Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA berpotensi menjadi negara superpower terkait penyelamatan dunia soal krisis iklim. Pasalnya, wilayah Indonesia termasuk ke dalam coral triangle region dunia dengan luasan hutan mangrove 3,2 juta hektar, padang lamun 3 juta hektar, dan hamparan terumbu karang yang ekstensif.
Untuk mencapai kekuatan penuh Indonesia guna menyelamatkan iklim dengan memanfaatkan karbon biru yang dimiliki, Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kemenetrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar mengungkapkan, pengurangan sampah ke laut menjadi kunci utama.
"Karena sampah ke laut ini menjadi predator yang berbahaya kalau masuk ke tiga ekosistem tersebut, hutang mangrove, padang lamun, dan hamparan terumbu karang. Ini akan menyebabkan kerusakan sehingga potensi Indonesia untuk menjadi superpower dari karbon biru akan hilang," kata Novrizal dalam webinar yang diselenggarakan pada Rabu (7/7).
Untuk itu, Ia menyatakan Indonesia menargetkan untuk mengurangi timbunan sampah ke laut sebanyak 70% pada 2025. Selama tiga tahun terakhir ini, Novrizal menyatakan Indonesia telah berhasil menurunkan sampah ke laut hingga 15,3%.
"Dari yang tadinya total sampah plastik ke laut 615 ribu ton pertahun, menurun menjadi 521 ribu ton pertahun pada 2020. Artinya ada progres dan upaya yang kita lakukan," ucapnya.
Baca juga : Popularitas Bisnis Daur Ulang Berkelanjutan Meningkat
Novrizal menyatakan, rencana jangka panjang yang terus dilakukan antara lain dengan pengurangan plastik sekali pakai di kementerian, lembaga, dan perkantoran.
Selain itu, meningkatkan dukungan asistensi kepada kepala daerah dan pemda untuk mengelola sampah terpadu dan berkelanjuta, serta memperbanyak kajian analisis pengelolaan sampah darat dan laut.
"Prinsipnya, potensi untuk menjadi superpower dengan memanfaatkan tiga hamparan tersebut akan sia-sia kalau kita tidak menjaga wilayah pesisir dan mencegah sampah plastik ke laut. Karena ini menjadi hal yang sangat serius," pungkasnya.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Sarwono Kusumaatmadja mengungkapkan, Indonesia memegang 65% zona inti dari coral triangle dunia. Karenanya Indonesia memiliki cadangan beharga untuk perubahan iklim.
"Challenge ke depan adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan karbon biru secara berkelanjutan. Tantangan yang menarik adalah bagaimana kita bisa menyusun persepsi bersama dan melakukan kolaborasi antara semua stakeholder, baik pemerintah, dunia keilmuwan, dan masyarakat adat," ungkapnya. (OL-7)
Kerja sama itu diharapkan bisa menangani masalah sampah sekaligus menghasilkan energi listrik.
Setiap kemasan plastik yang dipilah oleh warga dapat disetorkan ke bank sampah terdekat lalu dikonversi menjadi poin yang setara dengan tabungan emas di rekening tabungan emas Pegadaian.
PESISIR Kota Cirebon kembali dipenuhi tumpukan sampah. Kesadaran bersama diminta untuk bisa mengatasi permasalahan sampah. Tumpukan sampah terlihat di sepanjang pesisir pantai.
Kabupaten Banyumas dianggap telah berhasil mengelola sampah secara menyeluruh, mulai dari pemilahan hingga pemanfaatan akhir.
Setiap hari, Jakarta memproduksi sekitar 8.300 ton sampah yang harus dikelola secara berkelanjutan.
Data Pemerintah Kabupaten Tegal menunjukkan timbulan sampah mencapai 670,38 ton per hari. Namun, sampah yang berhasil diolah baru sekitar 5,3 persen.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved