Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
Kesenjangan relasi gender masih menjadi realitas sosial. Sistem patriarki membentuk cara berpikir dan struktur kekuasaan sejak lama. Sylvia Walby menjelaskan patriarki sebagai sistem yang memberi ruang dominasi pada laki-laki dan mendorong perempuan ke posisi subordinat.
Pola tersebut tidak hanya bekerja dalam ranah sosial dan politik, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat memandang alam. Cara pandang patriarki menempatkan alam sebagai objek yang bisa dikuasai dan dieksploitasi.
Logika yang sama bekerja pada perempuan. Keduanya diperlakukan sebagai sumber daya, bukan subjek yang memiliki hak dan suara. Dari sinilah relasi antara ketimpangan gender dan krisis lingkungan mulai terlihat jelas.
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan berada sangat dekat dengan alam. Mereka mengelola air, tanah, dan pangan untuk keberlangsungan keluarga. Kedekatan ini lahir dari pengalaman langsung, bukan dari konsep abstrak. Namun peran tersebut jarang diakui sebagai dasar legitimasi politik.
Perempuan tetap dianggap tidak layak terlibat dalam pengambilan keputusan pembangunan. Ketika eksploitasi lingkungan terjadi, perempuan menjadi kelompok pertama yang merasakan dampaknya. Kerusakan hutan mengganggu sumber pangan.
Pencemaran air menambah beban kerja dan risiko kesehatan. Perempuan harus menyesuaikan strategi bertahan hidup di tengah keterbatasan. Situasi ini sering dianggap sebagai urusan domestik, bukan persoalan struktural.
Perspektif ekofeminisme membantu melihat keterkaitan ini secara utuh. Penindasan terhadap perempuan dan perusakan alam bersumber dari ideologi yang sama. Ideologi tersebut memusatkan kuasa pada segelintir pihak dan menyingkirkan relasi yang setara.
Dalam kerangka itu, perjuangan perempuan menjaga lingkungan bukan isu pinggiran. Isu ini menyentuh inti keadilan ekologis dan sosial. Perempuan juga memiliki pengetahuan lokal yang terbentuk dari pengalaman panjang hidup bersama alam.
Pengetahuan itu sering bertabrakan dengan pendekatan pembangunan modern yang seragam dan berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Sayangnya, suara perempuan kerap dilabeli emosional. Penilaian ini melemahkan posisi mereka dan menutup peluang solusi yang lebih berkelanjutan.
Media dan ruang publik berperan besar dalam membentuk cara pandang tersebut. Selama narasi pembangunan terus menempatkan perempuan sebagai pihak pasif, ketimpangan akan terus direproduksi. Sebaliknya, ketika perempuan diposisikan sebagai subjek yang berdaya, perspektif kebijakan bisa bergeser.
Isu lingkungan selalu berkaitan dengan relasi kuasa. Selama patriarki masih menjadi dasar pengambilan keputusan, eksploitasi alam akan terus menemukan pembenaran. Menguatkan posisi perempuan berarti membuka jalan bagi pengelolaan lingkungan yang lebih
adil, lebih berkelanjutan, dan lebih berpihak pada kehidupan.
KETUA Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor menyebut salah satu faktor terhalangnya pelaporan kekerasan terhadap perempuan maupun anak karena masih terawatnya sistem patriarki di masyarakat.
Perayaan Hari Perempuan Internasional sangat penting untuk menyatukan pengalaman dalam memperjuangkan keadilan, kemerdekaan, melawan penindasan, dan ketidakadilan
LAKI-laki berperan sangat penting dalam penghapusan kekerasan gender dan upaya mewujudkan keadilan bagi kaum perempuan.
Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan disepakati untuk disahkan dalam Rapat Pembahasan Tingkat II Sidang Paripurna
TEMA peringatan Hari Perempuan Internasional 2024 (International Woman Day/IWD) pada 8 Maret 2024 ialah Berinvestasi pada perempuan: mempercepat kemajuan.
Jika pembungkaman terus dibiarkan, kita berisiko melahirkan generasi bungkam. Apatis, enggan terlibat, dan tumbuh di negara yang mengaku demokratis.
Yang kita butuhkan adalah Pancasila yang hidup dalam setiap klik, setiap unggahan, dan setiap interaksi digital kita.
Kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam melindungi generasi muda dari krisis kesehatan mental yang kian mengkhawatirkan.
Ancaman sering jadi alat menguasai kekuasaan. Selanjutnya, kebebasan sipil dibatasi. Oposisi dilabeli sebagai musuh negara.
Penataan ulang tata ruang, penegakan hukum terhadap perusak lingkungan, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan alam harus menjadi prioritas, bukan sekadar slogan.
Media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk membentuk pola pikir generasi muda ke arah yang positif jika digunakan dengan benar dan didukung oleh kesadaran kritis dan bimbingan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved