Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan segera memperketat ketentuan kepemilikan saham publik dengan menaikkan batas minimal free float dari 7,5% menjadi 15%. Kebijakan ini ditargetkan mulai berlaku pada Februari 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menegaskan, aturan baru tersebut akan diterbitkan dalam waktu dekat oleh Self Regulatory Organization (SRO), disertai mekanisme penyesuaian yang transparan bagi seluruh emiten.
“SRO akan segera menerbitkan aturan free float minimal 15 persen, dengan transparansi yang baik serta masa penyesuaian tertentu bagi emiten,” kata Mahendra dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis.
OJK menegaskan kebijakan ini bukan sekadar imbauan. Emiten yang tidak mampu memenuhi ketentuan minimal free float akan menghadapi konsekuensi serius berupa penerapan exit policy atau kebijakan keluar dari bursa.
Mahendra menekankan bahwa aturan ini bersifat wajib dan berlaku untuk seluruh perusahaan tercatat, baik emiten lama maupun perusahaan yang akan melakukan Initial Public Offering (IPO).
“Esensinya, angka 15 persen ini berlaku menyeluruh,” ujarnya.
Langkah pengetatan ini juga menjadi bagian dari respons regulator terhadap perhatian Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang sebelumnya menyoroti struktur free float saham Indonesia dalam evaluasi global.
Mahendra memastikan OJK akan menyelesaikan seluruh proses penyesuaian hingga tuntas, termasuk memenuhi ekspektasi MSCI terkait keterbukaan data kepemilikan saham.
“Apapun respons MSCI, jika diperlukan akan dilaksanakan sampai final sehingga diterima sesuai maksud MSCI,” tegasnya.
Dalam konteks permintaan tambahan MSCI, khususnya terkait kemungkinan keterbukaan data pemegang saham di bawah 5 persen beserta kategori investor dan struktur kepemilikannya, OJK menyatakan komitmen mengikuti standar praktik internasional terbaik.
“Kami komitmen akan melakukannya sesuai best practice international,” kata Mahendra.
Sebagaimana diketahui, MSCI telah mengumumkan hasil konsultasi global mengenai evaluasi free float saham Indonesia. Isu ini langsung menjadi perhatian utama pelaku pasar, terutama investor global yang menilai aksesibilitas pasar domestik masih perlu diperkuat.
Sebagian investor internasional menyambut positif rencana pemanfaatan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan KSEI sebagai referensi tambahan. Namun mayoritas masih meragukan akurasi klasifikasi pemegang saham dalam laporan tersebut.
Investor menilai data yang tersedia belum sepenuhnya mencerminkan struktur kepemilikan sebenarnya, sehingga menimbulkan keraguan dalam menghitung besaran free float saham Indonesia secara objektif.
Sebagai informasi, free float adalah jumlah saham perusahaan yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas oleh publik. Ketentuan ini menjadi salah satu indikator penting bagi likuiditas pasar dan penilaian investor internasional.
Saat ini, batas minimal free float emiten di Indonesia masih berada di angka 7,5%, namun mulai Februari 2026 ketentuan tersebut akan naik signifikan menjadi 15%. (Z-10)
Mengapa KSEI buka data pemilik saham 1%? Simak hubungan kebijakan ini dengan ancaman penurunan status Indonesia oleh MSCI ke Frontier Market.
KSEI dan BEI resmi buka data pemilik saham di atas 1% mulai 3 Maret 2026. Cek jadwal, cara akses, dan aturan baru free float 15% di sini.
KSEI dan BEI resmi buka data pemilik saham di atas 1% mulai 3 Maret 2026. Cek jadwal, cara akses, dan aturan baru OJK di sini.
Ketidaksinkronan antara data administratif dan realitas pasar ini menjadi salah satu alasan mengapa lembaga internasional mulai mempertanyakan kredibilitas tata kelola ekonomi nasional.
BUMI awal 2026 krusial, CIC tinggal 2,81% usai divestasi, free float 41,31% dongkrak likuiditas. Target 330-344, stop loss 250; volume kunci. Waspadai koreksi MSCI!!
Hasil rebalancing MSCI Februari 2026 resmi dirilis. INDF turun kelas ke Small Cap, sementara ACES dan CLEO keluar dari indeks. Cek jadwal efektifnya
IHSG ditutup menguat 1,41% ke level 7.440,91 pada 10 Maret 2026. Dipicu koreksi harga minyak global dan data penjualan ritel domestik yang melonjak 5,7%.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, dibuka menguat mengikuti pergerakan bursa global.
IHSG Kamis pagi (5/3/2026) dibuka menguat 118,29 poin ke level 7.695,35. Simak analisis teknikal, kurs Rupiah terbaru, dan rekomendasi saham pilihan di sini.
IHSG ditutup melemah tajam 4,57% ke level 7.577 pada Rabu (4/3/2026). Kombinasi revisi outlook Fitch Ratings ke negatif dan konflik Timur Tengah picu capital outflow masif.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, bukan karena sentimen domestik.
INDEKS Harga Saham Gabungan atau IHSG 2 Maret 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah di kawasan Asia. IHSG ditutup melemah 218,65 poin atau 2,66 persen ke posisi 8.016,83.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved