Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPUTUSAN pemerintah memberikan lahan seluas 20 ribu hektare di Aceh untuk konservasi gajah patut diapresiasi sebagai langkah strategis dalam upaya pelestarian satwa liar yang semakin terancam. Gajah Sumatra bukan hanya simbol kekayaan hayati Indonesia, melainkan juga indikator kesehatan ekosistem hutan yang kini terus terdesak oleh aktivitas manusia.
Dalam beberapa dekade terakhir, konflik antara manusia dan gajah meningkat tajam. Penyempitan habitat akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan, permukiman, dan infrastruktur telah memaksa gajah keluar dari wilayah jelajah alaminya.
Akibatnya, gajah kerap dianggap sebagai hama, sementara manusia berada di posisi paling rentan secara ekonomi dan keamanan. Dalam konteks ini, penyediaan kawasan konservasi yang luas menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan kebijakan.
Namun, pemberian lahan yang besar tidak otomatis menjamin keberhasilan konservasi. Tantangan terbesar justru terletak pada implementasi di lapangan. Apakah kawasan tersebut benar-benar aman dari perambahan? Apakah ada skema pengelolaan yang melibatkan masyarakat lokal? Dan yang tidak kalah penting, apakah konservasi ini dirancang sebagai upaya jangka panjang atau hanya simbol komitmen lingkungan?
Pengalaman menunjukkan bahwa konservasi yang mengabaikan masyarakat sekitar seringkali berujung konflik baru. Ketika akses masyarakat terhadap lahan dan sumber penghidupan dibatasi tanpa solusi alternatif, resistensi akan muncul. Oleh karena itu, konservasi gajah seharusnya tidak diposisikan sebagai proyek eksklusif negara, melainkan sebagai kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, akademisi, dan organisasi lingkungan.
Aceh memiliki karakter sosial dan ekologis yang khas. Kearifan lokal masyarakat setempat sebenarnya menyimpan potensi besar dalam menjaga keseimbangan alam. Sayangnya, pendekatan kebijakan seringkali bersifat top-down dan kurang sensitif terhadap dinamika lokal. Jika kawasan konservasi ini ingin berhasil, model pengelolaan berbasis komunitas perlu menjadi bagian utama, bukan pelengkap.
Selain itu, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci. Publik berhak mengetahui bagaimana lahan tersebut akan dikelola, sumber pendanaannya, serta indikator keberhasilan konservasi yang digunakan. Tanpa pengawasan yang jelas, kebijakan sebesar ini berisiko berhenti pada tataran wacana atau bahkan disalahgunakan.
Pada akhirnya, konservasi gajah bukan hanya soal menyelamatkan satu spesies, melainkan tentang bagaimana negara memandang relasi antara pembangunan dan lingkungan. Jika kebijakan ini dijalankan dengan serius, partisipatif, dan berkelanjutan, maka ia dapat menjadi preseden baik bagi konservasi satwa lain di Indonesia. Namun jika tidak, ia hanya akan menjadi catatan ambisius yang gagal menjawab persoalan mendasar di akar rumput.
Komitmen telah disampaikan. Kini, publik menunggu bukti nyata.
Proyek percontohan pertama untuk memobilisasi sumber pembiayaan baru ke dalam sistem taman nasional, dilakukan di Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung, Sumatra
KEMENTERIAN Kehutanan memperkuat perlindungan Gajah Sumatra yang kini berada dalam kondisi populasi kritis.
Kawasan itu juga bersinggungan dengan sejumlah perizinan seperti Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) Hutan Alam, PBPH Restorasi Ekosistem, HGU sawit, dan IUP tambang.
TAMAN Nasional Way Kambas (TNWK) mencatat kelahiran seekor anak gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) pada Rabu malam, 4 Desember 2025 pukul 23.25 WIB.
Populasi gajah Sumatra kini diperkirakan tidak lebih dari 1.100 ekor di 22 lanskap, dengan tren jangka panjang yang terus menurun akibat hilangnya habitat, fragmentasi hutan, konflik manusia–gajah, jerat, dan perburuan.
Jika pembungkaman terus dibiarkan, kita berisiko melahirkan generasi bungkam. Apatis, enggan terlibat, dan tumbuh di negara yang mengaku demokratis.
Yang kita butuhkan adalah Pancasila yang hidup dalam setiap klik, setiap unggahan, dan setiap interaksi digital kita.
Kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam melindungi generasi muda dari krisis kesehatan mental yang kian mengkhawatirkan.
Ancaman sering jadi alat menguasai kekuasaan. Selanjutnya, kebebasan sipil dibatasi. Oposisi dilabeli sebagai musuh negara.
Penataan ulang tata ruang, penegakan hukum terhadap perusak lingkungan, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan alam harus menjadi prioritas, bukan sekadar slogan.
Media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk membentuk pola pikir generasi muda ke arah yang positif jika digunakan dengan benar dan didukung oleh kesadaran kritis dan bimbingan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved