Kamis 20 Mei 2021, 13:00 WIB

KPAI Dorong Siswi Bengkulu Pembuat Video Palestina dapat Konseling

Humaniora | Humaniora
KPAI Dorong Siswi Bengkulu Pembuat Video Palestina dapat Konseling

MI/Adi Kristiadi
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti

 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong agar siswi di Bengkulu yang dikeluarkan dari sekolah terkait video Palestina agar mendapatkan konseling serta tidak dikeluarkan dari sekolah.

"MS yang sudah minta maaf dan menyesali perbuatannya, seharusnya memperoleh konseling dan pembinaan juga dari sekolah agar tidak mengulangi perbuatannya, bukan dikeluarkan dari sekolah, apalagi MS sudah di kelas akhir," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam pernyataan di Jakarta, Kamis (20/5).

Baca juga: Amnesty Internasionl Pertanyakan Komitmen HAM Indonesia

Retno mengatakan dikeluarkannya siswi tersebut dari sekolah telah melanggar hak asasinya untuk memperoleh pendidikan, apalagi mengingat kasus yang viral menimbulkan potensi akan sulit diterima di sekolah lain. Oleh karena itu untuk memenuhi hak atas pendidikannya maka, KPAI mendorong Dinas Pendidikan memenuhi hak siswi tersebut.

KPAI sendiri telah berkoordinasi dengan Pemberdayaan Perempuan Pelindungan Anak Bengkulu dan mendapatkan informasi bahwa siswi itu telah berusia 19 tahun sehingga KPAI tidak memiliki kewenangan atas kasus tersebut. Kewenangan KPAI adalah mereka yang berusia anak atau dalam rentang usia sampai 18 tahun.

Namun demikian, Retno menegaskan KPAI berkonsentrasi dengan pemenuhan hak atas pendidikan karena status MS yang seorang pelajar.

Dia mengatakan bahwa sanksi terhadap siswi itu seharusnya bukan dikeluarkan, mengingat MS telah meminta maaf, mengakui kesalahannya, dan menyesali perbuatannya. Jadi seharusnya siswi itu diberi kesempatan memperbaiki diri karena masa depannya masih panjang.

Baca juga: Gus AMI Minta Kemendikbud Persiapkan Matang Sekolah Tatap Muka

"KPAI juga memperoleh informasi bahwa MS mengalami masalah psikologis akibat dampak dia dikeluarkan oleh pihak sekolah, bahkan takut bertemu orang lain. Oleh karena itu, KPAI mendorong MS dibantu konseling oleh UPTD P2TP2A agar mendapatkan rehabilitasi psikologis," ujarnya.

Dalam keterangannya, Retno mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Komnas Perempuan untuk mendorong pemenuhan hak pendidikan atas siswi itu. Dia berharap kasus itu menjadi pembelajaran bagi orang tua yang diharapkan dapat mengedukasi dan mengawasi penggunaan media sosial anak. (Ant/H-3)
 

Baca Juga

Medcom.id/Ilham Pratama

480 Peserta Raih Beasiswa OSC Medcom.id 2021

👤Ilham Pratama Putra 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 16:00 WIB
pemenang yang mendapatkan beasiswa S1 sebanyak 421 orang. Sedangkan penerima beasiswa S2 sebanyak 53...
MI/Bary Fathahilah

Kasus Konfirmasi Harian Naik, Masyarakat Diingatkan Tetap Disiplin Prokes

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 15:30 WIB
Selain terus menegakkan protokol kesehatan dan menyegerakan vaksinasi, masyarakat diminta menghindari serta mencegah terjadinya...
ANTARA / Aloysius Jarot Nugroho

Penjelasan Anak Umur 1-5 Tahun Belum Dapat Divaksinasi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 14:30 WIB
Pemberian vaksin harus didahulukan pada orang dewasa atau remaja karena memiliki daya tahan tubuh yang paling...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya