Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
SUMATRA tengah menghadapi ancaman kiamat ekologi yang sunyi namun mematikan. Penurunan drastis populasi gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang kini berada pada titik kritis di tahun 2026, ternyata berdampak langsung pada ketahanan pangan warga. Hilangnya sang penjaga hutan ini bukan hanya masalah konservasi satwa liar, melainkan terputusnya rantai pasokan ikan di sungai-sungai besar Sumatra.
Gajah Sumatra dikenal sebagai insinyur ekosistem terbaik di alam. Melalui aktivitas hariannya, kawanan gajah menciptakan kubangan besar atau lebung di rawa gambut. Lebung-lebung ini berfungsi sebagai lumbung ikan alami bagi masyarakat lokal, tempat ikan air tawar berkembang biak dan bertahan hidup saat musim kemarau panjang melanda.
Selain menciptakan hunian, gajah adalah penyedia pupuk organik bagi perairan. Seekor gajah dewasa mampu mengonsumsi hingga 150-200 kilogram vegetasi per hari. Kotoran yang dihasilkan menjadi bahan bakar utama bagi pertumbuhan alga dan fitoplankton di sungai. Tanpa fitoplankton yang melimpah, populasi ikan sungai akan mengalami kelaparan massal dan gagal berkembang biak.
Berdasarkan riset ekologi terbaru pada Februari 2026, wilayah yang mengalami kehilangan populasi gajah secara total mencatatkan penurunan stok ikan sungai yang signifikan. Nelayan tradisional di kawasan Ogan Komering Ilir (OKI) dan Riau melaporkan penurunan hasil tangkapan hingga lebih dari 60 persen dibandingkan dekade sebelumnya.
Kondisi ini memicu kerugian ekonomi yang masif bagi komunitas nelayan, dengan nilai kerugian mencapai miliaran Mata Uang Rupiah per tahun. Hilangnya gajah secara otomatis menghentikan siklus nutrisi alami yang selama ini menjaga keberlanjutan ekosistem sungai Musi dan sekitarnya.
| Aspek | Dampak Kehilangan Gajah |
|---|---|
| Habitat Ikan | Lebung mengering dan tertutup sedimen. |
| Rantai Makanan | Fitoplankton berkurang, ikan kekurangan pakan. |
| Ekonomi Nelayan | Pendapatan merosot tajam akibat gagal panen sungai. |
Krisis ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk melihat perlindungan gajah sumatra bukan sekadar isu estetika lingkungan, melainkan investasi ekonomi kerakyatan. Menyelamatkan gajah berarti menyelamatkan lumbung ikan Sumatra. (H-3)
Di saat Kemenhut giat menggalang dukungan internasional untuk konservasi gajah melalui inisiatif PECI, seekor gajah jantan produktif justru ditemukan mati terpenggal.
Seekor gajah jantan dewasa berusia sekitar 40 tahun ditemukan mati mengenaskan dengan kondisi kepala terpotong di area konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), Pelalawan, Riau.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Kementerian Kehutanan, jumlah populasi gajah sumatra di Pulau Sumatra kini hanya tersisa sekitar 1.100 ekor.
Populasi gajah Sumatra kini diperkirakan tidak lebih dari 1.100 ekor di 22 lanskap, dengan tren jangka panjang yang terus menurun akibat hilangnya habitat, fragmentasi hutan, konflik manusia–gajah, jerat, dan perburuan.
WWF mencatat populasi gajah terus menurun akibat deforestasi masif dan hilangnya habitat.
Di saat Kemenhut giat menggalang dukungan internasional untuk konservasi gajah melalui inisiatif PECI, seekor gajah jantan produktif justru ditemukan mati terpenggal.
Seekor gajah jantan dewasa berusia sekitar 40 tahun ditemukan mati mengenaskan dengan kondisi kepala terpotong di area konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), Pelalawan, Riau.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Kementerian Kehutanan, jumlah populasi gajah sumatra di Pulau Sumatra kini hanya tersisa sekitar 1.100 ekor.
WALHI Riau mengecam keras kematian seekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan di areal konsesi PT RAPP, Pelalawan.
Kementerian Kehutanan memanggil jajaran direksi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) untuk dimintai keterangan terkait kematian seekor gajah sumatra.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved