Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS Putri Marino mengatakan kebaya telah menjadi bagian besar dalam hidupnya sedari kecil karena tinggal dan besar di Bali yang memiliki banyak upacara adat.
"Aku ingat banget aku masih kecil pulang ke Singaraja, kampung halaman mama, ikutin semua upacara adat. Excited banget milih kebaya warna apa untuk upacara hari ini atau besok, jadi kebaya itu sudah jadi bagian yang sangat penting dan besar," kata Putri, dikutip Kamis (25/7).
Putri, yang merupakan keturunan Italia-Indonesia, menganggap kebaya sudah menjadi hal yang lumrah baginya karena terbiasa mengenakan kebaya saat mengikuti upacara adat di kampung halaman orangtuanya.
Baca juga : Film Pendek Kebaya Kala Kini dan Identitas Perempuan Indonesia
Ia juga senang saat warga Bali, termasuk neneknya, masih mengenakan kebaya dalam setiap aktivitas sehari-hari bahkan saat tidur.
Ia mengatakan, arus modernisasi membuat generasi sekarang masih merasa enggan memakai kebaya karena terkesan kuno dan merasa memiliki beban berat jika memakai kebaya.
Putri mengatakan kebaya bisa dipakai sesuai kenyamanan dan gaya personal agar tidak terlalu kaku sehingga kebaya bisa dijadikan busana sehari-hari.
Baca juga : Dian Sastrowardoyo Dorong Berkebaya Jadi Kebiasaan Sehari-Hari
"Banyak generasi kita yang takut pakai kebaya menganggap kebaya bebannya berat banget, terlihat lawas kalau pake kebaya, besar harapan aku generasi muda sekarang yang berkenan pakai kebaya sehari-hari dan nggak perlu pakai kain, kalau nyaman celana jeans pakai saja, pakai sneaker, jadi menjadikan budaya jadi bagian rutinitas sehari-hari," ucap Putri.
Putri juga mengaku memiliki model kebaya favorit yang ada di lemari bajunya yaitu kebaya encim, kutubaru, dan kebaya modern.
Sebagian kebaya itu ia miliki koleksinya dengan membeli atau sebagian lagi hasil kolaborasi dengan beberapa desainer Indonesia, salah satunya Hagai Pakan.
Baca juga : Cara Putri Marino Memaknai Kebahagiaan
Ia berharap kebaya bisa diturunkan dari generasi ke generasi agar semakin banyak perempuan Indonesia memakai kebaya.
Ia juga ingin terus memperkenalkan kebaya kepada anak perempuannya yang sudah menunjukkan keinginan memakai kebaya dan batik yang ia tunjukkan dalam setiap kesempatan. Hal itu agar anaknya nanti masih bisa melihat banyak perempuan yang pakai kebaya sebagai pakaian sehari-hari.
"Semoga bisa memberikan regenerasi kebaya untuk generasi kita yang selanjutnya, karena aku punya anak perempuan dan aku berharap saat dia besar dia masih melihat perempuan Indonesia pakai kebaya," kata istri Chicco Jerikho itu.
Dalam menunjukkan kecintaannya pada kebaya, Putri pun terlibat dalam pembuatan film pendek kerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation berjudul Kebaya Kala Kini, yang disutradarai Bramsky bersama aktris lainnya seperti Dian Sastrowardoyo. (Ant/Z-1)
Aktris utama Dian Sastrowardoyo dilaporkan mengalami insiden jatuh dari kuda saat menjalani salah satu adegan penting saat syuting film Esok Tanpa Ibu.
Aktris Dian Sastrowardoyo mengalami insiden menegangkan saat menjalani proses syuting film Esok Tanpa Ibu di Lembang, Bandung, Jawa Barat.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Amanda Manopo mengungkapkan bahwa keterlibatannya sebagai Tina bukan didasari oleh standar fisik konvensional.
Aktris Aulia Sarah kembali menyapa pencinta sinema horor melalui proyek terbarunya bertajuk Sengkolo Petaka Satu Suro.
Fakta menarik Jennifer Coppen, aktris muda Indonesia berdarah campuran. Profil lengkap, perjalanan karier, dan pesona ikon Gen Z di dunia hiburan.
Kutubaru, kebaya modern, hingga kebaya khas Manado pernah dipilih Prilly untuk digunakan
ENERGI budaya Jawa dan kekuatan eksotis songket Minangkabau dipadukan. Dua kutub ini disatukan dengan sentuhan detail kaya tekstur, permainan warna, dan siluet modern.
INDONESIA menerima sertifikat Intangible Cultural Heritage (ICH) atau warisan budaya takbenda UNESCO untuk Reog, Kolintang dan Kebaya, di Museum Nasional Indonesia (MNI).
Kementerian Kebudayaan mengemukakan bahwa Indonesia menerima sertifikat Intangible Cultural Heritage (ICH) atau warisan budaya takbenda UNESCO untuk Reog, kolintang, dan kebaya.
Sanly Liu menyampaikan bahwa inspirasi rancangan gaun itu adalah Garuda, burung mitologis yang membawa Dewa Wisnu dan dijadikan sebagai lambang kekuatan, kebesaran, dan perlindungan ilahi.
Koleksi kebaya kreasinya memadukan batik Betawi dengan sentuhan Eropa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved