Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

10 Permainan Tradisional Indonesia: Seru, Mendidik, dan Penuh Makna

Thalatie K Yani
22/12/2025 12:00
10 Permainan Tradisional Indonesia: Seru, Mendidik, dan Penuh Makna
Ilustrasi(Pinterest)

Di tengah gempuran teknologi dan permainan berbasis gawai (gadget), keberadaan permainan tradisional perlahan mulai terpinggirkan. Padahal, permainan rakyat yang diwariskan secara turun-temurun ini memiliki nilai filosofis, edukasi, dan sosial yang sangat tinggi. Permainan tradisional merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya Indonesia yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai metode pembentukan karakter anak sejak dini.

Berbeda dengan gim daring yang cenderung membuat anak menjadi individu pasif dan kurang bergerak, permainan zaman dulu menuntut aktivitas fisik, strategi, serta interaksi sosial secara langsung. Melestarikan permainan ini bukan hanya soal menjaga tradisi, melainkan juga upaya untuk menyeimbangkan tumbuh kembang fisik dan mental generasi muda.

Manfaat Luar Biasa Permainan Tradisional bagi Anak

Sebelum membahas ragam jenisnya, penting untuk memahami mengapa orang tua dan pendidik perlu mengenalkan kembali aktivitas ini. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:

  • Melatih Kemampuan Motorik: Hampir semua permainan rakyat melibatkan gerakan fisik seperti berlari, melompat, dan melempar yang baik untuk kesehatan otot dan tulang.
  • Mengasah Kemampuan Sosial: Anak diajarkan untuk bekerja sama, berkomunikasi, bernegosiasi, dan mematuhi aturan main bersama teman-temannya.
  • Membangun Karakter Sportif: Dalam permainan ada menang dan kalah. Anak belajar untuk menerima kekalahan dengan lapang dada dan tidak sombong saat menang.
  • Mengembangkan Kreativitas dan Strategi: Banyak permainan yang membutuhkan taktik khusus untuk memenangkannya, serta kreativitas dalam memanfaatkan alat seadanya dari alam.

Ragam Permainan Tradisional Indonesia yang Populer

Indonesia memiliki ratusan jenis permainan daerah. Berikut adalah daftar permainan tradisional populer yang dapat dimainkan kembali bersama keluarga atau teman-teman:

1. Gobak Sodor (Galah Asin)

Gobak sodor adalah permainan grup yang sangat mengandalkan ketangkasan dan kerja sama tim. Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis atau halaman luas yang diberi garis batas.

Cara bermain: Pemain dibagi menjadi dua tim, yaitu tim penjaga dan tim penyerang. Tim penjaga bertugas di garis-garis horizontal dan satu garis vertikal untuk menghalangi lawan agar tidak bisa lolos ke baris belakang dan kembali lagi ke depan. Kunci dari permainan ini adalah kecepatan reaksi dan strategi pengecohan.

2. Congklak (Dakon)

Congklak adalah permainan strategi yang menggunakan papan kayu dengan 16 lubang (14 lubang kecil dan 2 lubang besar sebagai 'lumbung') serta biji-bijian atau kerang kecil.

Filosofi dan Cara Bermain: Dua pemain berhadapan mengisi lubang dengan biji secara berurutan. Permainan ini mengajarkan konsep matematika dasar serta manajemen aset, di mana pemain harus pandai memperhitungkan langkah agar biji terakhir tidak jatuh di lubang kosong milik sendiri (mati).

3. Engklek (Sunda Manda)

Permainan ini sangat sederhana namun efektif untuk melatih keseimbangan tubuh. Engklek dimainkan dengan menggambar pola kotak-kotak di tanah.

Cara bermain: Pemain harus melempar gacuk (biasanya pecahan genting atau batu pipih) ke salah satu kotak. Kemudian, pemain harus melompat dengan satu kaki melewati kotak-kotak tersebut tanpa menginjak garis dan tanpa menginjak kotak yang berisi gacuk.

4. Bentengan

Bentengan adalah permainan strategi perang-perangan yang memacu adrenalin. Permainan ini membutuhkan dua tiang atau pohon sebagai 'benteng' masing-masing tim.

Cara bermain: Tujuannya adalah menyentuh benteng lawan sambil menghindari sentuhan dari musuh. Pemain yang keluar dari benteng lebih dulu dianggap 'lemah' dan bisa ditawan oleh musuh yang baru keluar belakangan. Pembebasan tawanan dilakukan dengan menyentuh teman yang ditawan. Pemenang ditentukan jika salah satu pemain berhasil menyentuh benteng lawan dan berteriak "Benteng!".

5. Egrang

Egrang merupakan permainan yang menggunakan dua batang bambu panjang dengan pijakan kaki. Permainan ini melatih keseimbangan dan keberanian.

Cara bermain: Pemain menaiki pijakan bambu dan berjalan menggunakan bambu tersebut. Meski terlihat sederhana, egrang membutuhkan konsentrasi tinggi agar tidak terjatuh. Di beberapa daerah, egrang sering dilombakan dalam bentuk balapan lari.

6. Bola Bekel

Permainan ini umumnya dimainkan oleh anak perempuan dan melatih ketangkasan tangan serta koordinasi mata. Alat yang digunakan adalah bola karet kecil dan enam biji bekel (biasanya dari kuningan atau kerang).

Cara bermain: Pemain harus memantulkan bola sambil mengambil biji bekel sesuai tingkatan (ambil satu, ambil dua, dst) dan menangkap bola kembali sebelum memantul kedua kalinya. Kesalahan dalam mengambil jumlah biji atau gagal menangkap bola berarti giliran pindah ke pemain lain.

7. Cublak-Cublak Suweng

Berasal dari Jawa Tengah, permainan ini diiringi dengan lagu daerah yang diciptakan oleh Sunan Giri. Permainan ini mengandung nilai filosofis untuk tidak menuruti hawa nafsu duniawi.

Cara bermain: Satu orang menjadi 'Pak Empo' yang berbaring telungkup, sementara pemain lain duduk melingkar dan memutar kerikil sambil menyanyikan lagu. Saat lagu berakhir, Pak Empo harus menebak siapa yang memegang kerikil tersebut.

8. Gasing

Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada porosnya dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing tradisional terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa dan dimainkan dengan tali.

Cara bermain: Tali dililitkan pada gasing, kemudian gasing dilempar dengan teknik khusus agar berputar di tanah. Gasing yang berputar paling lama atau yang berhasil menjatuhkan gasing lawan (dalam adu gasing) adalah pemenangnya.

9. Lompat Tali Karet

Permainan ini menggunakan karet gelang yang dianyam memanjang menjadi tali. Ini adalah alternatif murah meriah dari skipping rope modern.

Cara bermain: Dua orang memegang ujung tali, sementara yang lain melompatinya. Ketinggian tali dinaikkan secara bertahap, mulai dari setinggi mata kaki, lutut, pinggang, hingga di atas kepala (merdeka). Pemain harus melompat tanpa menyentuh tali pada level-level tertentu.

10. Ular Naga Panjang

Permainan kolektif ini sangat seru jika dimainkan oleh banyak orang, setidaknya 5-10 anak.

Cara bermain: Dua orang berpegangan tangan membentuk gerbang, sementara sisa pemain berbaris memegang pinggang teman di depannya menyerupai ular. Sambil menyanyikan lagu "Ular Naga Panjangnya", barisan ular berjalan melewati gerbang. Saat lagu habis, gerbang akan menutup dan menangkap satu 'korban' yang kemudian harus memilih untuk bergabung dengan tim gerbang kiri atau kanan.

Upaya Melestarikan Permainan Tradisional

Di era modern ini, tanggung jawab melestarikan permainan tradisional ada di tangan orang tua, pendidik, dan masyarakat. Sekolah dapat memasukkan permainan ini dalam jam istirahat atau mata pelajaran olahraga. Sementara itu, di lingkungan rumah, orang tua dapat mengalokasikan waktu khusus di akhir pekan untuk bermain permainan rakyat ini bersama anak-anak, sekaligus sebagai momen detoksifikasi digital.

Dengan mengenalkan kembali permainan-permainan ini, kita tidak hanya menjaga identitas bangsa, tetapi juga memberikan masa kecil yang lebih sehat, bahagia, dan bermakna bagi generasi penerus.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya