperti biasanya ramai oleh anak-anak. Suasana cukup riuh dan penuh dengan gelak tawa dan kegembiraan terpancar dari wajah wajah-wajah polos mereka. Kadang diselingi raut wajah heran dan sorot mata kekaguman.

Cuaca cukup cerah dan berawan setelah beberapa hari sebelumnya hujan mengguyur daerah Kudus dan sekitarnya ini membuat ratusan anak-anak usia sekolah dasar (SD) hibgga SMA terasa nyaman untuk bergabung dengan anak seusia mereka berkumpul di halaman museum purbakala tersebut.

Sebagian dari mereka tampak heran ketika melihat sejumlah peralatan permainan zaman dulu ditunjukkan. Bahkan ada rasa kagum dan sedikit aneh ketika mainan terbuat dari bambu panjang dapat dipergunakan untuk berjalan tanpa terjatuh. "Itu namanya engkrang, kalau yang ini gangsingan sehingga ketika dimainkan berbunyi mendesing," ujar seorang bapak pada anaknya.

Sedangkan sekelompok anak lainnya, terlihat bergandengan tangan sambil bernyanyi riang dengan langgam lagu anak-anak berbahasa Jawa. Di sisi lainnya lagi terlihat sejumlah anak bermain bentengan yakni bermain sembunyi-sembunyi dengan menjaga tiang pal agar tidak dipegang lawan.

Itulah sekelumit gambaran pada kegiatan Festival Dolanan Anak Tradisional yang diselenggarakan di halaman Musium Purbakala Patiayam Kudus, Sabtu (22/11). Anak-anak diperkenalkan dan diajak kembali mengingat berbagai jenis permainan anak-anak tempo dulu agar tidak punah dan tetap lestari.

SEMBILAN PERMAINAN
Ada sembilan jenis dolanan (permainan) disajikan dalam Festival Dolanan Anak Tradisional kali ini seperti gobak sodor, egrang, petak umpet, lompa tali, gedrik, betengan, setinan, gangsingan hingga sendal teklek atau biasa disebut bakiak membuat para siswa penasaran dan heran, apalagi generasi saat ini yang lebih mengenal game di gadget atau digital.

Bahkan mereka yang selama ini hanya mengenal dunia digital ikut penasaran dengan dolanan disajikan dan mencoba. Satu atau dua kali mencoba dan ketika sudah mulai menguasai permainan seperti enggrang, berjalan dengan kaki ditopang bambu terlihat gelak tawa kegembiraan karena merasa tinggi di antara orang dewasa.

Bahkan raut serius dan kegembiraan tidak terlukiskan ketika gangsingan yang dimainkan berbunyi mendengung cukup lama mengalahkan milik rekannya, bahkan terus menantang pemain lain untuk adu gangsing yang berputar di tanah. "Saya baru mengenal ternyata sangat menarik dan asik," ujar Wahyu, seorang pelajar sekolah dasar di Kudus.

OBJEK PELESTARIAN KEBUDAYAAN
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Kabupaten Kudus Agus Susanto mengatakan Festival Dolanan Anak Tradisional ini menjadi daya tarik yang luar biasa, karena tidak saja mengajak anak-anak usia pelajar SD sederajat hingga SMP dan SMA sederajat untuk ikut bermain juga mengenalkan kembali dolanan agar tetap dilestarikan.

"Ada 9 dolanan anak-anak tradisional dihadirkan dalam festival ini. Dolanan tradisional ini salah satu dari 10 objek pemajuan kebudayaan yang selama ini belum tergarap maksimal di Kudus," kata Agus Susanto

Pemberian fasilitasi bagi anak-anak ini, lanjut Agus Susanto, agar generasi muda dapat mengenal kembali beragam dolanan tradisional, sehingga aneja dolanan yang nyaris punah dapat kembali hidup dan diharapkan populerkan di tengah era digital yang lebih kenal gadget atau game online dibanding permainan tradisional.

Menurut Agus Susanto, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) dapat mendorong sekolah-sekolah di Kabupaten Kudus agar menyediakan ruang dan sarana dolanan tradisional, karena dolanan tempo dulu yang populer pada masanya dapat kembali mewarnai aktivitas anak-anak di zaman modern ini.

Festival Dolanan Anak Tradisional ini, ungkap Agus Susanto, diharapkan juga dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian dolanan tradisional di Kabupaten Kudus dan dapat diagendakan setiap tahun. "Kegiatan edukasi seperti ini diharapkan dapat digelar setiap tahun agar terus melestarikan kebudayaan tradisional kura," imbuhnya.

Selain itu Festival Dolanan Anak Tradisional di kompleks Museum Situs Purbakala Patiayam, kata Agus, bertujuan melestarikan berbagai dolanan anak tradisional di masa sekarang dan diselenggarakan dalam rangka aktivasi sarana dan prasarana kebudayaan serta pelestarian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).

RUANG MENGEKSPRESIKAN BUDAYA
Kepala Subdirektorat Pemeliharaan dan Pengembangan, Direktorat Sarana dan Prasarana Kebudayaan pada Kementerian Kebudayaan Brahmantara mengungkapkan keberadaan museum sejatinya tidak hanya terbatas pada ruang koleksi artefak dan sejarah saja, tetapi juga menjadi ruang publik untuk mengekspresikan budaya. 

"Dolanan tradisioanal merupakan salah satu objek pemajuan kebudayaan, sekaligus menjadikan museum sebagai ruang publik dalam melestarikan OPK, karena selama ini dolanan tradisional hanya hadir dalam rangkaian event atau kegiatan tertentu saja," tutur Brahmantara.

Kementerian Kebudayaan, ungkap Brahmantara, terus mendorong agar setiap desa dapat menghidupkan kembali kenangan masa kecil, supaya dapat hadir kembali di masa sekarang hingga masa mendatang. "Kita lihat anak muda sekarang punya budaya yang berbeda, asik dengan gatget mereka, hingga menggerus perhatian dan pemahaman anak-anak tentang permainan tradisional," tambahnya. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik