Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTIVIS iklim remaja asal Swedia, Greta Thunberg, menuduh negara-negara kaya mencari cara menghindari pengurangan emisi gas rumah kaca. Hal tersebut dilontarkan Thunberg saat berpidato dalam di Konferensi Perubahan Iklim PBB UNFCCC-COP25 di Madrid, Spanyol.
Remaja berusia 16 tahun tersebut menyebut negara-negara kaya justru menggunakan forum iklim PBB yang sejatinya bertujuan menyelamatkan dunia dari pemanasan global, untuk mencari kesempatan menegosiasikan celah dan menghindari mengambil tindakan atas perubahan iklim.
"Negara-negara kaya menemukan cara cerdik untuk berputar-putar menghindari mengambil tindakan nyata,” ujar Thunberg, Rabu (11/12).
Thunberg lantas menyebut aksi dan perjanjian yang dibuat atas nama iklim oleh negara-negara kaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga taraf netral atau nol bersih dalam beberapa tahun adalah menyesatkan.
Baca juga: Bangkitkan Ambisi Perangi Perubahan Iklim
Meskipun, puluhan pertemuan dan ribuan ahli bekerja untuk mengimplementasikan kesepakatan Iklim Paris 2015, ia mengatakan emisi global justru terus meningkat setiap tahunnya.
"Ini mungkin terdengar mengesankan pada pandangan awal, meskipun niatnya baik, ini tidak memimpin, ini menyesatkan,” tutur Thunberg.
Thunberg, yang dinobatkan sebagai Person of the Year oleh majalah Time untuk kampanye lingkungannya, mengatakan kepada negosiator janji mereka atas perubahan iklim sangat berbeda dari apa yang dibutuhkan untuk mengatasi perubahan iklim.
Pada perhelatan tersebut, negara-negara yang berkumpul di ibu kota Spanyol tengah berjuang menyelesaikan buku peraturan Perjanjian Iklim Paris 2015. Hal itu bertujuan menahan kenaikan suhu rata-rata global hingga 1,5 derajat Celcius sehingga mencegah dampak terburuk perubahan iklim.
Namun, sejak pertama kali konferensi dibuka, sejumlah aksi demonstrasi terus dilakukan setiap harinya di luar gedung Feria de Madrid (IFEMA). COP25 yang mengusung tema 'Time for Action' berlangsung dari 2-13 Desember dan dihadiri oleh 197 perwakilan negara di seluruh dunia.(AFP/OL-5)
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Peneliti menemukan bahwa kenaikan kadar CO2 di atmosfer mulai mengubah kimia darah manusia, termasuk kenaikan bikarbonat yang signifikan.
Studi terhadap 5 juta kelahiran di Afrika dan India mengungkap tren mengejutkan, paparan panas saat hamil menurunkan jumlah bayi laki-laki yang lahir.
Berbeda dengan aksi penanaman biasa, program ini mencakup pendampingan nursery (pembibitan) bagi masyarakat lokal.
Kehidupan masyarakat pesisir di Karimunjawa mengalami perubahan karena dampak dari perubahan iklim yang terus menerus.
PERWAKILAN Perempuan Nelayan Sumatra Utara, Jumiati, mengungkapkan perubahan iklim membuat cuaca sulit diprediksi. Itu berdampak pada banyaknya nelayan di kampungnya kesulitan melaut.
Ketua Divisi Riset dan Dokumentasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Hans Giovanny Yosua mengingatkan agar Polri tidak disalahgunakan.
ANGGOTA Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdullah, mendukung penuh instruksi pihak Istana kepada Polri untuk menginvestigasi rangkaian teror yang menimpa sejumlah aktivis dan influencer.
Pihak dari pemerintah atau yang merasa diri bagian dan penguasa? Itulah yang harus diungkap oleh jajaran pemerintahan Prabowo Subianto. Mampukah mereka?
Kritik pemerintah soal bencana Sumatra berujung teror. Konten kreator dan aktivis alami ancaman hingga doxing.
Dua aktivis di Kota Semarang, Adetya Pramandira (26) dan Fathul Munif (28) ditahan Polrestabes Semarang diduga berkaitan dengan unggahan di media sosial terkait aksi pada Agustus 2025 lalu.
Imbauan ditulis tangan disebarkan aktivis Pati yang menjenguknya dan ditujukan kepada warga Pati dan pendukungnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved