Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Penerbangan Terakhir, Sentilan Benni Setiawan untuk Laki-Laki Manipulatif

Basuki Eka Purnama
13/1/2026 10:03
Penerbangan Terakhir, Sentilan Benni Setiawan untuk Laki-Laki Manipulatif
Cuplikan adegan dari film Penerbangan Terakhir(imdb)

SUTRADARA kawakan Benni Setiawan kembali membawa isu sosial yang tajam ke layar lebar melalui film terbarunya, Penerbangan Terakhir. Dalam sesi pemutaran pratayang di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (12/1), Benni mengungkapkan bahwa film ini menyimpan pesan mendalam mengenai ketimpangan konsekuensi sosial dalam sebuah hubungan terlarang.

Benni mengaku sangat selektif dalam menyusun naskah, bahkan bersikeras mempertahankan sebuah dialog kunci yang menjadi inti pesan film tersebut. 

Dialog ini menyoroti bagaimana laki-laki sering kali merasa aman di ranah publik saat terlibat hubungan terlarang, sementara perempuan harus menanggung beban konsekuensi yang jauh lebih berat.

"Ya, memang dialog itu kita pikirkan dulu dengan matang, harus ada. Di sini menunjukkan bahwa karakter Deva itu seorang laki-laki yang memang ingin menang sendiri dan egois. Dan itu juga mencerminkan banyak laki-laki pada umumnya. Jadi itu semacam sindiran," ujar Benni.

Sentilan Terhadap Realitas Sosial

Melalui film ini, Benni ingin menyentil realitas yang terjadi di masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana dalam sejarah kasus asmara pranikah, perempuan kerap menjadi pihak yang paling tersudut dan tidak berani bersuara, sedangkan laki-laki cenderung bersikap acuh tak acuh.

Ia kemudian mengutip sebuah pepatah untuk menggambarkan ketidakadilan tersebut: "Jadi, sekali perempuan berbuat dosa, dunia menangis. Tapi ribu-ribu kali laki-laki berbuat dosa, dunia masih tertawa."

Melalui karakter Deva (seorang pilot) dan Tiara (seorang pramugari), Benni ingin menunjukkan apa yang akan terjadi jika perempuan tidak berani mengambil sikap tegas terhadap lelaki yang merasa berkuasa atas dirinya. 

Ia berharap film ini menjadi pemantik keberanian bagi para perempuan untuk keluar dari situasi toksik.

"Sangat-sangat penting untuk semua perempuan di luar sana, mau kasih tahu bahwa mereka tidak sendirian. Asal berani speak up. Dan mereka bakal bisa keluar dari jebakan yang bikin mereka jadi korban ini," tegasnya. 

Benni juga memperingatkan bahwa di era media sosial, laki-laki tidak bisa lagi merasa aman dengan kekuasaannya karena kekuatan viralitas.

Edukasi Mengenai Karakter Manipulatif

Film Penerbangan Terakhir merupakan adaptasi dari novel karya Annastasia Anderson, seorang mantan pramugari yang menuangkan pengalamannya ke dalam fiksi. 

Produser Eksekutif Shalu T.M menjelaskan bahwa film ini memiliki misi edukasi, khususnya bagi perempuan muda, agar lebih waspada terhadap watak laki-laki yang manipulatif.

Selain dibintangi oleh Jerome Kurnia dan Nadya Arina, film ini juga menghadirkan sederet aktor berbakat seperti Aghniny Haque, Nasya Marcella, hingga Devina Bertha. 

Sebagai pelengkap atmosfer cerita, lagu Apakah Kita Hanya Bercanda? dari Tissa Biani turut hadir sebagai salah satu soundtrack.

Sebelum resmi tayang serentak di bioskop pada 15 Januari 2026, film ini telah menggelar pemutaran pratayang terbatas di 10 kota besar Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, hingga Makassar pada 10-11 Januari lalu. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik