Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Ratih Ibrahim membagikan beragam cara bagi para orang tua untuk mengekspresikan rasa bangga pada anaknya sehingga buah hatinya bisa bertumbuh dan berkembang dengan optimal menjadi pribadi yang unggul.
Mengekspresikan rasa bangga pada anak diperlukan agar anak merasa dihargai dan memiliki kepercayaan diri dan bisa masuk ke dunia sosial tanpa rasa takut.
“Pertama ada physical touch. Orang tua nih ayah dan bunda bisa memberikan sentuhan kepada anak misalnya mengelus pipinya, bercanda dengan cara digelitiki, atau bisa juga dipeluk. Itu bisa menunjukan rasa bangga pada anak,” kata founder Personal Growth tersebut dalam sebuah webinar dikutip Minggu (25/7).
Ratih mencontohkan misalnya pada saat anak berhasil menendang bola pertamanya, ketika anak memperlihatkan kemampuannya itu orang tua bisa memberikan pelukan untuk memberikan rasa apresiasi.
Cara memberikan apresiasi pada anak lainnya dengan cara memberikan pujian atau dikenal dengan istilah word of affirmation.
Memberikan pujian seperti, “Wah pintar ya kamu nak menghabiskan makanannya,” atau “Kamu hebat bisa menendang bolanya jauh, kaki kamu kuat ya,” bisa memberikan anak rasa percaya diri dan menumbuhkan keinginannya untuk mengasah kemampuan yang dipuji oleh orang tuanya itu.
Sama halnya dengan orang dewasa pemberian pujian kepada anak juga memberikan rasa bahagia pada individu.Cara ketiga orang tua untuk menunjukan rasa bangga dan kasih sayangnya adalah dengan memberikan quality time.
Quality time adalah investasi yang paling berharga yang bisa dilakukan orang tua untuk menunjukkan rasa syukur dan juga rasa bangga atas kehadiran buah hati.
Di momen pembatasan kegiatan di luar rumah dan mengharuskan orang tua dan anak bertemu 24/7, orang tua tetap bisa memberikan quality time untuk keluarganya.
Misalnya di akhir pekan ada waktu 3 jam khusus untuk berolahraga bersama di kebun rumah, atau bisa juga menyisihkan waktu 1 jam setiap harinya untuk melakukan kegiatan hobi bersama seperti membaca buku atau mendengarkan musik bersama.
Cara ketiga ini pun bisa menjadi waktu orang tua memberikan stimulasi kepada anak dan menjadikan anak bisa berkembang tidak hanya dari segi kemampuan dasar tapi juga emosi.
Selanjutnya cara yang bisa dilakukan orang tua untuk memberikan apresiasi kepada anak adalah lewat act of service.
Lewat act of service ketika anak melakukan pencapaian atau pun sesuatu yang baru dan baik, orang tua bisa memberikan reward berupa sesuatu yang disukai anaknya.
“Misalnya anaknya berhasil membelikan bahan masak di warung, orang tuanya bisa bikinin es teh manis atau cupcake kesukaan anaknya. Ini bentuk act of service,” kata pendiri Personal Growth Counseling itu.
Ratih mengingatkan orang tua bisa melakukan ragam cara itu dengan dikombinasikan misalnya dengan physical touch dan word of affirmation, ketika anak dipeluk orang tua bisa mengatakan rasa bangganya juga lewat kata- kata.
Ragam cara itu perlu dieksplorasikan dan dicocokan dengan cara yang paling disukai oleh anak.
Tidak hanya kepada anak, orang tua juga bisa saling menggunakan cara ini untuk mengekspresikan diri satu sama lain dengan pasangannya dan anak pun bisa melakukan hal yang sama.
Dengan cara itu, keluarga sebagai unit terkecil di lingkungan sosial bisa menjadi contoh baik bagi anak mempelajari yang namanya rasa dihargai serta bisa diterapkan ke lingkungan sebayanya. (Ant/OL-12)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Inisiatif ini mempertegas komitmen platform dalam melibatkan orangtua secara langsung untuk menyusun kebijakan dan pengembangan Roblox di masa depan.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved