Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
SINEAS Ifa Isfansyah menyebut munculnya banyak sineas muda di industri perfilman membuat persaingan semakin kompetitif. Iklim kompetisi pun harus terus diciptakan.
"Bagi industri, semakin ada kompetisi semakin bagus. Justru kita harus ciptakan kompetisi," kata Ifa, Sabtu (2/12) di Yogyakarta.
Sebagai seorang sutradara, Ifa menilai, banyaknya sutradara-sutradara baru merupakan hal positif, seperti yang tampak dalam JAFF Netpac ke-18 di Yogyakarta. Dalam ajang festival film tersebut, ia mencatat ada 24 sutradara baru.
Baca juga: Ini Rahasia Practical Effect di Film 13 Bom di Jakarta
Menurut dia, sutradara-sutradara baru banyak yang berani membuat bentuk film yang tidak biasa. Mereka membuat dengan perspektif mereka dan itu menjadi baru.
Ifa menekankan, kompetisi harus terus diciptakan agar sineas-sineas yang sudah ada pun juga terus berusaha untuk meningkatkan kualitas mereka.
Oleh sebab itulah, JAFF selalu memberi ruang bagi sineas-sineas baru agar industri perfilman bisa semakin berkembang dan maju.
Baca juga: Laura Basuki Senang Bekerja Sama dengan Widyawati
Kalau tidak ada kompetisi, orang-orang akan kerja seenaknya karena akan tetap dipakai. Dengan kata lain, jika tidak ada kompetisi, film dengan kualitas jelek pun akan tetap dijual.
"Namun, kalau ada kompetisi, industrinya akan semakin maju dan film-film yang dihasilkan juga akan semakin berkualitas," papar dia.
Untuk industri perfilman di Indonesia, ia menilai saat ini sudah semakin baik. Pasalnya, setiap tahun pasti ada film-film baru yang diputar di festival-festival film besar.
Dari sisi penonton, bisnis film di Indonesia sudah kembali seperti sebelum masa pandemi. Hal tersebut berbeda dengan industri film di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat (AS), Korea, Tiongkok, India, ataupun Jepang, yang jumlah penonton di bioskop belum seperti sebelum pandemi.
Ifa, yang menjabat sebagai Direktur JAFF, menilai, dalam dunia perfilman, Asia memiliki maghnet tersendiri. Selain jumlah penduduknya yang besar, tema-tema film yang dihasilkan juga sangat beragam.
"Film-film Asia sekarang konteks ceritanya sangat kaya dan stoknya masih banyak yang belum dieksplore," kata dia.
Dalam JAFF ke-18 ini, tema yang dipilih The Luminescence (pendaran). Dengan tema itu, ia berharap, sinema Asia bisa memiliki kekuatan berpendar dan memberi semangat bagi perfilman dunia.
"Sinema Asia merefleksikan masyarakatnya dengan memancarkan keindahannya sendiri," papar dia.
Ifa mengatakan, JAFF ke-19 akan ada yang baru guna menggairahkan pasar perfilman, yaitu akan ada market untuk mengoneksikan antara sineas baru dengan industri.
"Tahun depan akan lebih terstruktur secara marketnya. Dengan ini, bakat baru dalam perfilman bisa dipertemukan dengan industri profesional, seperti pasar. Kita sedang merancangnya," tutup dia (Z-1)
JOGJA-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025 resmi berakhir pada Sabtu (6/12) dan meraih lebih dari 30.000 penonton. JAFF 2025 menayangkan 227 film dari 43 negara.
Film yang memiliki judul internasional Mad of Madness itu berkompetisi di program White Mulberry Award for Best Debut Feature
Samsara, film tanpa dialog berwarna hitam putih karya sutradara peraih beragam penghargaan nasional dan internasional, Garin Nugroho, akan membuka festival pada 30 November 2024.
J2024 ingin menggambarkan transformasi berkelanjutan sinema Asia dalam mencapai keunggulan, meski di tengah berbagai tantangan global.
Kursus ini gratis, bagi para pengguna KlikFilm yang telah berlangganan. Pun bagi para pencinta film yang ingin mengikuti kursus ini, cukup membeli paket langganan KlikFilm
“Saya harap ini dapat menjadi awal bukan saja diakuinya industri kreatif Indonesia, tetapi juga karya-karya kreatif dari Asia Tenggara."
Sambil menunggu bedug magrib, tayangan komedi dan petualangan ringan adalah pilihan terbaik untuk menghabiskan waktu, baik sendiri maupun bareng keluarga.
OJK denda influencer saham Rp5,35 miliar atas manipulasi harga lewat media sosial. Tiga pihak lain disanksi dalam kasus IMPC.
Bagi Bad Bunny, peran di film Porto Rico merupakan lompatan besar setelah sebelumnya hanya tampil sebagai pemeran pendukung dalam film Bullet Train dan Caught Stealing.
Selama Berlinale, yang berlangsung dari 13 hingga 22 Februari 2026, film Ghost In The Cell dijadwalkan naik layar sebanyak empat kali.
Na Willa bukan sekadar tontonan, melainkan undangan untuk merasakan kembali dunia yang dibangun dengan keberanian anak-anak.
Messi Gusti mengungkapkan perbedaan signifikan saat syuting menggunakan teknologi extended reality (XR) dibandingkan dengan metode motion capture biasa di film Pelangi di Mars.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved